• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Puti Bungsu   (1978)
Kategori: Karya Sastra

 

Puti Bungsumerupakan drama karya Wisran Hadi yang terbit tahun 1978. Drama itu sarat dengan muatan gambaran kehidupan manusia dengan latar cerita daerah Minangkabau. Dalam Puti Bungsu, Wisran Hadi mengungkapkan persoalan-persoalan yang bersifat kontemporer dengan menggunakan mitos-mitos dan cerita rakyat Minangkabau.

Puti Bungsu dalam drama digambarkan sebagai saudara Malin Kundang dan Malin Deman dari ibu yang berbeda. Karena mereka bertiga tidak saling kenal, Puti Bungsu menikah dengan Malin Deman dan Malin Kundang. Dari pernikahan dengan Malin Deman, Puti Bungsu melahirkan seorang putra yang diberi nama Malin Duano. Puti Bungsu ini adalah hasil transformasi Puti Bungsu dalam cerita rakyat Minangkabau yang merupakan tokoh kehormatan, anak perempuan dari Bundo Kanduang yang telah dijodohkan dengan Dang Tuanku. Dalam Puti Bungsu, Wisran Hadi menjadikan Puti Bungsu sebagai tokoh dalam drama yang bersifat parodi.

Naskah Puti Bungsuditerbitkan dalam bentuk buku oleh Pustaka Jaya tahun 1978.Jika dilihat dari tuturan ceritanya, drama Puti Bungsu merupakan satu karya yang unik dan menarik. Keunikan dan daya tarik drama ini terletak pada cara pengarang memaparkan cerita. Tidak seperti drama-drama konvensional lainnya, drama Puti Bungsu tidak menggunakan istilah babak atau adegan. Pengarang menggunakan istilah "randai" untuk menggantikan istilah babak atau adegan. Di samping itu, drama Puti Bungsu ini merupakan himpunan beberapa mitos dan cerita rakyat Minangkabau, yaitu Malin Kundang, Malin Deman, dan Cindua Mato. Jika dilihat dari segi bentuk, drama ini terdiri atas 10 randai dengan menggunakan 3 latar tempat yang berbeda, yaitu Munggu nan Hitam, Munggu nan Kuning, dan Munggu nan Merah. Latar tempat pertama berfungsi sebagai latar pemaparan cerita, latar tempat kedua berfungsi sebagai latar gawatan cerita, dan latar tempat ketiga berfungsi sebagai latar klimaks dan leraian. Sementara itu, latar sosial dipilih latar kehidupan masyarakat Minangkabau yang sarat dengan berbagai ikatan adat.

Untuk pementasannya, Puti Bungsu menggunakan wadah kesenian tradisional randai sebagai medium pertunjukannya. Pemanfaatan randai sebagai wadah pertunjukannya didasarkan pada pertimbangan bahwa randai adalah teater rakyat Minangkabau yang cocok untuk dijadikan sarana pertunjukan drama itu.

Menurut Jakob Sumardjo (1992), drama Puti Bungsu diungkapkan dalam gaya nonkonvensional yang nonempiris. Hakikat drama masih berbicara tentang kejiwaan lelaki Minangkabau yang suka merantau sehingga hubungan dengan ibunda terganggu. Gangguan jiwa itu disembuhkan dengan kecenderungan untuk menikahi ibunya sendiri. Rasa kehilangan dalam jiwa cenderung untuk mencari substitusi pada yang lain, yang mirip ibunya. Melalui gaya yang nonkonvensional dan nonempiris, drama Puti Bungsu mempunyai kedudukan yang penting dalam perkembangan drama di Minangkabau.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Komunitas Seni Hitam-Putih
    Komunitas Seni Hitam-Putih didirikan secara mandiri dan sangat berbeda dengan pendahulunya, Yayasan Bumi. Komunitas ini bermarkas di Jalan Bintungan Panyalaian No. 118, Padangpanjang, Tanah ...
  • Sastra Lisan Minangkabau di Kabupaten 50 Kota: Cerita Rakyat Puti Banduik
    Peneliti : - Tanggal Penelitian : Abstrak :-
  • NILAI EDUKATIF DALAM NOVEL ANAK ‘JEJAK PUTIH DI TANAH BASAH’ KARYA TRIA AYU KUSUMAWARDHANI (Educative Messages in Childrens Literary ‘Jejak Putih di Tanah Basah’ by Tria Ayu Kusumawardhani)
    Peneliti : Rini Widiastuti Tanggal Penelitian : 08-04-2009 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Abstrak Karya sastra merupakan cerminan pikiran, gagasan atau ide, semangat dan ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Puti Bungsu   (1978)
    Kategori: Karya Sastra

     

    Puti Bungsumerupakan drama karya Wisran Hadi yang terbit tahun 1978. Drama itu sarat dengan muatan gambaran kehidupan manusia dengan latar cerita daerah Minangkabau. Dalam Puti Bungsu, Wisran Hadi mengungkapkan persoalan-persoalan yang bersifat kontemporer dengan menggunakan mitos-mitos dan cerita rakyat Minangkabau.

    Puti Bungsu dalam drama digambarkan sebagai saudara Malin Kundang dan Malin Deman dari ibu yang berbeda. Karena mereka bertiga tidak saling kenal, Puti Bungsu menikah dengan Malin Deman dan Malin Kundang. Dari pernikahan dengan Malin Deman, Puti Bungsu melahirkan seorang putra yang diberi nama Malin Duano. Puti Bungsu ini adalah hasil transformasi Puti Bungsu dalam cerita rakyat Minangkabau yang merupakan tokoh kehormatan, anak perempuan dari Bundo Kanduang yang telah dijodohkan dengan Dang Tuanku. Dalam Puti Bungsu, Wisran Hadi menjadikan Puti Bungsu sebagai tokoh dalam drama yang bersifat parodi.

    Naskah Puti Bungsuditerbitkan dalam bentuk buku oleh Pustaka Jaya tahun 1978.Jika dilihat dari tuturan ceritanya, drama Puti Bungsu merupakan satu karya yang unik dan menarik. Keunikan dan daya tarik drama ini terletak pada cara pengarang memaparkan cerita. Tidak seperti drama-drama konvensional lainnya, drama Puti Bungsu tidak menggunakan istilah babak atau adegan. Pengarang menggunakan istilah "randai" untuk menggantikan istilah babak atau adegan. Di samping itu, drama Puti Bungsu ini merupakan himpunan beberapa mitos dan cerita rakyat Minangkabau, yaitu Malin Kundang, Malin Deman, dan Cindua Mato. Jika dilihat dari segi bentuk, drama ini terdiri atas 10 randai dengan menggunakan 3 latar tempat yang berbeda, yaitu Munggu nan Hitam, Munggu nan Kuning, dan Munggu nan Merah. Latar tempat pertama berfungsi sebagai latar pemaparan cerita, latar tempat kedua berfungsi sebagai latar gawatan cerita, dan latar tempat ketiga berfungsi sebagai latar klimaks dan leraian. Sementara itu, latar sosial dipilih latar kehidupan masyarakat Minangkabau yang sarat dengan berbagai ikatan adat.

    Untuk pementasannya, Puti Bungsu menggunakan wadah kesenian tradisional randai sebagai medium pertunjukannya. Pemanfaatan randai sebagai wadah pertunjukannya didasarkan pada pertimbangan bahwa randai adalah teater rakyat Minangkabau yang cocok untuk dijadikan sarana pertunjukan drama itu.

    Menurut Jakob Sumardjo (1992), drama Puti Bungsu diungkapkan dalam gaya nonkonvensional yang nonempiris. Hakikat drama masih berbicara tentang kejiwaan lelaki Minangkabau yang suka merantau sehingga hubungan dengan ibunda terganggu. Gangguan jiwa itu disembuhkan dengan kecenderungan untuk menikahi ibunya sendiri. Rasa kehilangan dalam jiwa cenderung untuk mencari substitusi pada yang lain, yang mirip ibunya. Melalui gaya yang nonkonvensional dan nonempiris, drama Puti Bungsu mempunyai kedudukan yang penting dalam perkembangan drama di Minangkabau.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Komunitas Seni Hitam-Putih
    Komunitas Seni Hitam-Putih didirikan secara mandiri dan sangat berbeda dengan pendahulunya, Yayasan Bumi. Komunitas ini bermarkas di Jalan Bintungan Panyalaian No. 118, Padangpanjang, Tanah ...
  • Sastra Lisan Minangkabau di Kabupaten 50 Kota: Cerita Rakyat Puti Banduik
    Peneliti : - Tanggal Penelitian : Abstrak :-
  • NILAI EDUKATIF DALAM NOVEL ANAK ‘JEJAK PUTIH DI TANAH BASAH’ KARYA TRIA AYU KUSUMAWARDHANI (Educative Messages in Childrens Literary ‘Jejak Putih di Tanah Basah’ by Tria Ayu Kusumawardhani)
    Peneliti : Rini Widiastuti Tanggal Penelitian : 08-04-2009 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Abstrak Karya sastra merupakan cerminan pikiran, gagasan atau ide, semangat dan ...
  • Komunitas Seni Hitam-Putih
    Komunitas Seni Hitam-Putih didirikan secara mandiri dan sangat berbeda dengan pendahulunya, Yayasan Bumi. Komunitas ini bermarkas di Jalan Bintungan Panyalaian No. 118, Padangpanjang, Tanah ...
  • Sastra Lisan Minangkabau di Kabupaten 50 Kota: Cerita Rakyat Puti Banduik
    Peneliti : - Tanggal Penelitian : Abstrak :-
  • NILAI EDUKATIF DALAM NOVEL ANAK ‘JEJAK PUTIH DI TANAH BASAH’ KARYA TRIA AYU KUSUMAWARDHANI (Educative Messages in Childrens Literary ‘Jejak Putih di Tanah Basah’ by Tria Ayu Kusumawardhani)
    Peneliti : Rini Widiastuti Tanggal Penelitian : 08-04-2009 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Abstrak Karya sastra merupakan cerminan pikiran, gagasan atau ide, semangat dan ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa