• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Hamidah   (1915-1953)
Kategori: Pengarang Sastra

 

Hamidah, seorang pengarang perempuan Indonesia Angkatan Pujangga Baru, mempunyai nama sebenarnya, yakni adalah Fatimah, suaminya bernama Hasan Delais. Hamidah lahir di Muntok, Pulau Bangka, Sumatra Selatan, 13 Juni 1915, meninggal di rumah sakit Charitas, Palembang, 8 Mei 1953.

Pendidikan terakhir Hamidah adalah Meisjes Normaalschool (Sekolah Normal Putri) di Padang Panjang, Sumatra Barat. Setelah tamat dari Sekolah Normal Putri, Hamidah kembali ke Muntok dan mengajar di Sekolah Rakyat (SR) Muntok, kemudian ia mengajar di Palembang Instituut mengambil mata pelajaran "Bahasa Inggris" dan "Pegang Buku". Hamidah gemar membaca karangan Shakespeare. Setelah itu, ia bekerja di perguruan Taman Siswa sampai Jepang datang. Saat revolusi berlangsung, ia membuka sekolah sendiri yang pada tahun 1949 diserahkan kepada pemerintah. Dia pernah menjadi pengurus P4A, Parnawi. Akhirnya, ia menjadi anggota Coerwis (ddiambil dari catatan dengan tulisan tangan yang tersimpan di PDS H.B. Jassin). Ia juga menjadi pembantu tetap Poedjangga Baroe di Palembang.

Selain menulis novel, Hamidah juga menulis puisi. Karya puisinya "Berpisah" (Poedjangga Baroe No.10 Th.2, 1935)—puisi ini dengan judul yang sama juga dimuat dalam Pandji Poestaka No. 44 Th.13, 1935, "Kekalkah?" (Pujangga Baru, No. 12 Th.2 1935).

Kumpulan puisi bersama yang memuat puisi-puisi karya Hamidah, antara lain, adalah Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (H.B. Jassin, 1963), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (Toeti Heraty, 1979), Tonggak 1 (Linus Suryadi AG, 1987), dan Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan).

Karya-karya Hamidah dinilai sebagai karya yang menggunakan bahasa sederhana, seperti bahasa sehari-hari. Caranya bercerita setapak demi setapak, wajar, dan tak membosankan. Penyakit romantik yang selalu berlebih-lebihan tidak terasa. Selain itu, novel Kehilangan Mestika, yang merupakan satu-satunya karya Hamidah yang ditulisnya saat berumur 19 tahun, dinyatakan mengandung unsur-unsur biografis (lihat H.B. Jassin dalam Pengarang Indonesia dan Dunianya: Kumpulan Karangan). Hamidah sebenarnya ingin membuat satu buku lagi, tetapi tidak kesampaian. Hal ini disampaikan oleh Hasan Delais, suami Hamidah dalam suratnya kepada Balai Pustaka tanggal 2 Juni 1954.

 
PENCARIAN TERKAIT