• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Merayu Sukma   (1914-1951)
Kategori: Pengarang Sastra

 
 

Merayu Sukma adalah sastrawan Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai salah seorang tokoh "roman picisan" atau "roman Medan" tahun 1930—1942. Dia dilahirkan di desa Seberang Masjid, Banjarmasin, pada tahun 1914. Nama aslinya adalah A.H. M. Sulaiman. Merayu Sukma mulai menulis karya sastra, antara lain puisi, cerpen, esai sastra, naskah drama, dan roman/novel sejak tahun 1930-an. Karyanya dipublikasikan, antara lain di majalah Pelita Masyarakat (Banjarmasin, 1935—1936), majalah Kebudayaan Timur (Jakarta,1943), majalah Sastrawan (Malang, 1946), majalah Suara Asia (Jakarta), dan Lukisan Pujangga (Medan).

Pada zaman kolonial Belanda 1930—1942, Merayu Sukma sudah berhasil menerbitkan sejumlah novel, yang pada masa itu dikenal sebagai "roman picisan" di kota Medan, yakni Kunang Kunang Kuning, Berlindung di Balik Tabir Rahasia, Menanti Kekasih dari Mekkah, Teratai Terkulai, Yurni Yusri, Sinar Memecah Rahasia, dan Putra Mahkota Yang Terbuang. Sementara itu, roman/novelnya yang diterbitkan di kota Medan pada kurun waktu 1945-1949 adalah Jurang Meminta Kurban, Dalam Gelombang Darah, Gema Dari Menara, Mariati Wanita Ajaib, dan Kawin Cita Cita.

Pada zaman Jepang 1942—1945, naskah dramanya yang berjudul "Pandu Pertiwi" menjadi pemenang pertama dalam sayembara menulis yang diselenggarakan oleh Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan Jepang) yang berkedudukan di Jakarta. Naskah drama ini pada tahun 1943 diterbitkan oleh majalah Kebudayaan Timur Jakarta, bersama dengan naskah drama Bende Mataram karangan Ariffin K. Utojo.

Pada tahun 1945, Merayu Sukma hijrah ke Malang, Jawa Timur. Di kota ini ia mendirikan majalah Sastrawan (1946) dan menjadi Pemimpin Umum majalah tersebut. Selanjutnya, ia menerbitkan antologi puisinya, Jiwa Merdeka (Penerbit Sumi, Malang, 1946). Pada tahun 1950 Merayu Sukma sempat kembali ke kota Banjarmasin, tetapi tidak lama kemudian ia kembali lagi ke kota Malang. Di kota inilah ia meninggal dunia pada tanggal 11 Maret 1951.

Pada tanggal 17 Agustus 1980, Merayu Sukma diberi penghargaan berupa Hadiah Seni di bidang sastra oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • RATNA MALA SUKMA
    Jabatan: Penerjemah Ahli Madya Unit Organisasi: Balai Bahasa Provinsi Papua
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Merayu Sukma   (1914-1951)
    Kategori: Pengarang Sastra

     
     

    Merayu Sukma adalah sastrawan Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai salah seorang tokoh "roman picisan" atau "roman Medan" tahun 1930—1942. Dia dilahirkan di desa Seberang Masjid, Banjarmasin, pada tahun 1914. Nama aslinya adalah A.H. M. Sulaiman. Merayu Sukma mulai menulis karya sastra, antara lain puisi, cerpen, esai sastra, naskah drama, dan roman/novel sejak tahun 1930-an. Karyanya dipublikasikan, antara lain di majalah Pelita Masyarakat (Banjarmasin, 1935—1936), majalah Kebudayaan Timur (Jakarta,1943), majalah Sastrawan (Malang, 1946), majalah Suara Asia (Jakarta), dan Lukisan Pujangga (Medan).

    Pada zaman kolonial Belanda 1930—1942, Merayu Sukma sudah berhasil menerbitkan sejumlah novel, yang pada masa itu dikenal sebagai "roman picisan" di kota Medan, yakni Kunang Kunang Kuning, Berlindung di Balik Tabir Rahasia, Menanti Kekasih dari Mekkah, Teratai Terkulai, Yurni Yusri, Sinar Memecah Rahasia, dan Putra Mahkota Yang Terbuang. Sementara itu, roman/novelnya yang diterbitkan di kota Medan pada kurun waktu 1945-1949 adalah Jurang Meminta Kurban, Dalam Gelombang Darah, Gema Dari Menara, Mariati Wanita Ajaib, dan Kawin Cita Cita.

    Pada zaman Jepang 1942—1945, naskah dramanya yang berjudul "Pandu Pertiwi" menjadi pemenang pertama dalam sayembara menulis yang diselenggarakan oleh Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan Jepang) yang berkedudukan di Jakarta. Naskah drama ini pada tahun 1943 diterbitkan oleh majalah Kebudayaan Timur Jakarta, bersama dengan naskah drama Bende Mataram karangan Ariffin K. Utojo.

    Pada tahun 1945, Merayu Sukma hijrah ke Malang, Jawa Timur. Di kota ini ia mendirikan majalah Sastrawan (1946) dan menjadi Pemimpin Umum majalah tersebut. Selanjutnya, ia menerbitkan antologi puisinya, Jiwa Merdeka (Penerbit Sumi, Malang, 1946). Pada tahun 1950 Merayu Sukma sempat kembali ke kota Banjarmasin, tetapi tidak lama kemudian ia kembali lagi ke kota Malang. Di kota inilah ia meninggal dunia pada tanggal 11 Maret 1951.

    Pada tanggal 17 Agustus 1980, Merayu Sukma diberi penghargaan berupa Hadiah Seni di bidang sastra oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • RATNA MALA SUKMA
    Jabatan: Penerjemah Ahli Madya Unit Organisasi: Balai Bahasa Provinsi Papua
  • RATNA MALA SUKMA
    Jabatan: Penerjemah Ahli Madya Unit Organisasi: Balai Bahasa Provinsi Papua
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa