• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Pembalasannya   (1940)
Kategori: Karya Sastra

 

Pembalasannya merupakan sebuah naskah drama karya Saadah Alim yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta pada tahun 1940. Sejak penerbitannya yang pertama, Pembalasannya sudah mengalami cetak ulang sebanyak tiga kali, yaitu cetakan ke-2 tahun 1952 dan cetakan ke-3 tahun 1954. Naskah drama itu terdiri atas 3 babak dan berjumlah 50 halaman.

Drama Pembalasannya belum diterjemahkan ke dalam bahasa asing mana pun. Berdasarkan tahun penerbitannya, 1940, naskah Pembalasannya terbit bersamaan dengan buku drama Manoesia Baroe karya Sanoesi Pane dan sebelum buku drama Gadis Modern (1941) karya Adlin Affandi. Di antara ketiganya, hanya Manusia Baru yang paling banyak mendapat perhatian para kritikus.

Pembalasannya bercerita tentang pembalasan seorang istri, Nur Asjikin, terhadap suami, Mr. Bahar, yang tidak mau menghiraukannya. Mr. Bahar menganggapnya kurang cantik. Masa lima tahun merupakan suatu kesempatan besar bagi Nur Asjikin untuk menentukan sikap kepada Mr. Bahar, suami yang tak pernah menghiraukannya, malahan tak mau menerimanya sebagai istri karena menurut anggapannya wajah Nur Asjikin kurang cantik. Mr. Bahar adalah laki-laki yang telah tenggelam dalam gaya kehidupan kota besar Jakarta yang penuh dengan gadis-gadis cantik yang dapat memuaskan seleranya. Para gadis di kota itu bagi Mr. Bahar hanya sebagai hiburan pengisi waktu senggang.

Selama lima tahun Nur Asjikin berhasil mempercantik diri. Tidak hanya rupa wajahnya yang menjadi cantik, tetapi sifat sembrononya pun sudah berubah menjadi halus atau feminin hingga Zubaidah, kawan karibnya, dan suaminya bernama Mochtar, kawan karib Mr. Bahar di Jakarta, terkejut menyaksikan kecantikannya. Zubaidah dan Mochtar membawa Nur Asjikin ke Jakarta. Kepergian Nur Asjikin sebenarnya untuk membalas dendam kepada Mr. Bahar. Bila mungkin, Mr. Bahar akan dibuatnya bertekuk lutut di hadapannya.

Mengetahui kedatangan penghuni baru yang cantik di rumah sahabatnya, Mr. Bahar tak jemu-jemu mendatangi rumah Mochtar dengan maksud untuk menjumpai Nur Asjikin, tetapi Nur Asjikin bersikap jual mahal. Mr. Bahar semakin penasaran. Ia tak mengetahui sama sekali bila perempuan di rumah sahabatnya yang dikagumi itu adalah istrinya sendiri. Yang ia ketahui hanyalah bahwa gadis di rumah Mochtar itu kebetulan sama namanya dengan istrinya di kampung yang diberikan oleh pamannya, Haji Abdurrachman. Ketika akhirnya Mr. Bahar mengetahui bahwa perempuan cantik yang tinggal di rumah Mochtar adalah istrinya, barulah Mr. Bahar menginsafi bahwa penderitaannya untuk meluluhkan hati Nur Asjikin adalah pembalasan yang harus diterimanya.

A.Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia (1980) menganggap Pembalasannya sebagai sebuah komedi pendek bertema pernikahan yang dipaksakan terhadap orang-orang muda oleh ibu bapak serta mamak mereka. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969) hanya sekali menyebut judul drama Saadah Alim itu tanpa menyinggung isinya. Demikian pula Jakob Sumardjo dalam Perkembangan Teater Modern don Sastra Drama Indonesia (1992) hanya satu kali menyebut judul drama itu sebagai bagian dari kronologi naskah drama yang dihasilkan kesusastraan Indonesia secara keseluruhan dalam bagian "Kronologi Daftar Sastra Drama" (1992).

H.B. Jassin dalam kumpulan esainya, yaitu Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai 1—4 (1967) dan Boen S. Oemarjati dalam Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia (1971) sama sekali tak pernah menyinggung naskah drama itu. Yang agak panjang lebar membicarakan drama itu, bila dibandingkan dengan para pengamat yang sudah disebutkan itu, hanyalah Asis Safioedin dalam bukunya berjudul Ichtisar Roman yang terbit sejak tahun 1956 (Cetakan ke-1 ). Buku yang merupakan bahan bacaan penunjang mata pelajaran Bahasa Indonesia bagi murid-murid Sekolah Menengah di Indonesia itu hingga sekarang masih terus dicetak ulang.

 
PENCARIAN TERKAIT