• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Teguh Esha   (1947-...)
Kategori: Pengarang Sastra

 
 

Teguh Esha nama sebenarnya Teguh Slamet Hidayat Adrai dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timur, 8 Mei 1947. Pernah menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Departemen Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Ketua IMADA (Ikatan Mahasiswa Jakarta) tahun 1973—1975, Wakil Sekretaris Jendral SOMAL (Sekretariat bersama organisasi- organisasi mahasiswa lokal di Indonesia) tahun 1975—1976, Pemimpin Redaksi Majalah Hiburan Khusus Le Laki.

Dia melonjak namanya ketika novelnya yang pertama Ali Topan, Anak Jalanan diterbitkan. Dengan sikapnya yang bebas, gaya bahasanya yang kuat dan orisinil, pembangunan watak yang berhasil dan pengetahuannya tentang kehidupan serta aspirasi golongan muda metropolitan yang otentik, mengakibatkan Teguh Esha dikenal sebagai salah seorang penulis yang menonjol pada tahun 70-an.

Ayahnya, Achmad Adrai, seorang tukang listrik, meninggal ketika Teguh Esha berusia empat tahun. "Sejak itulah Ibu merangkap jadi bapak," tutur Teguh, anak ketujuh dari delapan bersaudara itu.

Tahun 1959 ibunya, Wilujeng A. Adrai, dengan alasan "demi pendidikan anak-anak," mengajak Teguh dan saudara-saudaranya pindah dari Bangil, Jawa Timur, ke Jakarta. Pada usia belasan tahun di Jakarta itu, Teguh merasakan "masa tantangan hidup". Dia dan kakak atau adiknya harus menjajakan pakaian anak-anak yang dijahit ibunya ke Pasar Tanah Abang, atau menjual kantung kertas ke beberapa toko di situ. Dalam kehidupan yang sulit dan keras itu, ibunya menetapkan tujuan, yaitu "paling tidak anak-anak harus lulus SMA," cerita Teguh. Upaya itu berhasil. Bahkan salah seorang adik perempuan Teguh, yang bungsu, lulus dari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) dan kemudian menjadi dosen di situ.

"Sampai mati pun saya akan mengenang kegigihan ibu saya. Beliau wanita mulia, sangat memperhatikan pendidikan, moral, dan agama," kata Teguh bersemangat. Karena itu ia mengakui kebanyakan novelnya membicarakan soal agama dan moral. "Karena pengaruh Ibu," ia menambahkan.

Novel Teguh yang sudah terbit adalah Ali Topan (1977), Ali Topan Detektif Partikelir (1978), Dewi Beser (1979), Dari Januari sampai Desember (1980), Izinkan Kami Bercinta (1981), Anak Gedongan (1981), Dan Penembak Bintang (1981). Dua novel yang pertama sudah difilmkan.

Salah satu ciri novelnya adalah penggunaan bahasa prokem, bahasa slang yang konon berasal dari orang-orang tahanan, yang kemudian menjadi bahasa slang anak muda Jakarta. Teguh mulai menulis novel tahun 1969. Kakaknya, Djoko Prayitno, redaktur majalah Sonata, ikut andil dalam perjalanan karier Teguh sebagai penulis. "Dia yang menganjurkan saya untuk selalu menulis, apa saja," katanya mengenangkan.

Dengan alasan ingin berdiri sendiri, tidak terikat dengan suatu badan penerbit milik orang lain, Teguh pada tahun 1981 mendirikan Ali Topan Press. Beberapa orang pegawainya adalah bekas orang bui yang dikenal Teguh dan telah memberinya andil dalam penulisan bahasa prokem.

Menulis bagi Teguh adalah karena, "saya perlu uang". Tahun 1979 ia menikahi Ratnaningiah Indrawati Brotodihardjo, cucu Suratin, pendiri PSSI.

 
PENCARIAN TERKAIT