• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Isma Sawitri   (1940-...)
Kategori: Pengarang Sastra

 
 

Isma Sawitri merupakan penyair wanita, wartawati senior yang lahir di Langsa, Aceh, 21 November 1940. Ia menamatkan pendidikan SMA di Medan tahun 1958 dan pernah mengikuti kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (1959), tetapi tidak selesai. Pada tahun 1960 Isma masuk di Fakultas Sastra, tetapi tidak tamat juga. Kegagalan Isma Sawitri menempuh dunia pendidikan di perguruan tinggi disebabkan oleh panggilan jiwanya yang lebih mengarah ke dunia jurnalistik yang sudah lama diidamkannya dibanding dengan dunia akademik. Sebagai seorang wartawan, ia pernah dianggap sebagai pemburu berita yang ulung.

Kegemaran Isma Sawitri dalam bersastra dimulai sejak ia masih di SMP. Sebelumnya ia lebih gemar melukis. Dia memilih puisi sebagai media ekspresinya karena puisi dianggapnya sebagai eksistensi perenungan dan penghayatan saripati hidup. Sebelum menulis puisi sebetulnya ia gemar melukis, namun kegemarannya ini tidak berlanjut.

Kehidupannya sebagai seorang jurnalis tentu saja menyita waktu Isma untuk bekerja di luar rumah. Meskipun demikian, ia tidak melupakan kodratnya sebagai manusia yang harus berumah tangga. Isma Sawitri menikah pada tanggal 11 November 1968 dengan Galeb Husin, dramawan ibukota, yang kemudian terjun ke dunia film. Sebagai pekerja lapangan, Isma Sawitri sering berpindah-pindah tempat bekerja. Dia pernah menjadi wartawan Angkatan Bersenjata, Pedoman, Femina, dan Tempo (sampai majalah ini berhenti terbit karena dibredel). Di sela-sela kesibukannya sebagai wartawan, Isma sering meluangkan waktu untuk menulis puisi. Setelah berhenti bekerja sebagai wartawan, Isma kembali menekuni dunia sastra. Karya-karyanya dimuat di koran dan majalah, antara lain, Konfrontasi, Budaja, dan Sastra. Beberapa karyanya yang sudah dibukukan adalah Kwatrin (kumpulan puisi), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (antologi puisi, 1979, ed. Toeti Heraty), Tonggak 2 (antologi puisi, 1987, Ed. Korrie Layun Rampan), Sembilan Kerlip Cermin (Antologi Puisi 9 Penyair, 2000 sebagai editor bersama Rayani Sriwidodo). Secara luas, puisi-puisinya dibicarakan oleh Korrie Layun Rampan dalam buku Wanita Penyair Indonesia (s, 1997). Sajak-sajaknya yang terakhir dikumpulkan dalam kumpulan sajak Lawan, Eksekusi, dan Percakapan tentang Mati (2002).

Beberapa kritikus yang menulis tentang Isma Sawitri, antara lain Poppy D. Hutagalung dalam "Penyair Wanita Makin Langka" (Sinar Harapan, 2 April 1982), Pesu Aftarudin dalam "Menyimak Karya Isma Sawitri, Puisi Indonesia, Sentuhan Globalisasi" (Pikiran Rakyat, Desember 1991), N. Syamsuddin Ch. Haesy dalam "Menghampiri Sajak-Sajak Isma Sawitri: Kristal Persepsi, Imaji, dan Impresi Seorang Penyair Wanita" (Terbit,Februari 1986), dan Korry Layun Rampan dengan artikelnya yang berjudul "Duel Rohani Isma Sawitri" (Suara Pembaharuan, Desember 1990). Ch. Kiting dalam artikelnya yang berjudul "Isma Sawitri Penyair Wanita Kita yang Berbakat" (Mimbar Indonesia, 2/XVII, Februari 1963), mengungkap keprihatinan dari beberapa pengamat sastra tentang kelangkaan sastrawati Indonesia pada masa tahun 1960-an. Pengarang perempuan yang tetap eksis hanya beberapa, seperti S. Rukiah dan Isma Sawitri. Karya Isma Sawitri yang pertama kali dimuat dalam majalah berbentuk puisi berjudul "Souvenir 1959", dimuat di Budaja, No.1--2, Tahun X, Januari/Februari 1961.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Usmar Ismail
    Usmar Ismail mula-mula dikenal sebagai penyair kemudian sebagai penggiat di bidang sandiwara, dan aktif di bidang perfilman. Dia lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 20 Maret 1921 dan meninggal ...
  • Taufiq Ismail
    Taufiq Ismail, penyair yang dikenal luas sebagai tokoh sastrawan Angkatan '66 ini lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan. Dalam Tempo, Mei 2008 disebutkan bahwa ia pernah ...
  • Ismail Marahimin
    Ismail Marahimin lahir tanggal 25 April 1934 di Medan dan meninggal 26 Desember 2008. Pendidikan SD ditempuhnya di Medan, Pekanbaru, dan Binjei, selanjutnya SMP, SGA, PGSLP, dan IKIP di Medan, ...
  • Cok Sawitri
    Cok Sawitri lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968. Selain menulis cerpen, ia juga menulis puisi dan esai. Cok Sawitri yang juga bermain teater ini adalah seorang Pegawai Negeri ...
  • Kohesi dan Koherensi pada Naskah Drama diSMAN 2 Kandangan
    Peneliti : Jahdiah, Indrawati, Purnomo Widodo, Siti Alfa Ariestya, Rodisa Edwin Abdinie, Isna Bening Mukrini Tanggal Penelitian : 17-10-2014 Abstrak :  ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Isma Sawitri   (1940-...)
    Kategori: Pengarang Sastra

     
     

    Isma Sawitri merupakan penyair wanita, wartawati senior yang lahir di Langsa, Aceh, 21 November 1940. Ia menamatkan pendidikan SMA di Medan tahun 1958 dan pernah mengikuti kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (1959), tetapi tidak selesai. Pada tahun 1960 Isma masuk di Fakultas Sastra, tetapi tidak tamat juga. Kegagalan Isma Sawitri menempuh dunia pendidikan di perguruan tinggi disebabkan oleh panggilan jiwanya yang lebih mengarah ke dunia jurnalistik yang sudah lama diidamkannya dibanding dengan dunia akademik. Sebagai seorang wartawan, ia pernah dianggap sebagai pemburu berita yang ulung.

    Kegemaran Isma Sawitri dalam bersastra dimulai sejak ia masih di SMP. Sebelumnya ia lebih gemar melukis. Dia memilih puisi sebagai media ekspresinya karena puisi dianggapnya sebagai eksistensi perenungan dan penghayatan saripati hidup. Sebelum menulis puisi sebetulnya ia gemar melukis, namun kegemarannya ini tidak berlanjut.

    Kehidupannya sebagai seorang jurnalis tentu saja menyita waktu Isma untuk bekerja di luar rumah. Meskipun demikian, ia tidak melupakan kodratnya sebagai manusia yang harus berumah tangga. Isma Sawitri menikah pada tanggal 11 November 1968 dengan Galeb Husin, dramawan ibukota, yang kemudian terjun ke dunia film. Sebagai pekerja lapangan, Isma Sawitri sering berpindah-pindah tempat bekerja. Dia pernah menjadi wartawan Angkatan Bersenjata, Pedoman, Femina, dan Tempo (sampai majalah ini berhenti terbit karena dibredel). Di sela-sela kesibukannya sebagai wartawan, Isma sering meluangkan waktu untuk menulis puisi. Setelah berhenti bekerja sebagai wartawan, Isma kembali menekuni dunia sastra. Karya-karyanya dimuat di koran dan majalah, antara lain, Konfrontasi, Budaja, dan Sastra. Beberapa karyanya yang sudah dibukukan adalah Kwatrin (kumpulan puisi), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (antologi puisi, 1979, ed. Toeti Heraty), Tonggak 2 (antologi puisi, 1987, Ed. Korrie Layun Rampan), Sembilan Kerlip Cermin (Antologi Puisi 9 Penyair, 2000 sebagai editor bersama Rayani Sriwidodo). Secara luas, puisi-puisinya dibicarakan oleh Korrie Layun Rampan dalam buku Wanita Penyair Indonesia (s, 1997). Sajak-sajaknya yang terakhir dikumpulkan dalam kumpulan sajak Lawan, Eksekusi, dan Percakapan tentang Mati (2002).

    Beberapa kritikus yang menulis tentang Isma Sawitri, antara lain Poppy D. Hutagalung dalam "Penyair Wanita Makin Langka" (Sinar Harapan, 2 April 1982), Pesu Aftarudin dalam "Menyimak Karya Isma Sawitri, Puisi Indonesia, Sentuhan Globalisasi" (Pikiran Rakyat, Desember 1991), N. Syamsuddin Ch. Haesy dalam "Menghampiri Sajak-Sajak Isma Sawitri: Kristal Persepsi, Imaji, dan Impresi Seorang Penyair Wanita" (Terbit,Februari 1986), dan Korry Layun Rampan dengan artikelnya yang berjudul "Duel Rohani Isma Sawitri" (Suara Pembaharuan, Desember 1990). Ch. Kiting dalam artikelnya yang berjudul "Isma Sawitri Penyair Wanita Kita yang Berbakat" (Mimbar Indonesia, 2/XVII, Februari 1963), mengungkap keprihatinan dari beberapa pengamat sastra tentang kelangkaan sastrawati Indonesia pada masa tahun 1960-an. Pengarang perempuan yang tetap eksis hanya beberapa, seperti S. Rukiah dan Isma Sawitri. Karya Isma Sawitri yang pertama kali dimuat dalam majalah berbentuk puisi berjudul "Souvenir 1959", dimuat di Budaja, No.1--2, Tahun X, Januari/Februari 1961.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Usmar Ismail
    Usmar Ismail mula-mula dikenal sebagai penyair kemudian sebagai penggiat di bidang sandiwara, dan aktif di bidang perfilman. Dia lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 20 Maret 1921 dan meninggal ...
  • Taufiq Ismail
    Taufiq Ismail, penyair yang dikenal luas sebagai tokoh sastrawan Angkatan '66 ini lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan. Dalam Tempo, Mei 2008 disebutkan bahwa ia pernah ...
  • Ismail Marahimin
    Ismail Marahimin lahir tanggal 25 April 1934 di Medan dan meninggal 26 Desember 2008. Pendidikan SD ditempuhnya di Medan, Pekanbaru, dan Binjei, selanjutnya SMP, SGA, PGSLP, dan IKIP di Medan, ...
  • Cok Sawitri
    Cok Sawitri lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968. Selain menulis cerpen, ia juga menulis puisi dan esai. Cok Sawitri yang juga bermain teater ini adalah seorang Pegawai Negeri ...
  • Kohesi dan Koherensi pada Naskah Drama diSMAN 2 Kandangan
    Peneliti : Jahdiah, Indrawati, Purnomo Widodo, Siti Alfa Ariestya, Rodisa Edwin Abdinie, Isna Bening Mukrini Tanggal Penelitian : 17-10-2014 Abstrak :  ...
  • Usmar Ismail
    Usmar Ismail mula-mula dikenal sebagai penyair kemudian sebagai penggiat di bidang sandiwara, dan aktif di bidang perfilman. Dia lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 20 Maret 1921 dan meninggal ...
  • Taufiq Ismail
    Taufiq Ismail, penyair yang dikenal luas sebagai tokoh sastrawan Angkatan '66 ini lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan. Dalam Tempo, Mei 2008 disebutkan bahwa ia pernah ...
  • Ismail Marahimin
    Ismail Marahimin lahir tanggal 25 April 1934 di Medan dan meninggal 26 Desember 2008. Pendidikan SD ditempuhnya di Medan, Pekanbaru, dan Binjei, selanjutnya SMP, SGA, PGSLP, dan IKIP di Medan, ...
  • Cok Sawitri
    Cok Sawitri lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968. Selain menulis cerpen, ia juga menulis puisi dan esai. Cok Sawitri yang juga bermain teater ini adalah seorang Pegawai Negeri ...
  • Kohesi dan Koherensi pada Naskah Drama diSMAN 2 Kandangan
    Peneliti : Jahdiah, Indrawati, Purnomo Widodo, Siti Alfa Ariestya, Rodisa Edwin Abdinie, Isna Bening Mukrini Tanggal Penelitian : 17-10-2014 Abstrak :  ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa