• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Terang Bulan Terang di Kali   (1955)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Terang Bulan Terang Di Kali merupakan kumpulan cerpen karya S.M.Ardan. Kumpulan cerpen itu terbit pertama kali pada tahun 1955 oleh Gunung Agung, Jakarta, setelah direkomendasikan oleh H.B. Jassin. Tahun 1974 Terang Bulan Terang di Kali dicetak ulang oleh Pustaka Jaya, Jakarta, dengan ilustrasi cover dibuat oleh Sriwidodo. Pada tahun 2007, kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh Masup Jakarta

Kumpulan cerpen S.M. Ardan ini memuat sepuluh cerpen, yaitu (1) "Awal Bermula", (2) "Pulang Pesta", (3) "Bang Senan Mau ke Mekah, (4) "Sanip Membuat Lelucon", (5) "Belum Selesai", (6) "Rekaman", (7) "Pawai di Bawah Bulan", (8) "Bulan Menyaksikan", (9) "Bulan Sabit di Langit Barat", dan (10) "Malam Terang dan Langit Cerah".

Dalam rekomendasinya, H.B. Jassin menyatakan bahwa Terang Bulan Terang di Kali bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta yang sederhana, yaitu lingkungan tukang becak, pengemis dan gembel yang tinggal di gubuk-gubuk dan di bawah langit terbuka. Meskipun nama kumpulan itu diambil dari satu pantun yang romantis, kehidupan yang dilukiskan adalah kenyataan sehari-hari yang keras, avontur manusia tak punya, yang didekati dengan pengertian yang mesra meresap dan penyerahan yang menyatu. Pemakaian dialek Jakarta dalam kumpulan cerpen itu menciptakan suasana yang wajar dan tidak terlalu mengganggu karena disertai sekadar keterangan dalam bahasa Indonesia.

Menurut S.M. Ardan dalam suatu wawancara dengan Endang K. Sobirin ("Omong-Omong dengan S.M. Ardan: Betawi Itu Campuran", Merdeka, 8 Juni 1981, h. 5), tokoh dalam Terang Bulan Terang di Kali adalah orang-orang yang hidup di daerah Kramat Kwitang, Jakarta Pusat, daerah tempat tinggal S.M. Ardan. Oleh karena itu, dialog yang ada dalam kumpulan cerpen itu juga cenderung menggunakan dialek Betawi yang hidup di kawasan Jakarta Pusat, bukan dialek Betawi Jakarta pinggiran.

Pengakuan S.M. Ardan itu sesuai dengan pendapat Misbach Jussa Biran yang menyatakan bahwa Ardan sesungguhnya hanya memindahkan suasana Jakarta yang dikenalnya sejak kecil ke dalam Terang Bulan Terang di Kali. Dan, judul Terang Bulan Terang di Kali sebenarnya juga hanya untuk menghadirkan kontras antara harapan dan kenyataan, antara bulan yang indah molek dan menjadi pujaan dengan kali yang kumal kotor. Bahkan, S.M. Ardan menegaskan kepada Misbach, "Jangan lupa, kali, bukan sungai!" Misbach menambahkan bahwa rumah S.M. Ardan memang terletak di dekat Kali Ciliwung. Jadi, demikian Misbach, dengan Terang Bulan Terang di Kali sesungguhnya S.M. Ardan hendak menelanjangi kehidupan kampung di kota besar yang dikatakan orang sebagai hidup dan manusia itu. Dengan kata lain, melalui kumpulan cerpennya itu Ardan hendak memperlihatkan adanya dehumanisasi.

Terang Bulan Terang di Kali yang banyak menggunakan dialog dialek Betawi ternyata mengundang reaksi pembaca. Ada pembaca yang berpendapat bahwa kebetulan dialek Betawi masih berdekatan dengan bahasa Indonesia sehingga tidak terlalu sulit untuk memahami isi cerpen yang terhimpun dalam Terang Bulan Terang di Kali. Akan tetapi, pembaca itu menambahkan, seandainya dalam Terang Bulan Terang di Kali digunakan bahasa yang berasal dari wilayah Indonesia bagian timur tentu banyak pembaca yang akan kesulitan memahami isinya. Dan, akhirnya pembaca hanya akan membeli edisi yang menggunakan bahasa daerah yang dipahaminya saja.

Tentang dialek Betawi yang terdapat pada dialog-dialog dalam Terang Bulan Terang di Kali, Boejoeng Saleh (1955) juga mengemukakan pendapat yang lebih kurang sama. Ia berpendapat bahwa dialog-dialog yang berdialek Jakarta di dalam kumpulan cerpen S.M. Ardan ini memang terasa segar. Hanya saja, tidak terdapat keterangan sehingga pembaca yang tidak sepenuhnya memahami dialek Jakarta belum tentu bisa menikmatinya.

Tentang Terang Bulan Terang di Kali, Boejoeng Saleh berkomentar bahwa S.M. Ardan sebagai seorang penulisnya merupakan insider, yang berakar pada masyarakat Jakarta, khususnya masyarakat Kwitang tempat Ardan bertempat tinggal. Hanya sayang, demikian Boejoeng Saleh, Ardan kurang bisa mengambil jarak. Ia memotret dari jarak terlalu dekat, meskipun dengan kamera yang berlensa tajam sehingga Ardan tidak hanya menangkap yang eksotikal dan romantikal pada kehidupan rakyat Jakarta, tetapi juga realitas yang sepahit-pahitnya yang terdapat pada kehidupan itu. Hal itu sekaligus juga menunjukkan kecenderungan Ardan yang condong kepada realis. Selanjutnya, Boejoeng Saleh menganggap S.M. Ardan memiliki bakat yang baik untuk menjadi seorang pengamat, sebagaimana terbukti pada cerpen-cerpennya yang sebagian besar cenderung merupakan sketsa.

Lebih lanjut, Boejoeng Saleh mencontohkan cerpen S.M. Ardan yang berjudul "Pulang Pesta" sebagai cerpen yang memiliki kecenderungan realis itu. Dalam cerpen itu digambarkan sepasang suami istri muda yang sama-sama berjuang untuk kehudupan mereka. Jiman menarik becak dan istrinya, Iyem, berjualan kue. Mereka berdua belum mempunyai anak. Nasib Jiman sedang tidak beruntung. Ia hanya mendapatkan lima perak, yang untuk setoran pun tidak mencukupi. Akan tetapi, dengan bekal optimismenya ia menokoh Siun, kawannya dengan mengatakan habis mujur nariknya. Senda gurau dan humor adalah senjata rakyat. Di dalam realitas hidup yang penuh dengan penderitaan dan kegetiran, rakyat tidak tenggelam ke dalam pesimisme ataupun spekulasi filsafat yang bersifat absurd. Mereka tetap optimistis sekalipun tidak menemukan jalan keluar. Itulah sisi realis yang tergambar dalam salah satu cerpen S.M. Ardan yang terhimpun dalam Terang Bulan Terang di Kali, menurut Boejoeng Saleh.

Ajip Rosidi (2007) secara umum mengatakan bahwa istilah "cerita" dalam kumpulan cerpen SM Ardan ini kurang tepat karena tidak ada ceritanya sama sekali. Di dalam cerpen-cerpennya, misalnya "Pulang Pesta", "Pulang Siang", atau "Bang Senan Mau ke Mekah", tak menjalin cerita sehingga yang terasa hanya "suasana". Kalaupun ada cerpennya yang mengandung "cerita" (hanya dalam satu-dua cerpen), menurut Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Namun, justru di sinilah keistimewaan Ardan, JJ Rizal (2007) mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Kombai Kali
    Provinsi Papua Bahasa Kombai Kali (Tajan) dituturkan oleh etnik Kombai Tajan (Kali) di Dusun Viru RT 3, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Kampung lain yang menuturkan bahasa ...
  • Di Tepi Kali Bekasi
    Di Tepi Kali Bekasi merupakan novel karya Pramoedya Ananta Toer yang selesai ditulis oleh Pramoedya di Jakarta, 13 Januari 1947 dan masuk ke percetakan 12 Februari 1947. Novel itu pertama kali ...
  • Cerita Rakyat Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak Sri Indrapura: Pendokumnetasian dan Pengkajian Strukturalisme Vlamidir Propp
    Peneliti : Yulita Fitriana, Sri Sabakti, Chrisna Putri Kurniati, Zihamussholihin Tanggal Penelitian : 01-02-2016 Tahun Terbit : 2016 Abstrak :ABSTRAK Yulita Fitriana, Sri Sabakti, Chrisna Putri ...
  • Pemahaman dan Penguasaan Siswa Kelas III SLTP se-Kota Palu Terhadap Kaidah Kalimat Bahasa indonesia
    Peneliti : Tamrin Tanggal Penelitian : Abstrak :Mata pelajaran bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa resmi negara bahasa pendidikan, dan juga bahasa sehari-hari masih juga ...
  • Struktur Peran Kalimat Tunggal Berpredikat Verba dalam Bahasa Bali
    Peneliti : Dra. Ni Luh Partimi, M.Hum Tanggal Penelitian : 01-09-1996 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :Dalam bahasa Bali, peran konstituen pusat dapat dibedakan atas lima jenis, yaitu peran aktif, ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Terang Bulan Terang di Kali   (1955)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Terang Bulan Terang Di Kali merupakan kumpulan cerpen karya S.M.Ardan. Kumpulan cerpen itu terbit pertama kali pada tahun 1955 oleh Gunung Agung, Jakarta, setelah direkomendasikan oleh H.B. Jassin. Tahun 1974 Terang Bulan Terang di Kali dicetak ulang oleh Pustaka Jaya, Jakarta, dengan ilustrasi cover dibuat oleh Sriwidodo. Pada tahun 2007, kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh Masup Jakarta

    Kumpulan cerpen S.M. Ardan ini memuat sepuluh cerpen, yaitu (1) "Awal Bermula", (2) "Pulang Pesta", (3) "Bang Senan Mau ke Mekah, (4) "Sanip Membuat Lelucon", (5) "Belum Selesai", (6) "Rekaman", (7) "Pawai di Bawah Bulan", (8) "Bulan Menyaksikan", (9) "Bulan Sabit di Langit Barat", dan (10) "Malam Terang dan Langit Cerah".

    Dalam rekomendasinya, H.B. Jassin menyatakan bahwa Terang Bulan Terang di Kali bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta yang sederhana, yaitu lingkungan tukang becak, pengemis dan gembel yang tinggal di gubuk-gubuk dan di bawah langit terbuka. Meskipun nama kumpulan itu diambil dari satu pantun yang romantis, kehidupan yang dilukiskan adalah kenyataan sehari-hari yang keras, avontur manusia tak punya, yang didekati dengan pengertian yang mesra meresap dan penyerahan yang menyatu. Pemakaian dialek Jakarta dalam kumpulan cerpen itu menciptakan suasana yang wajar dan tidak terlalu mengganggu karena disertai sekadar keterangan dalam bahasa Indonesia.

    Menurut S.M. Ardan dalam suatu wawancara dengan Endang K. Sobirin ("Omong-Omong dengan S.M. Ardan: Betawi Itu Campuran", Merdeka, 8 Juni 1981, h. 5), tokoh dalam Terang Bulan Terang di Kali adalah orang-orang yang hidup di daerah Kramat Kwitang, Jakarta Pusat, daerah tempat tinggal S.M. Ardan. Oleh karena itu, dialog yang ada dalam kumpulan cerpen itu juga cenderung menggunakan dialek Betawi yang hidup di kawasan Jakarta Pusat, bukan dialek Betawi Jakarta pinggiran.

    Pengakuan S.M. Ardan itu sesuai dengan pendapat Misbach Jussa Biran yang menyatakan bahwa Ardan sesungguhnya hanya memindahkan suasana Jakarta yang dikenalnya sejak kecil ke dalam Terang Bulan Terang di Kali. Dan, judul Terang Bulan Terang di Kali sebenarnya juga hanya untuk menghadirkan kontras antara harapan dan kenyataan, antara bulan yang indah molek dan menjadi pujaan dengan kali yang kumal kotor. Bahkan, S.M. Ardan menegaskan kepada Misbach, "Jangan lupa, kali, bukan sungai!" Misbach menambahkan bahwa rumah S.M. Ardan memang terletak di dekat Kali Ciliwung. Jadi, demikian Misbach, dengan Terang Bulan Terang di Kali sesungguhnya S.M. Ardan hendak menelanjangi kehidupan kampung di kota besar yang dikatakan orang sebagai hidup dan manusia itu. Dengan kata lain, melalui kumpulan cerpennya itu Ardan hendak memperlihatkan adanya dehumanisasi.

    Terang Bulan Terang di Kali yang banyak menggunakan dialog dialek Betawi ternyata mengundang reaksi pembaca. Ada pembaca yang berpendapat bahwa kebetulan dialek Betawi masih berdekatan dengan bahasa Indonesia sehingga tidak terlalu sulit untuk memahami isi cerpen yang terhimpun dalam Terang Bulan Terang di Kali. Akan tetapi, pembaca itu menambahkan, seandainya dalam Terang Bulan Terang di Kali digunakan bahasa yang berasal dari wilayah Indonesia bagian timur tentu banyak pembaca yang akan kesulitan memahami isinya. Dan, akhirnya pembaca hanya akan membeli edisi yang menggunakan bahasa daerah yang dipahaminya saja.

    Tentang dialek Betawi yang terdapat pada dialog-dialog dalam Terang Bulan Terang di Kali, Boejoeng Saleh (1955) juga mengemukakan pendapat yang lebih kurang sama. Ia berpendapat bahwa dialog-dialog yang berdialek Jakarta di dalam kumpulan cerpen S.M. Ardan ini memang terasa segar. Hanya saja, tidak terdapat keterangan sehingga pembaca yang tidak sepenuhnya memahami dialek Jakarta belum tentu bisa menikmatinya.

    Tentang Terang Bulan Terang di Kali, Boejoeng Saleh berkomentar bahwa S.M. Ardan sebagai seorang penulisnya merupakan insider, yang berakar pada masyarakat Jakarta, khususnya masyarakat Kwitang tempat Ardan bertempat tinggal. Hanya sayang, demikian Boejoeng Saleh, Ardan kurang bisa mengambil jarak. Ia memotret dari jarak terlalu dekat, meskipun dengan kamera yang berlensa tajam sehingga Ardan tidak hanya menangkap yang eksotikal dan romantikal pada kehidupan rakyat Jakarta, tetapi juga realitas yang sepahit-pahitnya yang terdapat pada kehidupan itu. Hal itu sekaligus juga menunjukkan kecenderungan Ardan yang condong kepada realis. Selanjutnya, Boejoeng Saleh menganggap S.M. Ardan memiliki bakat yang baik untuk menjadi seorang pengamat, sebagaimana terbukti pada cerpen-cerpennya yang sebagian besar cenderung merupakan sketsa.

    Lebih lanjut, Boejoeng Saleh mencontohkan cerpen S.M. Ardan yang berjudul "Pulang Pesta" sebagai cerpen yang memiliki kecenderungan realis itu. Dalam cerpen itu digambarkan sepasang suami istri muda yang sama-sama berjuang untuk kehudupan mereka. Jiman menarik becak dan istrinya, Iyem, berjualan kue. Mereka berdua belum mempunyai anak. Nasib Jiman sedang tidak beruntung. Ia hanya mendapatkan lima perak, yang untuk setoran pun tidak mencukupi. Akan tetapi, dengan bekal optimismenya ia menokoh Siun, kawannya dengan mengatakan habis mujur nariknya. Senda gurau dan humor adalah senjata rakyat. Di dalam realitas hidup yang penuh dengan penderitaan dan kegetiran, rakyat tidak tenggelam ke dalam pesimisme ataupun spekulasi filsafat yang bersifat absurd. Mereka tetap optimistis sekalipun tidak menemukan jalan keluar. Itulah sisi realis yang tergambar dalam salah satu cerpen S.M. Ardan yang terhimpun dalam Terang Bulan Terang di Kali, menurut Boejoeng Saleh.

    Ajip Rosidi (2007) secara umum mengatakan bahwa istilah "cerita" dalam kumpulan cerpen SM Ardan ini kurang tepat karena tidak ada ceritanya sama sekali. Di dalam cerpen-cerpennya, misalnya "Pulang Pesta", "Pulang Siang", atau "Bang Senan Mau ke Mekah", tak menjalin cerita sehingga yang terasa hanya "suasana". Kalaupun ada cerpennya yang mengandung "cerita" (hanya dalam satu-dua cerpen), menurut Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Namun, justru di sinilah keistimewaan Ardan, JJ Rizal (2007) mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Kombai Kali
    Provinsi Papua Bahasa Kombai Kali (Tajan) dituturkan oleh etnik Kombai Tajan (Kali) di Dusun Viru RT 3, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Kampung lain yang menuturkan bahasa ...
  • Di Tepi Kali Bekasi
    Di Tepi Kali Bekasi merupakan novel karya Pramoedya Ananta Toer yang selesai ditulis oleh Pramoedya di Jakarta, 13 Januari 1947 dan masuk ke percetakan 12 Februari 1947. Novel itu pertama kali ...
  • Cerita Rakyat Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak Sri Indrapura: Pendokumnetasian dan Pengkajian Strukturalisme Vlamidir Propp
    Peneliti : Yulita Fitriana, Sri Sabakti, Chrisna Putri Kurniati, Zihamussholihin Tanggal Penelitian : 01-02-2016 Tahun Terbit : 2016 Abstrak :ABSTRAK Yulita Fitriana, Sri Sabakti, Chrisna Putri ...
  • Pemahaman dan Penguasaan Siswa Kelas III SLTP se-Kota Palu Terhadap Kaidah Kalimat Bahasa indonesia
    Peneliti : Tamrin Tanggal Penelitian : Abstrak :Mata pelajaran bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa resmi negara bahasa pendidikan, dan juga bahasa sehari-hari masih juga ...
  • Struktur Peran Kalimat Tunggal Berpredikat Verba dalam Bahasa Bali
    Peneliti : Dra. Ni Luh Partimi, M.Hum Tanggal Penelitian : 01-09-1996 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :Dalam bahasa Bali, peran konstituen pusat dapat dibedakan atas lima jenis, yaitu peran aktif, ...
  • Kombai Kali
    Provinsi Papua Bahasa Kombai Kali (Tajan) dituturkan oleh etnik Kombai Tajan (Kali) di Dusun Viru RT 3, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Kampung lain yang menuturkan bahasa ...
  • Di Tepi Kali Bekasi
    Di Tepi Kali Bekasi merupakan novel karya Pramoedya Ananta Toer yang selesai ditulis oleh Pramoedya di Jakarta, 13 Januari 1947 dan masuk ke percetakan 12 Februari 1947. Novel itu pertama kali ...
  • Cerita Rakyat Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak Sri Indrapura: Pendokumnetasian dan Pengkajian Strukturalisme Vlamidir Propp
    Peneliti : Yulita Fitriana, Sri Sabakti, Chrisna Putri Kurniati, Zihamussholihin Tanggal Penelitian : 01-02-2016 Tahun Terbit : 2016 Abstrak :ABSTRAK Yulita Fitriana, Sri Sabakti, Chrisna Putri ...
  • Pemahaman dan Penguasaan Siswa Kelas III SLTP se-Kota Palu Terhadap Kaidah Kalimat Bahasa indonesia
    Peneliti : Tamrin Tanggal Penelitian : Abstrak :Mata pelajaran bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa resmi negara bahasa pendidikan, dan juga bahasa sehari-hari masih juga ...
  • Struktur Peran Kalimat Tunggal Berpredikat Verba dalam Bahasa Bali
    Peneliti : Dra. Ni Luh Partimi, M.Hum Tanggal Penelitian : 01-09-1996 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :Dalam bahasa Bali, peran konstituen pusat dapat dibedakan atas lima jenis, yaitu peran aktif, ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa