• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Tebaran Mega   (1935)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Tebaran Mega merupakan kumpulan sajak karya Sutan Takdir Alisjahbana. Buku ini telah diterbitkan beberapa kali. Penerbit Dian Rakyat tercatat menerbitkan kumpulan sajak ini lima kali, yaitu cetakan pertama (1935), cetakan kedua (1963), cetakan ketiga (1984), cetakan keempat (1988), dan cetakan kelima (2008).

Kumpulan sajak ini juga telah diterbitkan di Malaysia (1963) oleh penerbit BI-Karya Publication Limited, Kuala Lumpur.

Puisi-puisi dalam kumpulan tersebut juga pernah dimuat dalam edisi khusus majalah Pujangga Baru, III/11, Mei 1936.

Tebaran Mega memuat 38 sajak, yakni "Nikmat Hidup", "Dalam Gelombang", "Di Kakimu", "Apakah Maknanya", "Segala, Segala", "Air Mata", "Tak Mengerti", "Kepada Anakku (I)", "Kepada Anakku (II)", "Rasa Diri", "Bertemu", "Nikmat Semata", "Mengapa Serapuh Itu?", "Betalah Tahu", "Panggilan Hidup", "Menyambut Hidup", "Sesudah Dibajak", "Api Suci", "Tiada Tertahan", "Semarak Itu", "Kenangan", "Menyeberang", "Di Tepi Pagar", "Perjuangan", "Demikian ...", "Kembali ...", "Sesudah Topan", "Sinar Bintang", "Awan Berkuak", "Berayun Dialun", "Bisik Hidup", "Di Tepi Pantaimu", "Lagu", "Perambah Papa", "Perdu Ditanam", "Perjuangan", "Pohon Beringin", dan "Pohon di Kebun". Beberapa sajak dalam kumpulan itu berbentuk soneta ("Nikmat Hidup", "Dalam Gelombang", "Apakah Maknanya", "Air Mata", "Kepada Anakku (I)", "Rasa Diri", "Betalah Tahu", Sesudah Dibajak", "Api Suci", "Tiada Tertahan", "Semarak Itu", dan "Kembali").

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa tema yang terkandung dalam kumpulan sajak ini berkisar kesedihan, kerinduan, keputusasaan, dan harapan hidup.

Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia(1982) berpendapat bahwa dalam kumpulan sajak itu tergambar pergulatan Sutan Takdir Alisjahbana yang hampir larut dalam kesunyian teosofi Krishnamurti, yang kemudian bangkit menjadi pejuang yang penuh semangat dan kegembiraan.

Teeuw (1978) Dalam Sastra Baru Indonesia I membicarakan kumpulan sajak Tebaran Mega secara khusus. Menurut Teeuw, sajak Sutan Takdir Alisjahbana dalam buku itu merupakan sajak yang berisi ungkapan kejujuran penyair. Ia secara terus terang mewujudkan tenaga serta kesungguhan cita-citanya dalam kumpulan sajak itu. Sajak-sajak dalam kumpulan ini merupakan sajak peristiwa yang ditulis setelah istri pertama Sutan Takdir Alisjahbana meninggal dunia. Penderitaan menyebabkan "aku" lirik kuat dan teguh. Hidup disiasatinya sebagai perjuangan terus-menerus yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh. Hidup bukan sekadar angan-angan atau tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut. Naskah asli kumpulan sajak "Tebaran Mega" dalam bentuk ketikan tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Poespa Mega
    Poespa Mega (1927) merupakan kumpulan sajak karya Sanusi Pane yang kedua, setelah Pancaran Cinta (1926). Kumpulan sajak Poespa Mega ini diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Bintang Kedjora, ...
  • Mega-Mega
    Mega-Mega merupakan naskah drama karya Arifin C. Noer. Semula drama ini dimuat dalam majalah sastra Horison selama tiga kali pemuatan, yaitu Nomor 10/III, Oktober 1968, halaman 306—315; ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Tebaran Mega   (1935)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Tebaran Mega merupakan kumpulan sajak karya Sutan Takdir Alisjahbana. Buku ini telah diterbitkan beberapa kali. Penerbit Dian Rakyat tercatat menerbitkan kumpulan sajak ini lima kali, yaitu cetakan pertama (1935), cetakan kedua (1963), cetakan ketiga (1984), cetakan keempat (1988), dan cetakan kelima (2008).

    Kumpulan sajak ini juga telah diterbitkan di Malaysia (1963) oleh penerbit BI-Karya Publication Limited, Kuala Lumpur.

    Puisi-puisi dalam kumpulan tersebut juga pernah dimuat dalam edisi khusus majalah Pujangga Baru, III/11, Mei 1936.

    Tebaran Mega memuat 38 sajak, yakni "Nikmat Hidup", "Dalam Gelombang", "Di Kakimu", "Apakah Maknanya", "Segala, Segala", "Air Mata", "Tak Mengerti", "Kepada Anakku (I)", "Kepada Anakku (II)", "Rasa Diri", "Bertemu", "Nikmat Semata", "Mengapa Serapuh Itu?", "Betalah Tahu", "Panggilan Hidup", "Menyambut Hidup", "Sesudah Dibajak", "Api Suci", "Tiada Tertahan", "Semarak Itu", "Kenangan", "Menyeberang", "Di Tepi Pagar", "Perjuangan", "Demikian ...", "Kembali ...", "Sesudah Topan", "Sinar Bintang", "Awan Berkuak", "Berayun Dialun", "Bisik Hidup", "Di Tepi Pantaimu", "Lagu", "Perambah Papa", "Perdu Ditanam", "Perjuangan", "Pohon Beringin", dan "Pohon di Kebun". Beberapa sajak dalam kumpulan itu berbentuk soneta ("Nikmat Hidup", "Dalam Gelombang", "Apakah Maknanya", "Air Mata", "Kepada Anakku (I)", "Rasa Diri", "Betalah Tahu", Sesudah Dibajak", "Api Suci", "Tiada Tertahan", "Semarak Itu", dan "Kembali").

    Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa tema yang terkandung dalam kumpulan sajak ini berkisar kesedihan, kerinduan, keputusasaan, dan harapan hidup.

    Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia(1982) berpendapat bahwa dalam kumpulan sajak itu tergambar pergulatan Sutan Takdir Alisjahbana yang hampir larut dalam kesunyian teosofi Krishnamurti, yang kemudian bangkit menjadi pejuang yang penuh semangat dan kegembiraan.

    Teeuw (1978) Dalam Sastra Baru Indonesia I membicarakan kumpulan sajak Tebaran Mega secara khusus. Menurut Teeuw, sajak Sutan Takdir Alisjahbana dalam buku itu merupakan sajak yang berisi ungkapan kejujuran penyair. Ia secara terus terang mewujudkan tenaga serta kesungguhan cita-citanya dalam kumpulan sajak itu. Sajak-sajak dalam kumpulan ini merupakan sajak peristiwa yang ditulis setelah istri pertama Sutan Takdir Alisjahbana meninggal dunia. Penderitaan menyebabkan "aku" lirik kuat dan teguh. Hidup disiasatinya sebagai perjuangan terus-menerus yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh. Hidup bukan sekadar angan-angan atau tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut. Naskah asli kumpulan sajak "Tebaran Mega" dalam bentuk ketikan tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Poespa Mega
    Poespa Mega (1927) merupakan kumpulan sajak karya Sanusi Pane yang kedua, setelah Pancaran Cinta (1926). Kumpulan sajak Poespa Mega ini diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Bintang Kedjora, ...
  • Mega-Mega
    Mega-Mega merupakan naskah drama karya Arifin C. Noer. Semula drama ini dimuat dalam majalah sastra Horison selama tiga kali pemuatan, yaitu Nomor 10/III, Oktober 1968, halaman 306—315; ...
  • Poespa Mega
    Poespa Mega (1927) merupakan kumpulan sajak karya Sanusi Pane yang kedua, setelah Pancaran Cinta (1926). Kumpulan sajak Poespa Mega ini diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Bintang Kedjora, ...
  • Mega-Mega
    Mega-Mega merupakan naskah drama karya Arifin C. Noer. Semula drama ini dimuat dalam majalah sastra Horison selama tiga kali pemuatan, yaitu Nomor 10/III, Oktober 1968, halaman 306—315; ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa