• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Orkes Madun   (1999)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Orkes Madun merupakan drama karya Arifin C. Noer yang diterbitkan oleh Pustaka Firdaus, Jakarta, tahun 1999, dengan tebal 436 halaman. Kumpulan drama ini berisi empat naskah drama, yaitu "Madekur dan Tarkeni atawa Orkes Madun" I (halaman 3—114), "Umang-Umang atawa Orkes Madun II" (halaman 117—210), "Sandek, Pemuda Pekerja atawa Orkes Madun III" (halaman 213—311), dan "Ozone atawa Orkes Madun IV" (halaman 315—419). "Sandek, Pemuda Pekerja atawa Orkes Madun III" pernah dipentaskan pada tanggal 24—30 September 1979 di Teater Tertutup TIM.

Di dalam pengantar buku ini diceritakan proses kreatif drama Orkes Madun ini sebagai berikut. Ketika menulis naskah "Madekur dan Tarkeni", Arifin pernah mengatakan naskahnya ini adalah bagian dari sebuah trilogi, yaitu "Orkes Madun" yang terdiri atas "Madekur dan Tarkeni", "Umang-Umang", dan "Ozone". Selesai "Umang-Umang", Arifin menulis lagi dengan judul Sandek, Pemuda Pekerja, yang semula dikira teman-teman Teater Ketjil adalah naskah yang berdiri sendiri. Namun, menjelang latihan Sandek, Pemuda Pekerja yang bersamaan dengan penulisan naskahnya (kebiasaan Arifin, latihan sambil menulis naskahnya) ia tulis pada sampul naskah judulnya sebagai Sandek, Pemuda Pekerja atawa Orkes Madun IIa, dan tidak pernah diubah. Selanjutnya, ia menulis Ozone atawa Orkes Madun IV. Lalu ia nyatakan bahwa Orkes Madun adalah sebuah pentalogi, dan bahwa yang ke-5 akan berjudul Magma. Ia bercerita ke mana-mana tentang Magma. Juga kepada anak-anak Sekolah Prancis di Jakarta, hingga beberapa dari mereka tergerak membuat komik Magma yang juga dimuat dalam kumpulan naskah ini. Tapi Arifin tidak sempat sama sekali menulis Magma. Lalu Orkes Madun III. Ya, Sandek, Pemuda Pekerja itulah, yang ketika rencananya trilogi, ia adalah IIb, tapi ketika rencana berubah menjadi pentalogi, ia pun menjadi III. Namun, tidak sempat Arifin mengubahnya. Arifin meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995 karena kanker dan sirosis hati.

Yayat Hendayana dalam "Umang-Umang Arifin Impian-Impian Kemelaratan", Pikiran Rakyat, 19 Mei 1976, mengatakan bahwa di dalam drama "Umang-Umang", salah satu bagian dari drama Orkes Madun, tak ada tempat yang ramah bagi kemelaratan. Karena ketidakramahan semua tempat, kemelaratan itu menampilkan dirinya dalam bentuk kejahatan. Arifin memilih Waska sebagai pemimpin yang dikultuskan oleh kaum melarat, kaum yang terusir dari desa yang miskin untuk kemudian masuk ke dalam perangkap kota yang miskin pula. Kemelaratan dan kemiskinan telah menempanya menjadi penjahat. Sebagai penjahat, ia juga punya harapan-harapan besar, impian-impian spektakuler, yaitu perampokan semesta. Pada saat ia berada dalam obsesi itulah kematian hampir merenggutnya. Pengikut-pengikut Waska yang setia berusaha menjauhkannya dari kematian. Dan berhasil. Akan tetapi, tibalah kemudian penderitaan berikutnya. Kerinduan pada ajal yang pernah dihindari dan dimusuhinya. Penderitaan itu menjadi berkepanjangan. Kemelaratan pun menjadi abadi.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Ahmadun Yosi Herfanda
    Ahmadun Yosi Herfanda seorang penyair, cerpenis, dan esais yang dilahirkan di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1956. Dia berpendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Tingkat Menengah Pertama, ...
  • Personifikasi dalam Sembahyang Rumputan (Antologi Puisi Karya Ahmadun Y. Herfanda)
    Peneliti : Mulawati Tanggal Penelitian : Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Puisi adalah karya sastra yang diciptakan melalui proses kerja yang menggabungkan antara petualangan dan ...
  • Analisis Stilistika dalam Kumpulan Cerpen Sebutr Kepala dan Seekor Kucing Karya Ahmadun Yosi Herfanda
    Peneliti : Ramlah Mappau, S.S. Tanggal Penelitian : Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2005 Abstrak :Bahasa sastra merupakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang dipergunakan sehari-hari. ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Orkes Madun   (1999)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Orkes Madun merupakan drama karya Arifin C. Noer yang diterbitkan oleh Pustaka Firdaus, Jakarta, tahun 1999, dengan tebal 436 halaman. Kumpulan drama ini berisi empat naskah drama, yaitu "Madekur dan Tarkeni atawa Orkes Madun" I (halaman 3—114), "Umang-Umang atawa Orkes Madun II" (halaman 117—210), "Sandek, Pemuda Pekerja atawa Orkes Madun III" (halaman 213—311), dan "Ozone atawa Orkes Madun IV" (halaman 315—419). "Sandek, Pemuda Pekerja atawa Orkes Madun III" pernah dipentaskan pada tanggal 24—30 September 1979 di Teater Tertutup TIM.

    Di dalam pengantar buku ini diceritakan proses kreatif drama Orkes Madun ini sebagai berikut. Ketika menulis naskah "Madekur dan Tarkeni", Arifin pernah mengatakan naskahnya ini adalah bagian dari sebuah trilogi, yaitu "Orkes Madun" yang terdiri atas "Madekur dan Tarkeni", "Umang-Umang", dan "Ozone". Selesai "Umang-Umang", Arifin menulis lagi dengan judul Sandek, Pemuda Pekerja, yang semula dikira teman-teman Teater Ketjil adalah naskah yang berdiri sendiri. Namun, menjelang latihan Sandek, Pemuda Pekerja yang bersamaan dengan penulisan naskahnya (kebiasaan Arifin, latihan sambil menulis naskahnya) ia tulis pada sampul naskah judulnya sebagai Sandek, Pemuda Pekerja atawa Orkes Madun IIa, dan tidak pernah diubah. Selanjutnya, ia menulis Ozone atawa Orkes Madun IV. Lalu ia nyatakan bahwa Orkes Madun adalah sebuah pentalogi, dan bahwa yang ke-5 akan berjudul Magma. Ia bercerita ke mana-mana tentang Magma. Juga kepada anak-anak Sekolah Prancis di Jakarta, hingga beberapa dari mereka tergerak membuat komik Magma yang juga dimuat dalam kumpulan naskah ini. Tapi Arifin tidak sempat sama sekali menulis Magma. Lalu Orkes Madun III. Ya, Sandek, Pemuda Pekerja itulah, yang ketika rencananya trilogi, ia adalah IIb, tapi ketika rencana berubah menjadi pentalogi, ia pun menjadi III. Namun, tidak sempat Arifin mengubahnya. Arifin meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995 karena kanker dan sirosis hati.

    Yayat Hendayana dalam "Umang-Umang Arifin Impian-Impian Kemelaratan", Pikiran Rakyat, 19 Mei 1976, mengatakan bahwa di dalam drama "Umang-Umang", salah satu bagian dari drama Orkes Madun, tak ada tempat yang ramah bagi kemelaratan. Karena ketidakramahan semua tempat, kemelaratan itu menampilkan dirinya dalam bentuk kejahatan. Arifin memilih Waska sebagai pemimpin yang dikultuskan oleh kaum melarat, kaum yang terusir dari desa yang miskin untuk kemudian masuk ke dalam perangkap kota yang miskin pula. Kemelaratan dan kemiskinan telah menempanya menjadi penjahat. Sebagai penjahat, ia juga punya harapan-harapan besar, impian-impian spektakuler, yaitu perampokan semesta. Pada saat ia berada dalam obsesi itulah kematian hampir merenggutnya. Pengikut-pengikut Waska yang setia berusaha menjauhkannya dari kematian. Dan berhasil. Akan tetapi, tibalah kemudian penderitaan berikutnya. Kerinduan pada ajal yang pernah dihindari dan dimusuhinya. Penderitaan itu menjadi berkepanjangan. Kemelaratan pun menjadi abadi.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Ahmadun Yosi Herfanda
    Ahmadun Yosi Herfanda seorang penyair, cerpenis, dan esais yang dilahirkan di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1956. Dia berpendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Tingkat Menengah Pertama, ...
  • Personifikasi dalam Sembahyang Rumputan (Antologi Puisi Karya Ahmadun Y. Herfanda)
    Peneliti : Mulawati Tanggal Penelitian : Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Puisi adalah karya sastra yang diciptakan melalui proses kerja yang menggabungkan antara petualangan dan ...
  • Analisis Stilistika dalam Kumpulan Cerpen Sebutr Kepala dan Seekor Kucing Karya Ahmadun Yosi Herfanda
    Peneliti : Ramlah Mappau, S.S. Tanggal Penelitian : Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2005 Abstrak :Bahasa sastra merupakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang dipergunakan sehari-hari. ...
  • Ahmadun Yosi Herfanda
    Ahmadun Yosi Herfanda seorang penyair, cerpenis, dan esais yang dilahirkan di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1956. Dia berpendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Tingkat Menengah Pertama, ...
  • Personifikasi dalam Sembahyang Rumputan (Antologi Puisi Karya Ahmadun Y. Herfanda)
    Peneliti : Mulawati Tanggal Penelitian : Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Puisi adalah karya sastra yang diciptakan melalui proses kerja yang menggabungkan antara petualangan dan ...
  • Analisis Stilistika dalam Kumpulan Cerpen Sebutr Kepala dan Seekor Kucing Karya Ahmadun Yosi Herfanda
    Peneliti : Ramlah Mappau, S.S. Tanggal Penelitian : Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2005 Abstrak :Bahasa sastra merupakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang dipergunakan sehari-hari. ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa