• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Mimpi dan Pretensi   (1982)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Mimpi dan Pretensi merupakan kumpulan sajak Toeti Heraty yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1982. Kumpulan sajak itu memuat 64 sajak yang terbagi atas lima kelompok, yakni "Sajak-Sajak 33" (23 sajak), "Dua Wanita" (3 sajak), "Dunia Nyata" (25 sajak), "Siklus" (4 sajak), dan "Manifesto" (9 sajak). Beberapa sajak Toeti yang dimuat dalam buku ini pernah diterbitkan, seperti "Sajak-Sajak 33".

Sebagai kumpulan sajak karya penyair perempuan, sajak-sajak dalam Mimpi dan Pretensi mengungkapkan pengalaman dan persoalan seputar dunia perempuan. Sajak-sajak dalam Mimpi dan Pretensi mengungkap gejala stereotip perempuan Indonesia yang kemudian menjadi ilham bagi penulisan sajak perempuan pada umumnya. Sajak-sajak Toeti tersebut mengungkapkan secara khas perasaan perempuan yang perlu diperhatikan dalam dunia yang dikuasai oleh kaum lelaki. Ada semacam gugatan di dalam sajaknya, yakni pemberontakan terhadap dominasi kekuasaan lelaki terhadap kaum perempuan, terutama dominasi antara hubungan lelaki dan perempuan sebagai suami istri ataupun sejawat. Contoh yang sangat baik mengenai gugatan perempuan terhadap dominasi laki-laki ini dapat dilihat dalam sajaknya yang berjudul "Manifesto".

Korrie Layun Rampan (1984) mengemukakan ihwal pemberontakan atau gugatan kaum perempuan terhadap laki-laki yang terungkap dalam beberapa sajak Toeti Heraty. Korrie juga mengatakan bahwa sajak-sajak Toeti yang terhimpun dalam Mimpi dan Pretensi jelas-jelas menunjukkan sikap rasional dan intelektual. Sajak-sajak tersebut secara keseluruhan menyuarakan kesangsian dan karena selalu sangsi, sang penyair membawa tokoh-tokoh dalam sajaknya untuk memberontak dan untuk dapat menemukan personalitas manusia yang hakiki sebagai manusia yang bisa seratus persen menyandang kemerdekaannya.

Dalam menginterpretasikan sajak-sajak Toeti Heraty kadang-kadang diperlukan pemahaman yang filosofis. Sajak-sajaknya kadang-kadang membawa pembaca kepada semacam perenungan dan pemahaman yang matang mengenai kemanusiaan. Sebagai pengarang, Toeti juga dapat menertawakan diri sendiri atau pembaca, sebagai bagian dari dunia yang digambarkannya, tanpa harus menimbulkan kecengengan sebagai perempuan yang merasa tertindas oleh dominasi lelaki.

Teeuw (1980) mengupas beberapa sajak Toeti Heraty yang terdapat dalam Mimpi dan Pretensi, seperti "Cocktail Party". Menurut Teeuw, sajak ini sangat halus dan rumit. Struktur dan maknanya bertingkat-tingkat, yakni mulai dengan fakta, kemudian berkembang pada perenungan tentang makna Cocktail Party itu. Kerangka sajak ini memiliki konvensi sajak modern yang sangat banyak menggunakan konvensi pemakaian 'aku' dan 'kau' sebagai rangkanya. Selain itu, sajak ini dapat dipandang sebagai contoh sajak modern yang menarik karena menyulitkan pembaca untuk memahaminya. Yang paling menonjol dari sajaknya ini adalah ironi, bahasa keseharian, dan semangat individualistik yang dapat dianggap sebagai ciri sajak modern.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Tumi Bermimpi
    Judul : Tumi Bermimpi Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-4 No. 2 Tgl.Publikasi 1 Oktober 1958 Provinsi: Provinsi DKI Jakarta Kabupaten/Kota: Kota.Jakarta Pusat
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Mimpi dan Pretensi   (1982)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Mimpi dan Pretensi merupakan kumpulan sajak Toeti Heraty yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1982. Kumpulan sajak itu memuat 64 sajak yang terbagi atas lima kelompok, yakni "Sajak-Sajak 33" (23 sajak), "Dua Wanita" (3 sajak), "Dunia Nyata" (25 sajak), "Siklus" (4 sajak), dan "Manifesto" (9 sajak). Beberapa sajak Toeti yang dimuat dalam buku ini pernah diterbitkan, seperti "Sajak-Sajak 33".

    Sebagai kumpulan sajak karya penyair perempuan, sajak-sajak dalam Mimpi dan Pretensi mengungkapkan pengalaman dan persoalan seputar dunia perempuan. Sajak-sajak dalam Mimpi dan Pretensi mengungkap gejala stereotip perempuan Indonesia yang kemudian menjadi ilham bagi penulisan sajak perempuan pada umumnya. Sajak-sajak Toeti tersebut mengungkapkan secara khas perasaan perempuan yang perlu diperhatikan dalam dunia yang dikuasai oleh kaum lelaki. Ada semacam gugatan di dalam sajaknya, yakni pemberontakan terhadap dominasi kekuasaan lelaki terhadap kaum perempuan, terutama dominasi antara hubungan lelaki dan perempuan sebagai suami istri ataupun sejawat. Contoh yang sangat baik mengenai gugatan perempuan terhadap dominasi laki-laki ini dapat dilihat dalam sajaknya yang berjudul "Manifesto".

    Korrie Layun Rampan (1984) mengemukakan ihwal pemberontakan atau gugatan kaum perempuan terhadap laki-laki yang terungkap dalam beberapa sajak Toeti Heraty. Korrie juga mengatakan bahwa sajak-sajak Toeti yang terhimpun dalam Mimpi dan Pretensi jelas-jelas menunjukkan sikap rasional dan intelektual. Sajak-sajak tersebut secara keseluruhan menyuarakan kesangsian dan karena selalu sangsi, sang penyair membawa tokoh-tokoh dalam sajaknya untuk memberontak dan untuk dapat menemukan personalitas manusia yang hakiki sebagai manusia yang bisa seratus persen menyandang kemerdekaannya.

    Dalam menginterpretasikan sajak-sajak Toeti Heraty kadang-kadang diperlukan pemahaman yang filosofis. Sajak-sajaknya kadang-kadang membawa pembaca kepada semacam perenungan dan pemahaman yang matang mengenai kemanusiaan. Sebagai pengarang, Toeti juga dapat menertawakan diri sendiri atau pembaca, sebagai bagian dari dunia yang digambarkannya, tanpa harus menimbulkan kecengengan sebagai perempuan yang merasa tertindas oleh dominasi lelaki.

    Teeuw (1980) mengupas beberapa sajak Toeti Heraty yang terdapat dalam Mimpi dan Pretensi, seperti "Cocktail Party". Menurut Teeuw, sajak ini sangat halus dan rumit. Struktur dan maknanya bertingkat-tingkat, yakni mulai dengan fakta, kemudian berkembang pada perenungan tentang makna Cocktail Party itu. Kerangka sajak ini memiliki konvensi sajak modern yang sangat banyak menggunakan konvensi pemakaian 'aku' dan 'kau' sebagai rangkanya. Selain itu, sajak ini dapat dipandang sebagai contoh sajak modern yang menarik karena menyulitkan pembaca untuk memahaminya. Yang paling menonjol dari sajaknya ini adalah ironi, bahasa keseharian, dan semangat individualistik yang dapat dianggap sebagai ciri sajak modern.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Tumi Bermimpi
    Judul : Tumi Bermimpi Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-4 No. 2 Tgl.Publikasi 1 Oktober 1958 Provinsi: Provinsi DKI Jakarta Kabupaten/Kota: Kota.Jakarta Pusat
  • Tumi Bermimpi
    Judul : Tumi Bermimpi Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-4 No. 2 Tgl.Publikasi 1 Oktober 1958 Provinsi: Provinsi DKI Jakarta Kabupaten/Kota: Kota.Jakarta Pusat
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa