• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Nusa Penida   (1949)
Kategori: Karya Sastra

 

Nusa Penida merupakan novel karya Andjar Asmara setebal 297 halaman. Cetakan pertamanya diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1949. Nusa Penida merupakan novel satu-satunya yang dihasilkan pengarang kelahiran Alahan Panjang, Sumatera Barat itu. Mungkin karena pengalamannya sebagai redaktur Penerbit Kolff di Surabaya dan sebagai wartawan, ia berhasil menulis sebuah novel dengan latar tempat dan latar sosial Bali.

Nusa Penida menceritakan kisah cinta segitiga antara Pandan Sari yang sejak kanak-kanak diasuh oleh Pak Murda dengan kedua anak Pak Murda, I Jaya dan I Pangeh. Ketika Pandan Sari dibawa ke istana, ia merasa terikat. Karena rindunya pada I Jaya, berkali-kali Pandan Sari minta agar kastanya diturunkan sebagai orang biasa sehingga ia dapat menikah dengan I Jaya. Cinta Pandan Sari dan I jaya mengalami cobaan karena I Jaya yang telah membunuh orang dibuang oleh raja ke Nusa Penida selama 10 tahun. Pada saat itu permintaan Pandan Sari akhirnya dikabulkan. Pandan Sari diturunkan kastanya sebagai orang biasa. Pandan Sari berusaha mengejar I Jaya, tetapi ia terlambat. Kapal yang membawa I Jaya menuju Pulau Nusa Penida sudah berangkat.

Beberapa bulan sesudah I Jaya dibuang ke Nusa Penida, ia dikabarkan meninggal dunia. Setelah mendengar kabar itu, Pandan Sari terpaksa menikah dengan I Pangeh untuk membalas budi Pak Murda yang telah mengasuhnya. Pernikahan itu membuahkan seorang anak laki-laki. Berita pernikahan Pandan Sari dan I Pangeh terdengar oleh I Jaya di Nusa Penida. Diam-diam I Jaya menyusul dan mengajak Pandan Sari lari. Percakapan antara Pandan Sari dan I Jaya terdengar oleh I Pangeh. Ia mengejar I Jaya dan hampir menghunuskan kerisnya ke tubuh kakaknya. Ia teringat akan pesan ayahnya bahwa keris itu dapat mendinginkan hati yang panas, apabila terjadi perselisihan antara mereka bertiga.

Kedatangan I Jaya terdengar hingga istana. Mereka melakukan pengejaran. Tembakan polisi istana mengenai dada I Jaya. I Jaya terhanyut di ombak yang pasang. Ia terdampar di pantai yang tidak jauh dari rumahnya. Ia ditemukan oleh I Pageh yang langsung membawanya pulang ke rumah. Ia berpesan agar keluarganya tetap dipelihara dan agar I Pangeh dan Pandan Sari dapat menjadi suami isteri yang rukun, damai, dan berbahagia.

Menurut Maman S. Mahayana dkk. (1992), Nusa Penida adalah novel yang menarik walaupun gambaran tradisi Bali kurang terlihat. Ia menarik karena menyajikan ketegangan terutama di bagian akhir. Nusa Penida juga menyampaikan tema adat perkawinan seperti tema novel-novel Balai Pustaka sebelum perang. Nusa Penida tampak ingin mengangkat masalah kasta di masyarakat Bali. Tokoh I Murda yang berkasta Sudra menyelamatkan Gusti Ayu Pandan Sari, putri Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, yang kemudian menikah dengan I Pangeh, anak kedua I Murda. Anak pertamanya, I Jaya, karena cintanya kepada adiknya dan Pandan Sari, rela mengorbankan diri demi kebahagiaan mereka. Kasta ternyata tidak menentukan keluhuran budi seseorang. Keluhuran budi ditentukan oleh kepribadian masing-masing orang tanpa melihat kasta mereka.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Refleksi Sastra Nusantara di Jawa Timur: Sebuah Inventarisasi Naskah-Naskah Lama Jawa
    Peneliti : Bambang Purnomo, dkk. Tanggal Penelitian : 01-01-2001 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap teks-teks sastra lama Nusantara yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur yang dapat ...
  • PEMANTAUAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI MEDIA LUAR RUANG DAN DOKUMEN RESMI DAERAH DI NUSA TENGGARA BARAT
    Peneliti : Nuryati Kasman Lalu Erwan Husnan Syaiful Bahri Tanggal Penelitian : 01-03-2017 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2017 Abstrak :Kegiatan pemantauan penggunaan bahasa Indonesia di media ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Nusa Penida   (1949)
    Kategori: Karya Sastra

     

    Nusa Penida merupakan novel karya Andjar Asmara setebal 297 halaman. Cetakan pertamanya diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1949. Nusa Penida merupakan novel satu-satunya yang dihasilkan pengarang kelahiran Alahan Panjang, Sumatera Barat itu. Mungkin karena pengalamannya sebagai redaktur Penerbit Kolff di Surabaya dan sebagai wartawan, ia berhasil menulis sebuah novel dengan latar tempat dan latar sosial Bali.

    Nusa Penida menceritakan kisah cinta segitiga antara Pandan Sari yang sejak kanak-kanak diasuh oleh Pak Murda dengan kedua anak Pak Murda, I Jaya dan I Pangeh. Ketika Pandan Sari dibawa ke istana, ia merasa terikat. Karena rindunya pada I Jaya, berkali-kali Pandan Sari minta agar kastanya diturunkan sebagai orang biasa sehingga ia dapat menikah dengan I Jaya. Cinta Pandan Sari dan I jaya mengalami cobaan karena I Jaya yang telah membunuh orang dibuang oleh raja ke Nusa Penida selama 10 tahun. Pada saat itu permintaan Pandan Sari akhirnya dikabulkan. Pandan Sari diturunkan kastanya sebagai orang biasa. Pandan Sari berusaha mengejar I Jaya, tetapi ia terlambat. Kapal yang membawa I Jaya menuju Pulau Nusa Penida sudah berangkat.

    Beberapa bulan sesudah I Jaya dibuang ke Nusa Penida, ia dikabarkan meninggal dunia. Setelah mendengar kabar itu, Pandan Sari terpaksa menikah dengan I Pangeh untuk membalas budi Pak Murda yang telah mengasuhnya. Pernikahan itu membuahkan seorang anak laki-laki. Berita pernikahan Pandan Sari dan I Pangeh terdengar oleh I Jaya di Nusa Penida. Diam-diam I Jaya menyusul dan mengajak Pandan Sari lari. Percakapan antara Pandan Sari dan I Jaya terdengar oleh I Pangeh. Ia mengejar I Jaya dan hampir menghunuskan kerisnya ke tubuh kakaknya. Ia teringat akan pesan ayahnya bahwa keris itu dapat mendinginkan hati yang panas, apabila terjadi perselisihan antara mereka bertiga.

    Kedatangan I Jaya terdengar hingga istana. Mereka melakukan pengejaran. Tembakan polisi istana mengenai dada I Jaya. I Jaya terhanyut di ombak yang pasang. Ia terdampar di pantai yang tidak jauh dari rumahnya. Ia ditemukan oleh I Pageh yang langsung membawanya pulang ke rumah. Ia berpesan agar keluarganya tetap dipelihara dan agar I Pangeh dan Pandan Sari dapat menjadi suami isteri yang rukun, damai, dan berbahagia.

    Menurut Maman S. Mahayana dkk. (1992), Nusa Penida adalah novel yang menarik walaupun gambaran tradisi Bali kurang terlihat. Ia menarik karena menyajikan ketegangan terutama di bagian akhir. Nusa Penida juga menyampaikan tema adat perkawinan seperti tema novel-novel Balai Pustaka sebelum perang. Nusa Penida tampak ingin mengangkat masalah kasta di masyarakat Bali. Tokoh I Murda yang berkasta Sudra menyelamatkan Gusti Ayu Pandan Sari, putri Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai, yang kemudian menikah dengan I Pangeh, anak kedua I Murda. Anak pertamanya, I Jaya, karena cintanya kepada adiknya dan Pandan Sari, rela mengorbankan diri demi kebahagiaan mereka. Kasta ternyata tidak menentukan keluhuran budi seseorang. Keluhuran budi ditentukan oleh kepribadian masing-masing orang tanpa melihat kasta mereka.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Refleksi Sastra Nusantara di Jawa Timur: Sebuah Inventarisasi Naskah-Naskah Lama Jawa
    Peneliti : Bambang Purnomo, dkk. Tanggal Penelitian : 01-01-2001 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap teks-teks sastra lama Nusantara yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur yang dapat ...
  • PEMANTAUAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI MEDIA LUAR RUANG DAN DOKUMEN RESMI DAERAH DI NUSA TENGGARA BARAT
    Peneliti : Nuryati Kasman Lalu Erwan Husnan Syaiful Bahri Tanggal Penelitian : 01-03-2017 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2017 Abstrak :Kegiatan pemantauan penggunaan bahasa Indonesia di media ...
  • Refleksi Sastra Nusantara di Jawa Timur: Sebuah Inventarisasi Naskah-Naskah Lama Jawa
    Peneliti : Bambang Purnomo, dkk. Tanggal Penelitian : 01-01-2001 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap teks-teks sastra lama Nusantara yang tumbuh dan berkembang di Jawa Timur yang dapat ...
  • PEMANTAUAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI MEDIA LUAR RUANG DAN DOKUMEN RESMI DAERAH DI NUSA TENGGARA BARAT
    Peneliti : Nuryati Kasman Lalu Erwan Husnan Syaiful Bahri Tanggal Penelitian : 01-03-2017 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2017 Abstrak :Kegiatan pemantauan penggunaan bahasa Indonesia di media ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa