• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Merahnya Merah   (1968)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Merahnya Merah merupakan karya Iwan Simatupang yang pertama terbit. Cetakan pertama diterbitkan tahun 1968 oleh Penerbit Djambatan. Cetakan kedua dan ketiga diterbitkan tahun 1986 dan 1992. Ketiga cetakan tersebut diterbitkan oleh PT Djambatan, Jakarta, dengan oplah terbitan sebanyak 3.000 eksemplar. Pada tahun 1969 diterbitkan pula oleh Gunung Agung, Jakarta, dengan kertas buram setebal 160 halaman (cetakan XIV, Mei 2002, 162 halaman).

Merahnya Merah dianggap sebagai novel pertama yang membawa angin baru bagi kehidupan pernovelan Indonesia. Merahnya Merah berbicara tentang cinta segitiga di kalangan gelandangan. Masalah yang ditonjolkan dalam novel tersebut ialah pengakuan bahwa seorang gelandangan tidak sekadar orang bertampang lusuh dan berpakaian compang-camping. Di antara mereka terdapat juga calon rakib, calon menteri, mantan komandan kompi pasukan berani mati, dan mantan algojo. Mereka adalah manusia biasa yang mempunyai cita-cita, hati, dan jantung. Judul Merahnya Merah didasarkan pada peristiwa terbunuhnya tokoh cerita yang bernama "tokoh kita" di ujung golok Pak Centeng dengan bersimbah darah yang merah. Tumbangnya Pak Centeng di ujung peluru komandan polisi dengan darah yang mengucur "merah" disambut oleh senja yang "merah" di ufuk barat.

Merahnya Merah dianggap sebagai novel esai karena dalam novel tersebut terdapat falsafah tentang kehidupan manusia dan banyak fatwa intelektual yang dapat dijadikan pelajaran. H.B. Jassin (1985) mengatakan bahwa apa yang dilukiskan oleh Iwan Simatupang dalam Merahnya Merah ialah penghayatan metafisik dari kehidupan bukan sekadar gambaran peristiwa demi peristiwa yang dapat dicapai oleh manusia. Dami N. Toda (1984), seorang pengamat novel-novel Iwan Simatupang, mengatakan bahwa novel Merahnya Merah adalah novel kesastraan baru yang antifanatisme. Novel itu muncul dengan tokoh tanpa nama yang menurut Dami N. Toda mirip dengan karya-karya Robbel Grillet dan karya-karya Camus. Dami mengatakan bahwa L'annee Dermiere a Marienbad (1961) karya Robbel Grillet juga memakai gaya dengan nama "Cinne roman" yang bisa mengimbangi gaya "tak bernama" Iwan. Pendapat Dami N. Toda dipertegas oleh Tubagus Djodi Rawayan Antawidjaya (1977) yang mengatakan bahwa keberadaan Merahnya Merah merupakan nouveau roman-nya Alain Robbel Grillet.

Umar Junus menganggap bahwa Merahnya Merah merupakan novel pembaharu yang intelektual. Merahnya Merah terkadang terasa bertentangan dengan realitas. Pembaca dihadapkan dengan tokoh-tokoh tanpa nama. Kehidupan tokoh "kita" dalam novel tersebut seluruhnya dikuasai oleh perubahan yang berada di luar dirinya dan ia terseret ke dalamnya. Merahnya Merah menunjukkan bahwa jika jarak antara rakyat dan para intelektual telah diambil, para intelektual tersebut berubah menjadi rakyat banyak. Bahkan mereka pun menjadi gelandangan. Merahnya Merah menyamakan tokoh aktualisasi yang sedang berkembang di Barat. Pergelaran yang ada dalam novel itu bukan hanya pengalaman yang ada dalam imajinasi Iwan, melainkan juga pengalaman yang mungkin dialami Iwan sendiri atau mungkin dialami oleh pembacanya meskipun dalam tahap yang berbeda-beda.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Punan Merah
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Punan Merah dituturkan oleh masyarakat di Desa Long Merah, Kecamatan Long Bangun, Kabupaten Mahakam Hulu, Provinsi Kalimantan Timur. Wilayah tutur bahasa Punan ...
  • Bekisar Merah
    Bekisar Merah merupakan judul sebuah novel karya Ahmad Tohari yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Kompas pada bulan Februari sampai dengan Mei 1993. Cerita ...
  • Bulan Merah
    Bulan Merah merupakan judul kumpulan cerita pendek karya Soekanto S.A. yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1958. Bukuberukuran 18,5 x 12,5 cm dengan tebal 83 halaman itu diberi delapan ...
  • Punan Merah
    Provinsi: Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten/Kota: Kabupaten.Kutai Barat Kecamatan: Long Bangun Desa: Long Merah Kategori: Mengalami Kemunduran Status: belum terkonservasi Bahasa Punan Merah ...
  • Tanah Merah
    Judul : Tanah Merah Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi buku Tgl.Publikasi 1976 Provinsi: Provinsi Papua Kabupaten/Kota: Kabupaten.Merauke Kecamatan: Boven Digul
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Merahnya Merah   (1968)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Merahnya Merah merupakan karya Iwan Simatupang yang pertama terbit. Cetakan pertama diterbitkan tahun 1968 oleh Penerbit Djambatan. Cetakan kedua dan ketiga diterbitkan tahun 1986 dan 1992. Ketiga cetakan tersebut diterbitkan oleh PT Djambatan, Jakarta, dengan oplah terbitan sebanyak 3.000 eksemplar. Pada tahun 1969 diterbitkan pula oleh Gunung Agung, Jakarta, dengan kertas buram setebal 160 halaman (cetakan XIV, Mei 2002, 162 halaman).

    Merahnya Merah dianggap sebagai novel pertama yang membawa angin baru bagi kehidupan pernovelan Indonesia. Merahnya Merah berbicara tentang cinta segitiga di kalangan gelandangan. Masalah yang ditonjolkan dalam novel tersebut ialah pengakuan bahwa seorang gelandangan tidak sekadar orang bertampang lusuh dan berpakaian compang-camping. Di antara mereka terdapat juga calon rakib, calon menteri, mantan komandan kompi pasukan berani mati, dan mantan algojo. Mereka adalah manusia biasa yang mempunyai cita-cita, hati, dan jantung. Judul Merahnya Merah didasarkan pada peristiwa terbunuhnya tokoh cerita yang bernama "tokoh kita" di ujung golok Pak Centeng dengan bersimbah darah yang merah. Tumbangnya Pak Centeng di ujung peluru komandan polisi dengan darah yang mengucur "merah" disambut oleh senja yang "merah" di ufuk barat.

    Merahnya Merah dianggap sebagai novel esai karena dalam novel tersebut terdapat falsafah tentang kehidupan manusia dan banyak fatwa intelektual yang dapat dijadikan pelajaran. H.B. Jassin (1985) mengatakan bahwa apa yang dilukiskan oleh Iwan Simatupang dalam Merahnya Merah ialah penghayatan metafisik dari kehidupan bukan sekadar gambaran peristiwa demi peristiwa yang dapat dicapai oleh manusia. Dami N. Toda (1984), seorang pengamat novel-novel Iwan Simatupang, mengatakan bahwa novel Merahnya Merah adalah novel kesastraan baru yang antifanatisme. Novel itu muncul dengan tokoh tanpa nama yang menurut Dami N. Toda mirip dengan karya-karya Robbel Grillet dan karya-karya Camus. Dami mengatakan bahwa L'annee Dermiere a Marienbad (1961) karya Robbel Grillet juga memakai gaya dengan nama "Cinne roman" yang bisa mengimbangi gaya "tak bernama" Iwan. Pendapat Dami N. Toda dipertegas oleh Tubagus Djodi Rawayan Antawidjaya (1977) yang mengatakan bahwa keberadaan Merahnya Merah merupakan nouveau roman-nya Alain Robbel Grillet.

    Umar Junus menganggap bahwa Merahnya Merah merupakan novel pembaharu yang intelektual. Merahnya Merah terkadang terasa bertentangan dengan realitas. Pembaca dihadapkan dengan tokoh-tokoh tanpa nama. Kehidupan tokoh "kita" dalam novel tersebut seluruhnya dikuasai oleh perubahan yang berada di luar dirinya dan ia terseret ke dalamnya. Merahnya Merah menunjukkan bahwa jika jarak antara rakyat dan para intelektual telah diambil, para intelektual tersebut berubah menjadi rakyat banyak. Bahkan mereka pun menjadi gelandangan. Merahnya Merah menyamakan tokoh aktualisasi yang sedang berkembang di Barat. Pergelaran yang ada dalam novel itu bukan hanya pengalaman yang ada dalam imajinasi Iwan, melainkan juga pengalaman yang mungkin dialami Iwan sendiri atau mungkin dialami oleh pembacanya meskipun dalam tahap yang berbeda-beda.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Punan Merah
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Punan Merah dituturkan oleh masyarakat di Desa Long Merah, Kecamatan Long Bangun, Kabupaten Mahakam Hulu, Provinsi Kalimantan Timur. Wilayah tutur bahasa Punan ...
  • Bekisar Merah
    Bekisar Merah merupakan judul sebuah novel karya Ahmad Tohari yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Kompas pada bulan Februari sampai dengan Mei 1993. Cerita ...
  • Bulan Merah
    Bulan Merah merupakan judul kumpulan cerita pendek karya Soekanto S.A. yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1958. Bukuberukuran 18,5 x 12,5 cm dengan tebal 83 halaman itu diberi delapan ...
  • Punan Merah
    Provinsi: Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten/Kota: Kabupaten.Kutai Barat Kecamatan: Long Bangun Desa: Long Merah Kategori: Mengalami Kemunduran Status: belum terkonservasi Bahasa Punan Merah ...
  • Tanah Merah
    Judul : Tanah Merah Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi buku Tgl.Publikasi 1976 Provinsi: Provinsi Papua Kabupaten/Kota: Kabupaten.Merauke Kecamatan: Boven Digul
  • Punan Merah
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Punan Merah dituturkan oleh masyarakat di Desa Long Merah, Kecamatan Long Bangun, Kabupaten Mahakam Hulu, Provinsi Kalimantan Timur. Wilayah tutur bahasa Punan ...
  • Bekisar Merah
    Bekisar Merah merupakan judul sebuah novel karya Ahmad Tohari yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Kompas pada bulan Februari sampai dengan Mei 1993. Cerita ...
  • Bulan Merah
    Bulan Merah merupakan judul kumpulan cerita pendek karya Soekanto S.A. yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1958. Bukuberukuran 18,5 x 12,5 cm dengan tebal 83 halaman itu diberi delapan ...
  • Punan Merah
    Provinsi: Provinsi Kalimantan Timur Kabupaten/Kota: Kabupaten.Kutai Barat Kecamatan: Long Bangun Desa: Long Merah Kategori: Mengalami Kemunduran Status: belum terkonservasi Bahasa Punan Merah ...
  • Tanah Merah
    Judul : Tanah Merah Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi buku Tgl.Publikasi 1976 Provinsi: Provinsi Papua Kabupaten/Kota: Kabupaten.Merauke Kecamatan: Boven Digul
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa