• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

    Revitalisasi Bahasa Daerah

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Marianne Katoppo   (1943-2007)
Kategori: Pengarang Sastra

 
 

Marianne Katoppo pengarang wanita yang nama lengkapnya Henriette Marianne Katoppo dan terkenal dengan novelnya Raumanen (1977) ini lahir tanggal 9 Juni 1943 di Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia meninggal pada 12 Oktober 2007. Ia berasal dari keluarga yang gemar membaca. Ayahnya, Elvianus Katoppo, selain pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Negara Indonesia Timur pada zaman Republik Indonesia Serikat (RIS) juga merupakan salah seorang penyusun naskah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, tokoh gereja Indonesia Barat, dan pensiunan pegawai tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ibunya bernama Agnes Rumokoij.

Marianne Katoppo adalah anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Salah seorang kakaknya, Aristides Katoppo, adalah seorang wartawan (mantan pimpinan Sinar Harapan). Marianne penganut agama Kristen Protestan yang taat ini tampak dari bidang pekerjaan dan pendidikannya. Dia menamatkan sekolah rakyat (SR) di Jakarta tahun 1954, sekolah menengah pertama (SMP) di Jakarta tahun 1957, sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta tahun 1960. Setelah memperoleh gelar sarjana muda dari Sekolah Tinggi Theologia, Jakarta tahun 1963, ia melanjutkan pendidikannya ke International Christian University, Tokyo, tahun 1964, dan Shingakuhbu Doshisha Daigaku (sekolah theologia), Kyoto tahun 1965. Tahun 1974 ia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Theologia, Jakarta, dan memperoleh gelar sarjana S-1 tahun 1977. Selanjutnya, ia mengikuti Program Pascasarjana di Institut Oecumenique Bossey, Swiss (1978—1979). Dia menguasai 12 bahasa asing, dua diantaranya bahasa Yunani dan Ibrani.

Dia pernah bekerja di British and Foreign Bible Society, London (1966—1969), di AB Svenska Pressbyran, Stockholm (Sweia) sambil mengikuti kursus malam di Universitas Stock-holm (1970—1974). Tahun 1981 ia berangkat ke Vancouver untuk memenuhi undangan Ecumenial Forum of Canada sekaligus menjadi bintang tamu di beberapa sekolah tinggi teologi di Vancouver, Saskatoon, Winnipeg, Toronto, dan Ottawa. Pada tahun 1984 ia bekerja sebagai editor di Yayasan Obor Indonesia di samping sebagai penasihat di beberapa gereja internasional.

Bakatnya dalam karang-mengarang tampak sejak ia masih kanak-kanak. Ketika berumur 4 tahun, ia merasa iri kepada kakaknya, Josi, yang umurnya lebih tua 2 tahun, yang sudah bersekolah. Oleh karena itu, ia mulai belajar membaca dan menulis sendiri. Ketika ayahnya melihat hal itu, Marianne Katoppo diminta untuk menuliskan apa saja yang disenanginya. Sejak saat itu, ia mulai menulis dongeng atau pengalamannya. Pada awalnya ia menulis dalam bahasa Belanda. Beberapa tulisannya dimuat dalam rubrik anak-anak surat kabar Nieuwsgier yang namanya kemudian berganti menjadi Nusantara. Dia juga pernah mendapat hadiah. Sesudah tahun 1960, ia sering menulis cerita pendek dalam Sinar Harapan dan Ragi Buana.

Saudara sepupunya, Nyonya Emmy Simorangkir Katoppo, menyatakan bahwa ketika masih kanak-kanak, semua anak bermain, tetapi Marianne Katoppo terbenam dalam bacaannya di sudut ruangan. Kakak perempuannya, Nyonya Threes Slamet Katoppo, menyatakan bahwa Marianne Katoppo ingin menyamai kakak-kakaknya. Meskipun belum boleh bersekolah--karena belum cukup umur--ia diizinkan ayahnya untuk mengetahui apa yang dipelajari kakak-kakaknya di sekolah hingga ia merasa sama dengan mereka.

Karyanya yang terkenal adalah Raumanen (novel). Novelnya yang lain adalah (1) Dunia Tak Bermusim yang terbit pertama kali sebagai cerita bersambung dalam majalah Mutiara No. 123—127 tahun 1976, (2) Anggrek Tak Pernah Berdusta, pemenang Sayembara Mengarang femina tahun 1977, yang terbit secara bersambung dalam femina No. 118—121 tahun 1977 kemudian tahun 1979 diterbitkan pertama kali sebagai buku novel oleh Gaya Favorit Press dan terbitan kedua tahun 1986; (3) Terbangnya Punai, pertama kali diterbitkan tahun 1978 oleh Penerbit Cypress, Jakarta, dan terbitan keduanya tahun 1991 oleh Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, dan (4) Rumah di atas Jembatan (1981). Cerita pendeknya antara lain "Bila Cinta Meraga Diri" terbit dalam majalah Femina No. 117 tahun 1977, dan "Tak Ada Suaka bagi Winanti" dalam Selecta No. 963 tahun 1980. Selain itu, ia juga menerjemahkan sastra asing, antara lain Matinya Sang Penguasa karya El-Sadaawi, Lapar (1993) dari karya Kunt Hamsun, Gelang Warna Warni (1990) dari karya Saloni Narang, dan Fajar (1991) dari karya Elie Wiesel. Di samping menulis karya sastra, Marianne Katoppo juga menulis karya nonsastra, yaitu Compassionate and Free: An Asian Woman's Theology (1979) dan 80 Tahun Bung Karno (1981). Bukunya Compassionate and Free diterbitkan dalam 30 bahasa dengan versi bahasa Indonesianya berjudul Tertentu dan Bebas (2007). Buku ini berbicara tentang teologi wanita Asia dan perjuangan untuk emansipasi dan kesetaraan antara wanita dan pria.

Jakob Sumardjo dalam Pengantar Novel Indonesia, Jakarta 1983 menyatakan bahwa kalau saja Marianne tidak menulis novelnya yang lain, ia hanya akan dikategorikan sebagai salah seorang penulis novel populer belaka. Namun, citra kepengarangannya menjadi naik lantaran novelnya yang terbit kemudian lebih apik dan padat serta membawakan masalah yang lebih serius di luar permasalahan cinta remaja. Selanjutnya, Jakob menyatakan bahwa meskipun Marianne seorang sarjana theologia, novelnya tidak menyangkut masalah agama, tetapi banyak menyangkut nasib malang manusia sejenisnya.

Marianne Katoppo pernah memperoleh penghargaan atas cerita pendeknya "Supiyah" dalam Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep (1975) dan atas novelnya Raumanen dalam Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975. Cerita tersebut kemudian dimuat sebagai cerita bersambung dalam majalah femina No. 79—84 tahun 1976. Setelah terbit sebagai buku, tahun 1977, novel ini meraih hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978. Tahun 1982 Marianne Katoppo dinyatakan sebagai penerima Hadiah Sastra Asia Tenggara (SEA Write Award) atas novelnya Raumanen.

 
PENCARIAN TERKAIT