• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Triyanto Triwikromo   (1964-...)
Kategori: Pengarang Sastra

 
 

Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan putra dari pasangan Mardino dan Mardiyah yang lahir di Pungkur Sari, Salatiga, tepatnya tanggal 15 September 1964. Masa pendidikannya dilewatkan di Salatiga (SD, SMP, SMA) dan di Semarang (Universitas Negeri Semarang). Sastrawan satu ini masih tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Diponegoro (Undip) Program Ilmu Kesusastraan, tahun 2007. Ia menikah dengan Wiwik Triastuti dan mereka dikarunia tiga anak, yaitu Primaera Restu Wingit Anjani, Sanrez Adami, dan Ibrah Fastabiqi. Bersama keluarganya ia menetap di Semarang, tepatnya Jalan Ebony A-45, Plamongan Indah.

Motivasi awal ia menulis adalah untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan menulis ia merasa bebas mengungkapkan segala problem yang ada dalam kehidupan. Ia memperoleh kemampuan menulis secara autodidak dan ditunjang pendidikan secara formal (SD—Universitas) dan informal (penataran dan pelatihan). Ia pernah mendapatkan Pelatihan Pendidikan Jurnalisme Sastra dan Pendidikan Jurnalisme Investigasi.

Ia pernah menjadi guru SD di Salatiga (1985) dan selanjutnya ia merantau ke Jakarta bekerja di sebuah diskotik sebagai supervisor (1990—1991). Pekerjaan itu hanya setahun dijalaninya dan ia kembali ke Semarang menjadi wartawan Suara Merdeka sejak 1994. Ia juga pernah menjadi Ketua Komite Sastra, Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), tahun 2007. Kini, di samping bekerja sebagai redaktur sastra di harian Suara Merdeka, ia juga menulis cerpen di harian Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, dan Republika.

Selain menulis cerpen dan puisi, Triyanto juga kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater Indonesia 1988 di Yogyakarta, mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997 di Padang, dan menjadi aktivis Gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman.

Tahun 1989 ia dinobatkan menjadi Penyair terbaik versi majalah Gadis. Kumpulan cerpennya, antara lain adalah Rezim Seks (1997), dan Ragaula (2002). Bersama cerpenis Herlino Soleman ia menerbitkan kumpulan cerpen Pintu Tertutup Salju (2000). Di samping itu, antologi bersama cerpenis lain dalam Ritus (1995), Negeri Bayang-bayang (1996), Gerbong: Antologi Puisi dan Cerpen Indonesia Modern (1998), Children Sharpening the Knives (2003) kumpulan cerpen dalam dwibahasa (Inggris-Indonesia) terjemahan dari karyanya Anak-anak Mengasah Pisau.

Triyanto yang oleh Korrie Layun Rampan dikategorikan ke dalam Angkatan 2000 ini juga menerbitkan kumpulan cerpennya dengan judul Sayap Anjing (2003) yang merupakan kumpulan cerpennya di berbagai harian surat kabar (1996—2003). Triyanto dengan kreativitasnya dalam berkarya banyak mengundang komentar para sastrawan lain dan para kritikus. Berbagai tanggapan tentang karyanya membuat Triyanto semakin matang dalam mengelola penderitaannya menjadi sebuah karya sastra. seperti yang dikemukakan oleh Darmanto Yatman bahwa cerpen Triyanto merupakan dekonstruksi terhadap ideologi keindahan cerpen konvensional. Triyanto adalah nama baru yang bersinar di dunia cerpen. Afrizal Malna mengatakan bahwa Triyanto memperlakukan cerpen sebagai media ekspresi puitika ke ruang prosa dengan berbagai kemungkinan medan teks yang didekonstruksikan dan diciptakan kembali. Kekerasan dan seks sangat mewarnai cerpennya. Kerusakan-kerusakan sosial bukan lagi berita, tetapi telah menjadi bagian dari fenomena ketubuhan. Tingginya tingkat perusakan yang terjadi pada cerpen-cerpen Triyanto, membuat cerpen-cerpennya mirip tubuh penuh tato yang menggambarkan berbagai teks tentang kekerasan. Cerpen menjadi medan tato dengan risiko-risiko sosial yang perih ditorehkan di sini.

Prof. Dr. Th. Sri Rahayu Prihatmi memberikan komentar bahwa ketidakpastian cerita rekaan (Triyanto) ini justru merupakan salah satu ciri cerita rekaan yang menggunakan modus fantastik, yakni satu cara ungkap yang merongrong tradisi sastra yang mapan. Isinya pun sering kali merupakan penumbangan budaya mapan.

 
PENCARIAN TERKAIT