• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Sunaryono Basuki Koesnosoebroto   (1941-...)
Kategori: Pengarang Sastra

 
 

Sunaryono Basuki Koesnosoebroto adalah sastrawan dengan karyanya yang berjudul Dadong Sandat. Dia lahir dari keluarga guru di Kepanjen, Malang, 9 Oktober 1941.

Pendidikan terakhirnya lulus IKIP Malang kemudian memperdalam pengetahuannya ke Inggris. Dia bekerja di STKIP Singaraja sebagai Guru Besar Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni serta menjadi pemimpin redaksi majalah Bukitmanis (1957—1959), majalah Dian dan Suara (SMAN I Malang, 1958—1959), dan majalah Aneka Widya (FKIP UNUD, 1983—1990). Sunaryono Basuki juga menjadi koresponden majalah Caraka (1971—1975) dan Sarinah (1985—sekarang). Dia pernah menjadi kolumnis tetap harian Suara Karya (1988), Bali Post (1989—1990), Suara Pembaruan (1990—1994), dan menulis kolom tidak tetap pada majalah Sarinah, majalah Bursa Konsumen, Editor, dan harian Republika.

Ia mulai belajar mengarang sejak tahun 1953 ketika laporan perjalanannya dimuat dalam majalah Mingguan Anak-Anak yang terbit di Jakarta. Sunaryono Basuki mendapat bimbingan dari Pak Riedwan, guru Taman Siswa yang menjadi pengasuh ruang anak-anak harian Suara Masyarakat yang terbit di Malang. Sejak tahun 1957, ia belajar mengarang dan teater dari Emil Sanossa yang mengasuh "Keloster" (Kelompok Studi Teater) di Malang.

Lebih dari sepuluh kali ia menerima hadiah lomba menulis cerpen, novelet, novel, antara lain dari majalah Sarinah, femina, Kartini, dan harian Suara Merdeka antara tahun 1983—1989. Ia memenangi lomba menulis artikel Senimania Republika. Dia mendapat Hadiah I untuk penulisan esai sastra terbaik yang dimuat di surat kabar ibu kota tahun 1992 oleh Pusat Bahasa. Sunaryono Basuki juga masih aktif menulis kolom khusus harian Suara Pembaruan di Jakarta.

Bukunya yang telah terbit Scarf Merah Hati (Rosda, 1986), Hunus (Balai Pustaka, 1991), Siti Nurjanah (BP, 1993), Maut di Pantai Lovina (Gramedia, 1993), Di Sudut Hyde Park (BP, 1994), Dadong Sandat (BP, 1994, cetak ulang pada tahun 2000), Ompong (Grafikatama, 1995), Bumi Hangus (Pustaka Jaya) dan Rangda (Indonesia Tera, 2001), Peter Hilang (Balai Pustaka, 2001), Topeng Jaro Kebut (2001).

Dia juga menerjemahkan sejumlah buku, antara lain, Rumahku di Sorga karya Ryunosuke Akutagawa (Balai Pustaka, 1996) dan Surat Wasiat Rabindranath Tagore (Upada Sastra, 1998). Sunaryono Basuki menyunting beberapa kumpulan sajak, antara lain Matabunga karangan Yudhi Ms. (2000). Puisinya dimuat dalam berbagai antologi puisi, antara lain dalam On the Verandah terbitan Cambridge University Press, 1995.

 
PENCARIAN TERKAIT