• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Selamat Jalan Anak Kufur   (1956)
Kategori: Karya Sastra

 

"Selamat Jalan Anak Kufur" merupakan drama satu babak karya Utuj Tatang Sontani yang diterbitkan pada tahun 1956 dalam majalah Indonesia VII/8. Drama itu merupakan cerita yang memiliki gagasan pokok tentang pembangkangan atas pemilik "modal", yakni germo yang mengatur hidup pelacur. "Selamat Jalan Anak Kufur" merupakan kisah hidup seorang anak gadis yang bernamaTiti. Titi bekerja sebagai pelacur pada seorang perempuan tua sinis pemilik sebuah warung kopi. Dalam tatanan kehidupan bersosial, perempuan tua yang dipanggil Ibu ini menganggap bahwa semua laki-laki sama dan uanglah satu-satunya hal paling penting.

Lain halnya dengan Titi, ia tidak menerima pemikiran perempuan tua tempat ia tinggal. Sesungguhnya Titi bukanlah tipe seorang yang rela mengorbankan kebebasan memilih. Baginya kehidupan antarsesama manusia lain sangat diperhatikan, walaupun ia sendiri sedang berada dalam kehidupan dunia kebesan dimaksud. Akhirnya, Titi memilih pilihan hati yang menurutnya baik, pilihan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang menjadi impian oleh setiap orang. Setelah hatinya tertambat pada seorang laki-laki penarik beca yang bernama Rais. Dari Rais, Titi tidak menuntut banyak karena ia tahu bahwa yang dapat dipersembahkan penarik becak itu sebuah kemiskinan dan kerja keras.

Perempuan tua tidak merestua hubungan Titi dengan Rais tukang becak ini. Bagi si Ibu, apalah artinya seorang tukang becak bagi Titi yang dianggap hidup berkecukupan dari hasil melayani banyak laki-laki. Rais, baginya dipandang sebagai kaum rendah yang tak punya harga diri yang mendekati Titi hanya untuk memperalat Titi dengan segala kesewenang-wenangannya.

Klimaks dari perseteruan antara si Ibu, Titi, dab Rais inilah yang akhirnya membuat Titi diusir oleh Ibu tua tempat ia tinggal sudah bertahun-tahun lamanya.Dalam kebimbangan yang memuncak antara si Ibu yang telah menghidupkannya, dan ajakan Rais si tukang becak, Tidi seakan-akan berada di dua sisi. Ia bimbang. Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, akhirnya Titi memilih Rais. Akibatnya, Titi dipandang sebagai anak kufur dari jalan kafir. Judul sastra drama ini mengandung ironi terhadap konsep awal. Titi disebut sebagai anak kufur padahal ia keluar dari tindak kekufuran yakni kembali ke jalan yang benar untuk menjadi perempuan baik bagi seorang lelaki semata-mata.

H.B. Jassin dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kriitik dan Esei II. 1985. Jakarta: Gramedia. Cet. I. Gunung Agung, 1962. (1985: 149) memberi komentar terhadap karya santra dari Utuy Tatang Sotani dengan menyatakan bahwa persoalan yang diungkapkan Sontani dalam dramanya adalah apakah manusia? Sampai ke mana manusia bias bebas dalam keterikatannya pada masyarakat, pada sekitarnya, pada dirinya?

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Anakalang
    Provinsi Nusa Tenggara Timur Bahasa Anakalang ialah bahasa yang dituturkan di Kecamatan Katiku Tana dan Walakaka, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT. Bahasa Anakalang terdiri atas tiga dialek, yaitu ...
  • Ali Topan Anak Jalanan
    Novel Ali Topan Anak Jalanan: Kesandung Cinta merupakan novel karya Teguh Esha yang terbit pada tahun 1977. Tokoh Ali Topan muncul pertama kali dalam cerita bersambung karya Teguh Esha di majalah ...
  • Anak dan Kemenakan
    Anak Dan Kemenakan merupakan salah satu novel karya Marah Rusli yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1956. Judul novel itu diambil dari salah satu subjudul yang terdapat dalam buku ...
  • Anak Perawan di Sarang Penjamun
    Anak Perawan di Sarang Penjamun salah satu novel karya Sutan Takdir Alisyahbana, pertama kali muncul sebagai cerita bersambung dalam majalah Penindjauan, tahun 1932. Delapan tahun kemudian, yakni ...
  • Anak Semua Bangsa
    Anak Semua Bangsa merupakan novel kedua dari rangkaian empat buah novel (tetralogi) karya Pulau Buru yang dihasilkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Novel ini diterbitkan oleh Hasta Mitra, Jakarta, ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Selamat Jalan Anak Kufur   (1956)
    Kategori: Karya Sastra

     

    "Selamat Jalan Anak Kufur" merupakan drama satu babak karya Utuj Tatang Sontani yang diterbitkan pada tahun 1956 dalam majalah Indonesia VII/8. Drama itu merupakan cerita yang memiliki gagasan pokok tentang pembangkangan atas pemilik "modal", yakni germo yang mengatur hidup pelacur. "Selamat Jalan Anak Kufur" merupakan kisah hidup seorang anak gadis yang bernamaTiti. Titi bekerja sebagai pelacur pada seorang perempuan tua sinis pemilik sebuah warung kopi. Dalam tatanan kehidupan bersosial, perempuan tua yang dipanggil Ibu ini menganggap bahwa semua laki-laki sama dan uanglah satu-satunya hal paling penting.

    Lain halnya dengan Titi, ia tidak menerima pemikiran perempuan tua tempat ia tinggal. Sesungguhnya Titi bukanlah tipe seorang yang rela mengorbankan kebebasan memilih. Baginya kehidupan antarsesama manusia lain sangat diperhatikan, walaupun ia sendiri sedang berada dalam kehidupan dunia kebesan dimaksud. Akhirnya, Titi memilih pilihan hati yang menurutnya baik, pilihan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang menjadi impian oleh setiap orang. Setelah hatinya tertambat pada seorang laki-laki penarik beca yang bernama Rais. Dari Rais, Titi tidak menuntut banyak karena ia tahu bahwa yang dapat dipersembahkan penarik becak itu sebuah kemiskinan dan kerja keras.

    Perempuan tua tidak merestua hubungan Titi dengan Rais tukang becak ini. Bagi si Ibu, apalah artinya seorang tukang becak bagi Titi yang dianggap hidup berkecukupan dari hasil melayani banyak laki-laki. Rais, baginya dipandang sebagai kaum rendah yang tak punya harga diri yang mendekati Titi hanya untuk memperalat Titi dengan segala kesewenang-wenangannya.

    Klimaks dari perseteruan antara si Ibu, Titi, dab Rais inilah yang akhirnya membuat Titi diusir oleh Ibu tua tempat ia tinggal sudah bertahun-tahun lamanya.Dalam kebimbangan yang memuncak antara si Ibu yang telah menghidupkannya, dan ajakan Rais si tukang becak, Tidi seakan-akan berada di dua sisi. Ia bimbang. Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, akhirnya Titi memilih Rais. Akibatnya, Titi dipandang sebagai anak kufur dari jalan kafir. Judul sastra drama ini mengandung ironi terhadap konsep awal. Titi disebut sebagai anak kufur padahal ia keluar dari tindak kekufuran yakni kembali ke jalan yang benar untuk menjadi perempuan baik bagi seorang lelaki semata-mata.

    H.B. Jassin dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kriitik dan Esei II. 1985. Jakarta: Gramedia. Cet. I. Gunung Agung, 1962. (1985: 149) memberi komentar terhadap karya santra dari Utuy Tatang Sotani dengan menyatakan bahwa persoalan yang diungkapkan Sontani dalam dramanya adalah apakah manusia? Sampai ke mana manusia bias bebas dalam keterikatannya pada masyarakat, pada sekitarnya, pada dirinya?

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Anakalang
    Provinsi Nusa Tenggara Timur Bahasa Anakalang ialah bahasa yang dituturkan di Kecamatan Katiku Tana dan Walakaka, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT. Bahasa Anakalang terdiri atas tiga dialek, yaitu ...
  • Ali Topan Anak Jalanan
    Novel Ali Topan Anak Jalanan: Kesandung Cinta merupakan novel karya Teguh Esha yang terbit pada tahun 1977. Tokoh Ali Topan muncul pertama kali dalam cerita bersambung karya Teguh Esha di majalah ...
  • Anak dan Kemenakan
    Anak Dan Kemenakan merupakan salah satu novel karya Marah Rusli yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1956. Judul novel itu diambil dari salah satu subjudul yang terdapat dalam buku ...
  • Anak Perawan di Sarang Penjamun
    Anak Perawan di Sarang Penjamun salah satu novel karya Sutan Takdir Alisyahbana, pertama kali muncul sebagai cerita bersambung dalam majalah Penindjauan, tahun 1932. Delapan tahun kemudian, yakni ...
  • Anak Semua Bangsa
    Anak Semua Bangsa merupakan novel kedua dari rangkaian empat buah novel (tetralogi) karya Pulau Buru yang dihasilkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Novel ini diterbitkan oleh Hasta Mitra, Jakarta, ...
  • Anakalang
    Provinsi Nusa Tenggara Timur Bahasa Anakalang ialah bahasa yang dituturkan di Kecamatan Katiku Tana dan Walakaka, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT. Bahasa Anakalang terdiri atas tiga dialek, yaitu ...
  • Ali Topan Anak Jalanan
    Novel Ali Topan Anak Jalanan: Kesandung Cinta merupakan novel karya Teguh Esha yang terbit pada tahun 1977. Tokoh Ali Topan muncul pertama kali dalam cerita bersambung karya Teguh Esha di majalah ...
  • Anak dan Kemenakan
    Anak Dan Kemenakan merupakan salah satu novel karya Marah Rusli yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1956. Judul novel itu diambil dari salah satu subjudul yang terdapat dalam buku ...
  • Anak Perawan di Sarang Penjamun
    Anak Perawan di Sarang Penjamun salah satu novel karya Sutan Takdir Alisyahbana, pertama kali muncul sebagai cerita bersambung dalam majalah Penindjauan, tahun 1932. Delapan tahun kemudian, yakni ...
  • Anak Semua Bangsa
    Anak Semua Bangsa merupakan novel kedua dari rangkaian empat buah novel (tetralogi) karya Pulau Buru yang dihasilkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Novel ini diterbitkan oleh Hasta Mitra, Jakarta, ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa