• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Moh. Wan Anwar   (1970-2009)
Kategori: Pengarang Sastra

 
 

Moh. Wan Anwar dikenal sebagai seorang penyair. Ia dilahirkan di Cianjur pada tahun 1970.

Saat menjadi mahasiswa IKIP Bandung (sekarang) UPI, ia aktif dalam berbagai kegiatan pers mahasiswa. Bersama teman-temannya, ia mendirikan Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) di IKIP Bandung pada tahun 1991.

Moh. Wan Anwar menamatkan pendidikan S2 Ilmu Sastra di Universitas Indonesia. Sehari-harinya ia mengajar di FKIP Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa dan redaktur majalah Horison dalam rubrik "Kakilangit". Ia menetap di Serang, Banten.

Wan Anwar juga aktif di berbagai kegiatan sastra. Berkali-kali ia menjadi pembicara atau peserta dalam seminar kesastraan, misalnya, ia sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Sastra Indonesia yang diadakan Forkomnas Mahasiswa Sastra Indonesia, mulai dari Universitas Bung Hatta Padang (1991), UNAIR di Surabaya (1993), STKIP Gorontalo (1995), dan UNS Solo (1996).

Kegiatan yang berkaitan dengan tulis-menulis sajak dilakukannya sejak tahun 1990. Sajak-sajaknya dipublikasikan dalam berbagai media massa cetak, seperti di Pikiran Rakyat asuhan Saini KM, Bandung Pos dan Mitra Budaya asuhan Suyatna Anirun, Mingguan Hikmah, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Kompas (dalam rubrik "Bentara"), Koran Tempo, dan majalah sastra Horison

Sejumlah puisi Wan Anwar terkumpul dalam beberapa antologi, seperti Rumah Kita (ASAS) tahun 1994, Malam 1000 Bulan (FSB) tahun 1997, Antologi Penyair Bandung, Antologi Puisi Indonesia (KSI) tahun 1997, Transendensi Waktu tahun 1996, Angkatan 2000 (Gramedia) tahun 2000, dan Horison Sastra Indonesia; Kitab Puisi (Horison) tahun 2002, dan antologi puisi tunggalnya berjudul Sebelum Senja Selesai yang diterbitkan di Banten oleh penerbit Imaji Indonesia pada tahun 2002.

Maman S. Mahayana dkk. (2002) menyatakan bahwa Wan Anwar adalah seorang penyair yang barangkali "sengaja" memilih jalurnya sendiri secara agak lain. Dikatakan agak lain karena penyair ini tidak hendak membangun suasana peristiwa dalam sajak-sajaknya, tetapi membangun suasana kegelisahannya sendiri; suasana batin yang berkecenderungan sangat individual ketika berhadapan dengan pengalaman eksistensial. Meskipun ia berusaha menyodorkannya melalui pencitraan alam sebagai alat melakukan analogi, kegalauan individual itu benar-benar menjadi sangat personal dan ia tidak menariknya pada problem sosio-kultural. Segalanya seperti dipulangkan kembali kepada diri yang sedang dalam proses mencari. Jadilah yang muncul ibarat potret dirinya dalam proses itu.

Maman menyimpulkan bahwa cara pengucapan Wan Anwar yang seperti itu sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Kegelisahan individual yang dikemas secara abstrak dalam bentuk penghadiran suasana, telah dirintis Ajip Rosidi dalam sejumlah besar puisinya. Dodong Djiwapraja juga tergolong pengusung puisi suasana semacam itu. Moh. Wan Anwar meninggal dunia pada tanggal 23 November 2009 di Banten.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Dewan Kesenian Lampung
    Dewan Kesenian Lampung merupakan lembaga yang menjadi penghubung antara Pemerintah Daerah Lampung dengan seniman Lampung. Pembentukan lembaga ini merupakan tindak lanjut instruksi Menteri Dalam ...
  • Lawangan
    Provinsi Kalimantan Tengah Bahasa Lawangan dituturkan oleh masyarakat di Desa Ampah Dua, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Selain di Kalimantan Tengah, ...
  • Lawangan
    Provinsi Kalimantan Selatan Bahasa Lawangan dituturkan oleh masyarakat di Desa Dambung Raya, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Menurut pengakuan penduduk, selain di ...
  • Minahasa Tonsawang
    Provinsi Sulawesi Utara Bahasa Minahasa Tonsawang dituturkan oleh masyarakat di Desa Pontak, Kecamatan Ranoyapo dan Desa Liandok, Kecamatan Tompaso Baru, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi ...
  • Dawan
    Provinsi Nusa Tenggara Timur Bahasa Dawan (Timor) dituturkan di Kabupaten Kupang, Kabupaten Ambenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penutur bahasa Dawan (Timor) ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Moh. Wan Anwar   (1970-2009)
    Kategori: Pengarang Sastra

     
     

    Moh. Wan Anwar dikenal sebagai seorang penyair. Ia dilahirkan di Cianjur pada tahun 1970.

    Saat menjadi mahasiswa IKIP Bandung (sekarang) UPI, ia aktif dalam berbagai kegiatan pers mahasiswa. Bersama teman-temannya, ia mendirikan Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) di IKIP Bandung pada tahun 1991.

    Moh. Wan Anwar menamatkan pendidikan S2 Ilmu Sastra di Universitas Indonesia. Sehari-harinya ia mengajar di FKIP Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa dan redaktur majalah Horison dalam rubrik "Kakilangit". Ia menetap di Serang, Banten.

    Wan Anwar juga aktif di berbagai kegiatan sastra. Berkali-kali ia menjadi pembicara atau peserta dalam seminar kesastraan, misalnya, ia sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Sastra Indonesia yang diadakan Forkomnas Mahasiswa Sastra Indonesia, mulai dari Universitas Bung Hatta Padang (1991), UNAIR di Surabaya (1993), STKIP Gorontalo (1995), dan UNS Solo (1996).

    Kegiatan yang berkaitan dengan tulis-menulis sajak dilakukannya sejak tahun 1990. Sajak-sajaknya dipublikasikan dalam berbagai media massa cetak, seperti di Pikiran Rakyat asuhan Saini KM, Bandung Pos dan Mitra Budaya asuhan Suyatna Anirun, Mingguan Hikmah, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Kompas (dalam rubrik "Bentara"), Koran Tempo, dan majalah sastra Horison

    Sejumlah puisi Wan Anwar terkumpul dalam beberapa antologi, seperti Rumah Kita (ASAS) tahun 1994, Malam 1000 Bulan (FSB) tahun 1997, Antologi Penyair Bandung, Antologi Puisi Indonesia (KSI) tahun 1997, Transendensi Waktu tahun 1996, Angkatan 2000 (Gramedia) tahun 2000, dan Horison Sastra Indonesia; Kitab Puisi (Horison) tahun 2002, dan antologi puisi tunggalnya berjudul Sebelum Senja Selesai yang diterbitkan di Banten oleh penerbit Imaji Indonesia pada tahun 2002.

    Maman S. Mahayana dkk. (2002) menyatakan bahwa Wan Anwar adalah seorang penyair yang barangkali "sengaja" memilih jalurnya sendiri secara agak lain. Dikatakan agak lain karena penyair ini tidak hendak membangun suasana peristiwa dalam sajak-sajaknya, tetapi membangun suasana kegelisahannya sendiri; suasana batin yang berkecenderungan sangat individual ketika berhadapan dengan pengalaman eksistensial. Meskipun ia berusaha menyodorkannya melalui pencitraan alam sebagai alat melakukan analogi, kegalauan individual itu benar-benar menjadi sangat personal dan ia tidak menariknya pada problem sosio-kultural. Segalanya seperti dipulangkan kembali kepada diri yang sedang dalam proses mencari. Jadilah yang muncul ibarat potret dirinya dalam proses itu.

    Maman menyimpulkan bahwa cara pengucapan Wan Anwar yang seperti itu sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Kegelisahan individual yang dikemas secara abstrak dalam bentuk penghadiran suasana, telah dirintis Ajip Rosidi dalam sejumlah besar puisinya. Dodong Djiwapraja juga tergolong pengusung puisi suasana semacam itu. Moh. Wan Anwar meninggal dunia pada tanggal 23 November 2009 di Banten.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Dewan Kesenian Lampung
    Dewan Kesenian Lampung merupakan lembaga yang menjadi penghubung antara Pemerintah Daerah Lampung dengan seniman Lampung. Pembentukan lembaga ini merupakan tindak lanjut instruksi Menteri Dalam ...
  • Lawangan
    Provinsi Kalimantan Tengah Bahasa Lawangan dituturkan oleh masyarakat di Desa Ampah Dua, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Selain di Kalimantan Tengah, ...
  • Lawangan
    Provinsi Kalimantan Selatan Bahasa Lawangan dituturkan oleh masyarakat di Desa Dambung Raya, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Menurut pengakuan penduduk, selain di ...
  • Minahasa Tonsawang
    Provinsi Sulawesi Utara Bahasa Minahasa Tonsawang dituturkan oleh masyarakat di Desa Pontak, Kecamatan Ranoyapo dan Desa Liandok, Kecamatan Tompaso Baru, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi ...
  • Dawan
    Provinsi Nusa Tenggara Timur Bahasa Dawan (Timor) dituturkan di Kabupaten Kupang, Kabupaten Ambenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penutur bahasa Dawan (Timor) ...
  • Dewan Kesenian Lampung
    Dewan Kesenian Lampung merupakan lembaga yang menjadi penghubung antara Pemerintah Daerah Lampung dengan seniman Lampung. Pembentukan lembaga ini merupakan tindak lanjut instruksi Menteri Dalam ...
  • Lawangan
    Provinsi Kalimantan Tengah Bahasa Lawangan dituturkan oleh masyarakat di Desa Ampah Dua, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Selain di Kalimantan Tengah, ...
  • Lawangan
    Provinsi Kalimantan Selatan Bahasa Lawangan dituturkan oleh masyarakat di Desa Dambung Raya, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Menurut pengakuan penduduk, selain di ...
  • Minahasa Tonsawang
    Provinsi Sulawesi Utara Bahasa Minahasa Tonsawang dituturkan oleh masyarakat di Desa Pontak, Kecamatan Ranoyapo dan Desa Liandok, Kecamatan Tompaso Baru, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi ...
  • Dawan
    Provinsi Nusa Tenggara Timur Bahasa Dawan (Timor) dituturkan di Kabupaten Kupang, Kabupaten Ambenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penutur bahasa Dawan (Timor) ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa