• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Prabu dan Puteri   (1950)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Prabu dan Puteri merupakan drama karya M.H. Rustandi Kartakusuma yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1950 dengan tebal 180 halaman (ukuran 24 x 16 cm). Sampul depan buku menampilkan sepasang sosok yang terkait dengan tokoh drama itu.

Bahan cerita Prabu dan Puteri digali dari kisah sejarah dan cerita rakyat Pasundan tentang Prabu Gajah Malela, raja negeri Galuh Pakuan Pajajaran, ketika akan menghadapi bala tentara Raja Majapahit. Para pelaku atau tokoh-tokoh yang berperan dalam drama ini berjumlah tujuh orang, yaitu (1) Prabu Gadjah Malela, raja negeri Galuh Pakuan Pajajaran yang memiliki kekuasaan atas rakyat, bangsa, dan negaranya, (2) Panji Kudawanengpati, putra mahkota yang beristrikan rakyat jelata, (3) Putri Tejakingkin, seorang putri rakyat jelata yang rela berkorban jiwa dan raga demi kepentingan negara dengan cara bunuh diri, (4) Permaisuri Ratna Ayu Kencana Wungu, permaisuri raja yang membela kebenaran anak-anaknya, (5) Rajaputra Pangeran Jaka Mangunlaya, putra raja yang bertugas membunuh kakak iparnya, (6) Resi Brihaspati, penasihat raja, dan (7) Patih Aria Gelap Nyawang, wakil raja yang berperan mengatur keselamatan bangsa dan negara.

Prabu dan Puteri menceritakan kegelisahan Prabu Gadjah Malela yang harus menikahkan putranya, Panji Kudawanengpati, dengan Sekartaji dari kerajaan Majapahit. Raja tidak ingin mengingkari janjinya kepada Kerajaan Majapahit, tetapi juga tidak tega harus memisahkan putranya dengan istrinya yang berasal dari rakyat jelata, Putri Tejakingkin, yang sangat dicintainya.

Sementara itu, para hulubalang punggawa istana dan menteri-menteri di Kerajaan Galuh Pakuan mengkhawatirkan akan terjadi perang antara Majapahit dan Galuh Pakuan Pajajaran. Resi Brihaspati dan Patih Gelap Nyawang memberi saran-saran kepada raja agar mendahulukan kepentingan dan keselamatan negara serta bangsa di atas kepentingan pribadi. Rakyat yang tidak berdosa jangan sampai menjadi korban peperangan tersebut demi ambisi pribadi. Atas saran kedua punggawa istana itu, raja berkenan memenuhi janji Raja Majapahit dengan cara memisahkan Panji Kudawanengpati dengan Putri Tejakingkin.

Jaka Mangunlaya yang memilih tugas membunuh Putri Tejakingkin di Sirna Manah menjadi ragu-ragu. Ia tidak sampai hati harus melukai, apalagi harus membunuh kakak iparnya yang cantik jelita itu. Namun, Putri Tejakingkin rela berkorban jiwa raganya demi kepentingan negara. Putri Tejakingkin bunuh diri dengan keris milik adik iparnya. Prabu Gadjah Malela sangat senang dengan berita kematian Puteri Tejakingkin. Ia segera dapat memenuhi janjinya kepada Raja Majapahit.

Sekembalinya dari tugas negara dan mengetahui bahwa istrinya, Tejakingkin, telah meninggal dunia, Kudawanengpati terpukul hingga menjadi gila. Permaisuri Tarna Ayu Kencana Wungu yang membela anaknya diusir raja keluar istana. Prabu Gadjah Malela tidak dapat memenuhi janji kepada Raja Majapahit karena kegilaan Kudawanengpati. Perang antara Majapahit dan Galuh Pakuan pun tidak terhindarkan. Rakyat yang tidak berdosa menjadi korban akibat ambisi pribadi raja.

Prabu dan Putri karangan sastra drama M. Rustandi Kartakusuma tergolong drama baca. Dialog yang panjang antartokoh menempatkan teks drama ini sebagai drama yang cocok untuk dibaca, tetapi tidak untuk dipentaskan. Pikiran yang terungkap dalam dialog antara tokoh itu menunjukkan adanya kecenderungan untuk menempatkan teks drama sebagai sarana pengungkap nilai-nilai perjuangan dalam hidup bernegara.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Puteri Asmarini
    Profil Ahli Bahasa: Nama: Puteri Asmarini NIP: 196905062001122001 Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, 06 Mei 1969 Kategori: Penyuluh Satker: Balai Bahasa Sumatra Barat
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Prabu dan Puteri   (1950)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Prabu dan Puteri merupakan drama karya M.H. Rustandi Kartakusuma yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1950 dengan tebal 180 halaman (ukuran 24 x 16 cm). Sampul depan buku menampilkan sepasang sosok yang terkait dengan tokoh drama itu.

    Bahan cerita Prabu dan Puteri digali dari kisah sejarah dan cerita rakyat Pasundan tentang Prabu Gajah Malela, raja negeri Galuh Pakuan Pajajaran, ketika akan menghadapi bala tentara Raja Majapahit. Para pelaku atau tokoh-tokoh yang berperan dalam drama ini berjumlah tujuh orang, yaitu (1) Prabu Gadjah Malela, raja negeri Galuh Pakuan Pajajaran yang memiliki kekuasaan atas rakyat, bangsa, dan negaranya, (2) Panji Kudawanengpati, putra mahkota yang beristrikan rakyat jelata, (3) Putri Tejakingkin, seorang putri rakyat jelata yang rela berkorban jiwa dan raga demi kepentingan negara dengan cara bunuh diri, (4) Permaisuri Ratna Ayu Kencana Wungu, permaisuri raja yang membela kebenaran anak-anaknya, (5) Rajaputra Pangeran Jaka Mangunlaya, putra raja yang bertugas membunuh kakak iparnya, (6) Resi Brihaspati, penasihat raja, dan (7) Patih Aria Gelap Nyawang, wakil raja yang berperan mengatur keselamatan bangsa dan negara.

    Prabu dan Puteri menceritakan kegelisahan Prabu Gadjah Malela yang harus menikahkan putranya, Panji Kudawanengpati, dengan Sekartaji dari kerajaan Majapahit. Raja tidak ingin mengingkari janjinya kepada Kerajaan Majapahit, tetapi juga tidak tega harus memisahkan putranya dengan istrinya yang berasal dari rakyat jelata, Putri Tejakingkin, yang sangat dicintainya.

    Sementara itu, para hulubalang punggawa istana dan menteri-menteri di Kerajaan Galuh Pakuan mengkhawatirkan akan terjadi perang antara Majapahit dan Galuh Pakuan Pajajaran. Resi Brihaspati dan Patih Gelap Nyawang memberi saran-saran kepada raja agar mendahulukan kepentingan dan keselamatan negara serta bangsa di atas kepentingan pribadi. Rakyat yang tidak berdosa jangan sampai menjadi korban peperangan tersebut demi ambisi pribadi. Atas saran kedua punggawa istana itu, raja berkenan memenuhi janji Raja Majapahit dengan cara memisahkan Panji Kudawanengpati dengan Putri Tejakingkin.

    Jaka Mangunlaya yang memilih tugas membunuh Putri Tejakingkin di Sirna Manah menjadi ragu-ragu. Ia tidak sampai hati harus melukai, apalagi harus membunuh kakak iparnya yang cantik jelita itu. Namun, Putri Tejakingkin rela berkorban jiwa raganya demi kepentingan negara. Putri Tejakingkin bunuh diri dengan keris milik adik iparnya. Prabu Gadjah Malela sangat senang dengan berita kematian Puteri Tejakingkin. Ia segera dapat memenuhi janjinya kepada Raja Majapahit.

    Sekembalinya dari tugas negara dan mengetahui bahwa istrinya, Tejakingkin, telah meninggal dunia, Kudawanengpati terpukul hingga menjadi gila. Permaisuri Tarna Ayu Kencana Wungu yang membela anaknya diusir raja keluar istana. Prabu Gadjah Malela tidak dapat memenuhi janji kepada Raja Majapahit karena kegilaan Kudawanengpati. Perang antara Majapahit dan Galuh Pakuan pun tidak terhindarkan. Rakyat yang tidak berdosa menjadi korban akibat ambisi pribadi raja.

    Prabu dan Putri karangan sastra drama M. Rustandi Kartakusuma tergolong drama baca. Dialog yang panjang antartokoh menempatkan teks drama ini sebagai drama yang cocok untuk dibaca, tetapi tidak untuk dipentaskan. Pikiran yang terungkap dalam dialog antara tokoh itu menunjukkan adanya kecenderungan untuk menempatkan teks drama sebagai sarana pengungkap nilai-nilai perjuangan dalam hidup bernegara.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Puteri Asmarini
    Profil Ahli Bahasa: Nama: Puteri Asmarini NIP: 196905062001122001 Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, 06 Mei 1969 Kategori: Penyuluh Satker: Balai Bahasa Sumatra Barat
  • Puteri Asmarini
    Profil Ahli Bahasa: Nama: Puteri Asmarini NIP: 196905062001122001 Tempat/Tanggal Lahir: Jakarta, 06 Mei 1969 Kategori: Penyuluh Satker: Balai Bahasa Sumatra Barat
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa