• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Pariksit   (1971)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Pariksit merupakan kumpulan sajak pertama Goenawan Mohamad yang diterbitkan pada tahun 1971 oleh Litera, Jakarta, setebal 32 halaman. Kumpulan sajak itu terbit atas desakan kawan-kawan Goenawan Mohamad karena ia seorang penyair yang rendah hati dan segan menampilkan diri. Pada tahun 2001, sajak-sajak Goenawan dalam Pariksit diterbitkan kembali oleh Metafor Publishing, Jakarta, dengan judul Sajak-Sajak Lengkap 1961—2001 yang menghimpun semua sajak Goenawan selama empat puluh tahun kepenyairannya.

Sajak-sajak yang ada dalam Pariksit adalah "Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi", "Hari Terakhir Seorang Penyair, Suatu Siang", "Senja pun Jadi Kecil Kota pun Jadi Putih", "Gemuruh Laut Malam Hari", "Internasionale", "Lagu Hujan", "Berjaga Padamukah Lampu-lampu Ini, Cintaku", "Lagu Pekerja Malam", "Nina Bobo", "Malam Susut Kelabu", "Di Muka Jendela", "Ranjang Pengantin", "Bintang Kemukus", "Asmaradana", "Surat Cinta", "Kepada Kota", "Di Kota Ini, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam", "Kwatrin Musim Gugur (I)", "Kwatrin Musim Gugur (II)", "Kwatrin Musim Gugur", "Meditasi", "Z", "Tahun pun Turun Membuka Sayapnya", "Pariksit", dan "Dingin Tak Tercatat".

Sebagian sajak dalam kumpulan Pariksit telah dipublikasikan sebelumnya dalam majalah sastra Horison, seperti "Asmaradana" dan "Parikesit" yang bertolak dari mitologi Jawa, yakni dunia pewayangan. "Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi" telah diparodikan oleh Yudhistira Ardi Noegraha menjadi "Di Beranda Ini, Mohamad Pariksit, Telah Jadi Logam" (1975).

Pariksit menjadi kumpulan sajak yang penting dalam peta persajakan Indonesia karena cukup banyak kritikus yang meresponsnya. Misalnya, M.S. Hutagalung berpendapat bahwa sajak Goenawan Mohamad memancarkan kekuatan intelektual, tetapi sajak-sajaknya tidak terasa dingin dan kering. Burton Raffel (1968) menyatakan bahwa sajak-sajak Goenawan memiliki tenaga gaib, keagungan dari sebuah 'nyanyi murni'.

 
PENCARIAN TERKAIT