• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Gus Tf. Sakai   (1965-...)
Kategori: Pengarang Sastra

 
 

Gus Tf. Sakai adalah sastrawan yang lahir 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatra Barat. Pendidikan terakhirnya adalah Sarjana Peternakan, Universitas Andalas tahun 1994. Mulai aktif menulis sejak masih di SD pada usia 12 tahun.

Sajak pertamanya dimuat di majalah Hai. Karyanya, baik berupa puisi maupun cerpen, banyak dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Republika, atau Media Indonesia. Selain itu, majalah Horisonsering memuat puisi dan cerpennya. Gus Tf merupakan penyair paling muda yang karyanya dimuat dalam buku Ketika Kata Ketika Warna (In Words In Colour) yang diterbitkan oleh Yayasan Ananda dalam rangka memperingati ulang tahun emas kemerdekaan Indonesia di dalam buku Karya 50 Penyair Indonesia dan Dari Hamzah Fansuri sampai ke Handayani.

Puisinya yang telah dipublikasikan lebih dari 150 buah yang ditulis sejak tahun 1980 sampai sekarang. Ratusan cerpennya tersebar di berbagai media massa daerah dan nasional. Empat kali cerpennya terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Kompas yang diterbitkan oleh Grasindo. Sejak tahun 1995 Gus Tf dikontrak oleh Grasindo.

Gus Tf sangat mencintai kampung halamannya, sehingga ia tidak bersedia meninggalkan Payakumbuh. Berbagai tawaran untuk bekerja dan berkarya di luar tanah kelahirannya ditolaknya. Ia beranggapan "menyerang dari dalam" adalah langkah terbaik jika dibandingkan ia keluar dari Payakumbuh. Sebagai sastrawan daerah, ia akan terus berkarya di daerah, tetapi tetap setia menyorot dan mengkritik perkembangan sastra di Indonesia.

Ia pernah menjadi pemenang pertama Sayembara Penulisan Puisi Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1990, pemenang pertama Sayembara Penulisan Esai Pekan Budaya Minangkabau tahun 1993, Penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional tahun 1993, Penghargaan dari Yayasan Lontar tahun 2001, Penghargaan dari Pusat Bahasa tahun 2002, dan Penghargaan dari Universitas Andalas tahun 2002.

Karya yang sudah diterbitkan, antara lain adalah (1) Segi Empat Patah Sisi (novel, 1990), (2) Segitiga Lepas Kaki (novel, 1991), (3) Ben (novel, 1991), (4) Istana Ketirisan (kumpulan cerpen, 1996), (5) Tiga Cinta, Ibu (novel, 2002), (6) Sangkar Daging (kumpulan puisi, 1997) , (7) Tambo (kumpulan artikel budaya), (8) Pembisik (kumpulan cerpen terpilih Republika), (9) Dua Tengkorak Kepala (kumpulan cerpen terbaik Kompas), (10) Gonjong I (antologi puisi, 1999), (11) Antologi Puisi 1999 Sumatra Barat (1999), (12) Sahayun (1994), (13) Gonjong 2 (2001), (14) Sebelas Kumpulan Cerpen Terbaik dari Sumatra Barat (2002), Akar Berpilin (2009, kumpulan sajak), dan Kaki yang Terhormat (2012, kumpulan cerpen).

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Agus R. Sarjono
    Agus R. Sarjono menjadi sastrawan Indonesia pertama yang mendapat kehormatan untuk tinggal dan menulis di rumah sastrawan besar Jerman peraih nobel sastra, Heinrich Boll, atas undangan Heinrich ...
  • Trimuris-Bagusa
    Provinsi Papua Bahasa Trimuris-Bagusa dituturkan oleh masyarakat Kampung Trimuris dan Bagusa, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, ...
  • Upita Agustine
    Upita Agustine, seorang penulis karya kreatif, memiliki nama asli Raudha Thaib dan lahir 31 Agustus 1947 di Pagaruyung, Sumatra Barat. Pendidikan terakhirnya adalah di Pascasarjana Fakultas ...
  • Leon Agusta
    Leon Agusta tergolong penyair produktif. Dia banyak menulis sajak dan juga pernah menulis cerita pendek. Anak kedua dari empat bersaudara ini lahir tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, ...
  • Panggil Aku Sakai
    Panggil Aku Sakai merupakan novel karya Ediruslan Pe Amanriza yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1980. Sebelumnya, novel tersebut memenangi Sayembara Penulisan Naskah ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Gus Tf. Sakai   (1965-...)
    Kategori: Pengarang Sastra

     
     

    Gus Tf. Sakai adalah sastrawan yang lahir 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatra Barat. Pendidikan terakhirnya adalah Sarjana Peternakan, Universitas Andalas tahun 1994. Mulai aktif menulis sejak masih di SD pada usia 12 tahun.

    Sajak pertamanya dimuat di majalah Hai. Karyanya, baik berupa puisi maupun cerpen, banyak dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Republika, atau Media Indonesia. Selain itu, majalah Horisonsering memuat puisi dan cerpennya. Gus Tf merupakan penyair paling muda yang karyanya dimuat dalam buku Ketika Kata Ketika Warna (In Words In Colour) yang diterbitkan oleh Yayasan Ananda dalam rangka memperingati ulang tahun emas kemerdekaan Indonesia di dalam buku Karya 50 Penyair Indonesia dan Dari Hamzah Fansuri sampai ke Handayani.

    Puisinya yang telah dipublikasikan lebih dari 150 buah yang ditulis sejak tahun 1980 sampai sekarang. Ratusan cerpennya tersebar di berbagai media massa daerah dan nasional. Empat kali cerpennya terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Kompas yang diterbitkan oleh Grasindo. Sejak tahun 1995 Gus Tf dikontrak oleh Grasindo.

    Gus Tf sangat mencintai kampung halamannya, sehingga ia tidak bersedia meninggalkan Payakumbuh. Berbagai tawaran untuk bekerja dan berkarya di luar tanah kelahirannya ditolaknya. Ia beranggapan "menyerang dari dalam" adalah langkah terbaik jika dibandingkan ia keluar dari Payakumbuh. Sebagai sastrawan daerah, ia akan terus berkarya di daerah, tetapi tetap setia menyorot dan mengkritik perkembangan sastra di Indonesia.

    Ia pernah menjadi pemenang pertama Sayembara Penulisan Puisi Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1990, pemenang pertama Sayembara Penulisan Esai Pekan Budaya Minangkabau tahun 1993, Penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional tahun 1993, Penghargaan dari Yayasan Lontar tahun 2001, Penghargaan dari Pusat Bahasa tahun 2002, dan Penghargaan dari Universitas Andalas tahun 2002.

    Karya yang sudah diterbitkan, antara lain adalah (1) Segi Empat Patah Sisi (novel, 1990), (2) Segitiga Lepas Kaki (novel, 1991), (3) Ben (novel, 1991), (4) Istana Ketirisan (kumpulan cerpen, 1996), (5) Tiga Cinta, Ibu (novel, 2002), (6) Sangkar Daging (kumpulan puisi, 1997) , (7) Tambo (kumpulan artikel budaya), (8) Pembisik (kumpulan cerpen terpilih Republika), (9) Dua Tengkorak Kepala (kumpulan cerpen terbaik Kompas), (10) Gonjong I (antologi puisi, 1999), (11) Antologi Puisi 1999 Sumatra Barat (1999), (12) Sahayun (1994), (13) Gonjong 2 (2001), (14) Sebelas Kumpulan Cerpen Terbaik dari Sumatra Barat (2002), Akar Berpilin (2009, kumpulan sajak), dan Kaki yang Terhormat (2012, kumpulan cerpen).

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Agus R. Sarjono
    Agus R. Sarjono menjadi sastrawan Indonesia pertama yang mendapat kehormatan untuk tinggal dan menulis di rumah sastrawan besar Jerman peraih nobel sastra, Heinrich Boll, atas undangan Heinrich ...
  • Trimuris-Bagusa
    Provinsi Papua Bahasa Trimuris-Bagusa dituturkan oleh masyarakat Kampung Trimuris dan Bagusa, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, ...
  • Upita Agustine
    Upita Agustine, seorang penulis karya kreatif, memiliki nama asli Raudha Thaib dan lahir 31 Agustus 1947 di Pagaruyung, Sumatra Barat. Pendidikan terakhirnya adalah di Pascasarjana Fakultas ...
  • Leon Agusta
    Leon Agusta tergolong penyair produktif. Dia banyak menulis sajak dan juga pernah menulis cerita pendek. Anak kedua dari empat bersaudara ini lahir tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, ...
  • Panggil Aku Sakai
    Panggil Aku Sakai merupakan novel karya Ediruslan Pe Amanriza yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1980. Sebelumnya, novel tersebut memenangi Sayembara Penulisan Naskah ...
  • Agus R. Sarjono
    Agus R. Sarjono menjadi sastrawan Indonesia pertama yang mendapat kehormatan untuk tinggal dan menulis di rumah sastrawan besar Jerman peraih nobel sastra, Heinrich Boll, atas undangan Heinrich ...
  • Trimuris-Bagusa
    Provinsi Papua Bahasa Trimuris-Bagusa dituturkan oleh masyarakat Kampung Trimuris dan Bagusa, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Bahasa itu terdiri atas dua dialek, ...
  • Upita Agustine
    Upita Agustine, seorang penulis karya kreatif, memiliki nama asli Raudha Thaib dan lahir 31 Agustus 1947 di Pagaruyung, Sumatra Barat. Pendidikan terakhirnya adalah di Pascasarjana Fakultas ...
  • Leon Agusta
    Leon Agusta tergolong penyair produktif. Dia banyak menulis sajak dan juga pernah menulis cerita pendek. Anak kedua dari empat bersaudara ini lahir tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, ...
  • Panggil Aku Sakai
    Panggil Aku Sakai merupakan novel karya Ediruslan Pe Amanriza yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1980. Sebelumnya, novel tersebut memenangi Sayembara Penulisan Naskah ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa