• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Zulidahlan   (1939-1971)
Kategori: Pengarang Sastra

 

Zulidahlan pengarang dan aktivis teater kota Kudus lahir di Demangan, Kudus, Jawa Tengah pada tanggal 2 Agustus 1939 dan meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda bagi perjalanan karier seorang pengarang pada tanggal 19 Januari 1971 di kota kelahirannya, Kudus. Kabarnya, pengarang ini gemar membanggakan dirinya sebagai orang di bawah naungan zodiak Aries.

Seluruh masa hidup Zulidahlan diabdikannya untuk bidang kesenian, terutama sastra dan teater. Sebagai seorang pemuda Islam ia terkenal sebagai penggerak utama Himpunan Seniman Budayawan Islam (HSBI) di kota Kudus.

Di kota Kudus tempat tinggalnya, penulis cerpen ini bukan saja menulis naskah lakon, melainkan sering pula menyutradarai pementasan drama, antara lain lakon-lakon karyanya sendiri, seperti "Matahari Senja", "Tidak untuk Orang Lain", dan "Tamara dan Ibrahim". Dia juga mementaskan lakon-lakon tulisan orang lain. Dia pernah memperoleh kesempatan untuk main di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan hasil pementasannya dinilai tidak mengecewakan. Sepeninggal ia, kegiatan berteater di Kudus tidak terdengar lagi.

Zulidahlan pertama kali mengumumkan karyanya berupa sebuah puisi berjudul "Marhaban ya Muhammad" yang dimuat dalam majalah Gelora Nomor 25/III pada tahun 1962. "Kita Semua Adalah Miliknya" yang dimuat dalam majalah Tjerpen No. 2/II pada tahun 1967. Sebagai seorang sastrawan Zulidahlan menulis sajak, cerita pendek, dan drama. Namun, karena fakta yang nyata berdasarkan hasil pencatatan Kratz dalam bukunya Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah (1988) menunjukkan bahwa hanya karya berupa cerita pendeklah tulisan terbanyak yang dihasilkan Zulidahlan, orang-orang mengenalnya sebagai seorang cerpenis. Cerita pendeknya memang tersebar dalam majalah-majalah yang terbit di Jakarta, antara lain dalam majalah Sastra, Tjerpen, dan Horison. Salah satu di antara cerpennya, yaitu "Maka Sempurnalah Penderitaan Saya di Muka Bumi Ini" masuk dalam antologi Laut Biru Langit Biru (1977, Ajip Rosidi). Cerpen tersebut semula dimuat dalam majalah Horison pada tahun 1967. Cerpen itu pula pada tahun 1973 telah menarik perhatian seorang pengamat kesusastraan Indonesia berkebangsaan Prancis Henri Chambert-Loir untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis menjadi "Totale est maintenant ma douleur eu la monde" yang dimuat dalam D' Archipel Volume 11 tahun 1980, halaman 165--169. Pengakuan atas kepengarangan Zulidahlan diperkuat pula dengan masuknya salah satu karya cerita pendeknya yang berjudul "Kita Semua Adalah Miliknya" ke dalam antologi Cerita Pendek Indonesia 4 (Satyagraha Hoerip, 1984). Cerpen tersebut semula dipublikasikan dalam majalah Tjerpen No. 2/II, November 1967. Karya-karya Zulidahlan, antara lain, adalah Cerpen "Kita Semua adalah Miliknya", Tjerpen No. 2/II (1967) hlm. 3—5, "Maka Sempurnalah Penderitaan Saya di Muka Bumi Ini", Horison No. 3/II (1967) hlm. 72—74, "Mas Kawin bagi Istriku", Horison No. 10/II (1967) hlm. 302—305, "Sepasang Sepatu Anak", Gema Islam No. 92/V (1967) hlm. 23--24, 26, 35, "Ulang Tahun", Tjerpen No. 9/I (1967) hlm. 3--6, 30, "Kita hanya Bisa Menunggu, Cucuku", Sastra No. 5/VI (1968) hlm. 16—17, "Perburuan", Horison No. 5/III (1968) hlm. 135—137, "Selalu setiap pagi ia menyapa dengan lembut", Sastra No. 1/VII (1969) hlm. 27—28, "Tidak untuk Orang Lain", Sastra No 5/VII (1969) hlm. 7—9, "Perangku melawan serombongan", Horison No. 6/VI (1971) hlm. 181—182. Puisi "Marhaban ya Muhammad", Gelora No. 25/III (1962) hlm. 23, "Sawan", Basis No. 2/XVI (1966) hlm. 48. Drama "Matahari Senja", "Tidak untuk Orang Lain", dan "Tamara dan Ibrahim".

 
PENCARIAN TERKAIT