• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Senandung Hidup   (1941)
Kategori: Karya Sastra

 

Senandung Hidup merupakan kumpulan sajak karya Samadi tahun 1918 sampai dengan 1958. Buku kumpulan sajak ini pertama kali terbit tahun 1941 di Medan oleh Penerbit Boekoe Tjerdas. Setelah 17 tahun kematian Samadi, buku tersebut diterbitkan kembali atas prakarsa Ajip Rosidi oleh Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, 1975.

Dalam buku Senandung Hidup dimuat 48 sajak sebagai berikut. (1) "Kepada Ibuku", (2) "Kepada Rang Lalu", (3) "Angkatan Baru", (4) "Berharap", (5) "Mujur", (6) "Sadar", (7) "Cinta", (8) "Keluh", (9) "Tetap', (10) "O, Bulan", (11) "Dagang", (12) "Sansai", (13) "Ah, Diri", (14) "Hati Siapa Tidakkan Rawan", (15) "Nikmat Batin Berjuang", (16) "Tanah Bahagia", (17) "Sesap", (18) "Tahu Kau"", (19) "O, Hati", (20) "Dengar", (21) "Aku Tahu ... Ah, Aku Tahu", (22) "Lihatlah Alam", (23) "Ba' Mana Aku 'Kan Diam", (24) "Ratapan", (25) "Adakah Tuan Ketahui", (26) "Berkabung di Hari Raya", (27) "Sedia", (28) "Jangan Dikenang", (29) "Di Tepi Danau", (30) "Tempatku Lahir", (31) "Sebab Samadi Berbilang Masa", (32) "Menerawang", (33) "Kepada Rang Jauh", (34) "Aku Kembali, Kekasih", (35) "Menangis", (36) "Betapa Gerang akan Jadinya', (37) "Hidup", (38) "Tidaklah Iman akan Mendalam", (39) "Ia yang Tahu", (40) "Asal Tak Hina di Sisi Tuhan", (41) "Pada Junjungan", (42) "Niat Hati", (43) "Hanya Nak Tahu bahwa Tak Tahu", (44) "Musafir Mendaki Gunung", (45) "Seteguk Air", (46) "Kepada Kekasih", (47) "Mengapa Gelak Sering Itu", dan (48) "Ujian".

Sajak-sajak Samadi yang dimuat dalam buku Senandung Hidup pada umumnya berbentuk sajak baru, tidak ada pantun atau syair. Sajak yang dimuat dalam Senandung Hidup> sebagian besar berbentuk sajak bebas, dari yang paling pendek (4 larik) sampai yang paling panjang (68 larik). Ada beberapa sajak yang ditulis dalam bentuk soneta dan kuatrin (empat seuntai, ada yang satu bait, dua bait, dan tiga bait) sebagai bentuk sajak terikat. Hampir semua sajak dalam Senandung Hidup berbentuk lirik atau curahan perasaan dan pikiran penyairnya.

Sajak-sajak tersebut pada umumnya berupa lukisan alam, nyanyian kesunyian, kepahitan hidup, dan pujaan kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Kedudukannya dalam sastra Indonesia, buku Senandung Hidup ini tidak terlalu menonjol. Namun, sajak-sajak ini banyak dikutip para penulis buku.

Beberapa sajak dalam Senandung Hidup dimuat dalam buku Perkembangan Sajak Indonesia Tahun 20-an hingga Tahun 40-an karya J.S. Badudu, dkk. 1984, halaman 778—814, yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sepuluh sajak tersebut terdapat juga dalam Tonggak I susunan Linus Suryadi A.G., 1987, halaman 243--251, yang diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, yaitu: (1) "Kepada Ibuku", (2) "Hidup", (3) "Angkatan Baru", (4) "Cinta", (5) "Di Tepi Danau Maninjau", (6) "Hanya Nak Tahu Bahwa Tak Tahu", (7) "Niat Hati", (8) "Asal Tak Hina di Sisi Tuhan", (9) "Musafir Mendaki Gunung", dan (10) "Kepada Rang Lalu".

Kritikus yang pernah membicarakan sajak yang dimuat dalam buku Senandung Hidup antara lain H.B. Jassin (1955) dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai II pada bab "Beberapa Pengarang dan Penyair Islam". Jassin memberikan aplus kepada sajak-sajak Senandung Hidup sebagai alternatif dari sajak-sajak Pujangga Baru. Sriyanto (1994) "Biografi Pengarang Samadi dan Karyanya" dan (1995) "Samadi Penyair yang Terlupakan" lebih menekankan kepada peran kepenyairan Samadi yang terlupakan karena tidak pernah dikenal melalui buku pelajaran apresiasi sastra di sekolah.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Gairah untuk Hidup dan untuk Mati
    Gairah untuk Hidup dan untuk Mati sebuah novel karya Nasjah Djamin cetakan pertama tahun 1968. Pertama kali, novel itu diterbitkan sebagai cerita bersambung di dalam majalah Minggu Pagi, ...
  • Di Dalam Lembah Kehidupan
    Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Hamka) yang memuat sepuluh cerpen. Kumpulan cerita pendek itu pertama kali diterbitkan ...
  • Senandung Sastra Lisan Karo
    Peneliti : Nurelide, M.Hum, dkk Tanggal Penelitian : 04-01-2011 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :Abstrak Sastra lisan pada hakikatnya lahir karena ada kebutuhan untuk berkomunikasi atau ...
  • Kehidupan Modern Dalam Sastra Jawa
    Peneliti : Retno Asih Wulandari,dkk Tanggal Penelitian : 01-01-1996 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap salah satu aspek kehidupan modern dalam sastra Jawa, yaitu ajaran moral yang masih ...
  • Riwayat Hidupku
    Judul : Riwayat Hidupku Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-II No. 3 Tgl.Publikasi 1954 Provinsi: Provinsi Jawa Timur Kabupaten/Kota: Kota.Surabaya Kecamatan: Rungkut ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Senandung Hidup   (1941)
    Kategori: Karya Sastra

     

    Senandung Hidup merupakan kumpulan sajak karya Samadi tahun 1918 sampai dengan 1958. Buku kumpulan sajak ini pertama kali terbit tahun 1941 di Medan oleh Penerbit Boekoe Tjerdas. Setelah 17 tahun kematian Samadi, buku tersebut diterbitkan kembali atas prakarsa Ajip Rosidi oleh Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, 1975.

    Dalam buku Senandung Hidup dimuat 48 sajak sebagai berikut. (1) "Kepada Ibuku", (2) "Kepada Rang Lalu", (3) "Angkatan Baru", (4) "Berharap", (5) "Mujur", (6) "Sadar", (7) "Cinta", (8) "Keluh", (9) "Tetap', (10) "O, Bulan", (11) "Dagang", (12) "Sansai", (13) "Ah, Diri", (14) "Hati Siapa Tidakkan Rawan", (15) "Nikmat Batin Berjuang", (16) "Tanah Bahagia", (17) "Sesap", (18) "Tahu Kau"", (19) "O, Hati", (20) "Dengar", (21) "Aku Tahu ... Ah, Aku Tahu", (22) "Lihatlah Alam", (23) "Ba' Mana Aku 'Kan Diam", (24) "Ratapan", (25) "Adakah Tuan Ketahui", (26) "Berkabung di Hari Raya", (27) "Sedia", (28) "Jangan Dikenang", (29) "Di Tepi Danau", (30) "Tempatku Lahir", (31) "Sebab Samadi Berbilang Masa", (32) "Menerawang", (33) "Kepada Rang Jauh", (34) "Aku Kembali, Kekasih", (35) "Menangis", (36) "Betapa Gerang akan Jadinya', (37) "Hidup", (38) "Tidaklah Iman akan Mendalam", (39) "Ia yang Tahu", (40) "Asal Tak Hina di Sisi Tuhan", (41) "Pada Junjungan", (42) "Niat Hati", (43) "Hanya Nak Tahu bahwa Tak Tahu", (44) "Musafir Mendaki Gunung", (45) "Seteguk Air", (46) "Kepada Kekasih", (47) "Mengapa Gelak Sering Itu", dan (48) "Ujian".

    Sajak-sajak Samadi yang dimuat dalam buku Senandung Hidup pada umumnya berbentuk sajak baru, tidak ada pantun atau syair. Sajak yang dimuat dalam Senandung Hidup> sebagian besar berbentuk sajak bebas, dari yang paling pendek (4 larik) sampai yang paling panjang (68 larik). Ada beberapa sajak yang ditulis dalam bentuk soneta dan kuatrin (empat seuntai, ada yang satu bait, dua bait, dan tiga bait) sebagai bentuk sajak terikat. Hampir semua sajak dalam Senandung Hidup berbentuk lirik atau curahan perasaan dan pikiran penyairnya.

    Sajak-sajak tersebut pada umumnya berupa lukisan alam, nyanyian kesunyian, kepahitan hidup, dan pujaan kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Kedudukannya dalam sastra Indonesia, buku Senandung Hidup ini tidak terlalu menonjol. Namun, sajak-sajak ini banyak dikutip para penulis buku.

    Beberapa sajak dalam Senandung Hidup dimuat dalam buku Perkembangan Sajak Indonesia Tahun 20-an hingga Tahun 40-an karya J.S. Badudu, dkk. 1984, halaman 778—814, yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sepuluh sajak tersebut terdapat juga dalam Tonggak I susunan Linus Suryadi A.G., 1987, halaman 243--251, yang diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, yaitu: (1) "Kepada Ibuku", (2) "Hidup", (3) "Angkatan Baru", (4) "Cinta", (5) "Di Tepi Danau Maninjau", (6) "Hanya Nak Tahu Bahwa Tak Tahu", (7) "Niat Hati", (8) "Asal Tak Hina di Sisi Tuhan", (9) "Musafir Mendaki Gunung", dan (10) "Kepada Rang Lalu".

    Kritikus yang pernah membicarakan sajak yang dimuat dalam buku Senandung Hidup antara lain H.B. Jassin (1955) dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai II pada bab "Beberapa Pengarang dan Penyair Islam". Jassin memberikan aplus kepada sajak-sajak Senandung Hidup sebagai alternatif dari sajak-sajak Pujangga Baru. Sriyanto (1994) "Biografi Pengarang Samadi dan Karyanya" dan (1995) "Samadi Penyair yang Terlupakan" lebih menekankan kepada peran kepenyairan Samadi yang terlupakan karena tidak pernah dikenal melalui buku pelajaran apresiasi sastra di sekolah.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Gairah untuk Hidup dan untuk Mati
    Gairah untuk Hidup dan untuk Mati sebuah novel karya Nasjah Djamin cetakan pertama tahun 1968. Pertama kali, novel itu diterbitkan sebagai cerita bersambung di dalam majalah Minggu Pagi, ...
  • Di Dalam Lembah Kehidupan
    Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Hamka) yang memuat sepuluh cerpen. Kumpulan cerita pendek itu pertama kali diterbitkan ...
  • Senandung Sastra Lisan Karo
    Peneliti : Nurelide, M.Hum, dkk Tanggal Penelitian : 04-01-2011 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :Abstrak Sastra lisan pada hakikatnya lahir karena ada kebutuhan untuk berkomunikasi atau ...
  • Kehidupan Modern Dalam Sastra Jawa
    Peneliti : Retno Asih Wulandari,dkk Tanggal Penelitian : 01-01-1996 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap salah satu aspek kehidupan modern dalam sastra Jawa, yaitu ajaran moral yang masih ...
  • Riwayat Hidupku
    Judul : Riwayat Hidupku Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-II No. 3 Tgl.Publikasi 1954 Provinsi: Provinsi Jawa Timur Kabupaten/Kota: Kota.Surabaya Kecamatan: Rungkut ...
  • Gairah untuk Hidup dan untuk Mati
    Gairah untuk Hidup dan untuk Mati sebuah novel karya Nasjah Djamin cetakan pertama tahun 1968. Pertama kali, novel itu diterbitkan sebagai cerita bersambung di dalam majalah Minggu Pagi, ...
  • Di Dalam Lembah Kehidupan
    Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Hamka) yang memuat sepuluh cerpen. Kumpulan cerita pendek itu pertama kali diterbitkan ...
  • Senandung Sastra Lisan Karo
    Peneliti : Nurelide, M.Hum, dkk Tanggal Penelitian : 04-01-2011 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :Abstrak Sastra lisan pada hakikatnya lahir karena ada kebutuhan untuk berkomunikasi atau ...
  • Kehidupan Modern Dalam Sastra Jawa
    Peneliti : Retno Asih Wulandari,dkk Tanggal Penelitian : 01-01-1996 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap salah satu aspek kehidupan modern dalam sastra Jawa, yaitu ajaran moral yang masih ...
  • Riwayat Hidupku
    Judul : Riwayat Hidupku Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-II No. 3 Tgl.Publikasi 1954 Provinsi: Provinsi Jawa Timur Kabupaten/Kota: Kota.Surabaya Kecamatan: Rungkut ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa