• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Malam Djahanam   (1950)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Malam Djahanam merupakan salah satu lakon (drama) terbaik Indonesia pada dekade tahun 50-an. Lakon yang ditulis oleh Motinggo Boesje tersebut memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Naskah Drama yang diselenggarakan oleh Bagian Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1958. Oleh majalah Budaja, Malam Djahanam pernah dimuat dalam edisi khusus tahun VIII, Nomor 3/4/5, Maret/April/Mei 1959. Lakon ini pertama kali diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1961 dan diterbitkan kembali oleh Pustaka Jaya pada tahun 1995 dengan ketebalan 77 halaman.

Lakon sebabak (panjangnya hanya 17 halaman) tersebut didukung oleh enam pelaku, Mat Kontan, Paidjah, Soleman, Utai, Tukang Pijit, dan si Kontan Kecil. Naskah Malam Djahanam masih tersimpan dengan baik di Perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Sebagai salah satu lakon terbaik, Malam Djahanam tidak hanya sering dipentaskan, tetapi juga pernah difilmkan. Hamsad Rangkuti, ketika masih duduk di bangku SMP, pernah mementaskan lakon tersebut bersama teman-temannya di kota kecil Kisaran, Medan. Tahun 1970 perusahaan film Pitrajaya Purnama telah memfilmkannya.

Menurut pengakuan Motinggo Boesje, Malam Djahanam (dan beberapa karyanya yang lain) ditulis berdasarkan "model" yang telah ada. "Aku mengarang harus pakai 'model'. Dalam hal film dan drama, harus kelihatan tokohnya dahulu," demikian akunya. "Sebagaimana dramaku, Malam Djahanam, model Mat Kontannya adalah temanku M. Nizar. Nanti ia pulalah yang berperan sebagai Mat Kontan," lanjutnya. Dan memang benar, dalam beberapa kali pementasan Malam Djahanam, M. Nazir yang seorang pengarang, pelukis, dan sahabat dekat Motinggo Boesje selalu menjadi tokoh Mat Kontan.

Lakon yang ditulis ketika Motinggo Boesje berada di Yogyakarta (kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada) tersebut menampilkan konflik emosi secara dramatik serta menggarap unsur ketegangan dan kejutan dengan pas dalam alur. Hubungan cinta segitiga antara Mat Kontan, Paidjah (istri Mat Kontan yang cantik dan menggairahkan) dan Soleman (tetangga Mat Kontan yang penuh simpatik) menjadi inti Malam Djahanam. Mat Kontan, seorang nelayan kaya, selalu membangga-banggakan barang miliknya berupa kekayaan, perkutut-perkutut, beo, dan kecantikan istrinya. Hanya satu hal yang tidak dapat dibanggakan Mat Kontan, kejantanannya. Ia mandul sehingga tidak dapat menghamili istrinya yang cantik dan menggairahkan. Untuk menutupi "ketidakmampuan" tersebut, Mat Kontan menjadi penjudi, pemabuk, dan sok jagoan. Ia jarang sekali berada di rumah sehingga Paidjah merasa kesepian dan menerima "kehadiran" Soleman, tetangganya. Sebagai akibatnya, Paidjah hamil dan melahirkan si Kontan Kecil.

Dialog antarpelaku dalam Malam Djahanam digarap dengan cermat sehingga mencerminkan gejolak emosi dan perubahan posisi mereka dalam menyikapi ketegangan-ketegangan yang muncul, seperti saat menghadapi si Kontan Kecil yang sakit dan saat menghadapi misteri kematian burung beo kesayangan Mat Kontan. Posisi yang berubah-ubah secara tak terduga serta akhir cerita yang tragis mencekam, seperti pengejaran Mat Kontan terhadap Soleman, laporan kematian anak buah Mat Kontan (Utai, si dungu), dan jeritan Paidjah yang menangisi kematian si Kontan Kecil, menjadikan drama sebabak tersebut sebagai lakon yang padat dan intens. Intensitas dialog menunjukkan "perang emosi". Perubahan posisi dan perasaan para pelaku tersebut mengingatkan pada lakon-lakon Anton Chekov. Secara eksplisit, Budianta (1999) menyebutkan bahwa permainan latar, simbolisme, dan tema Malam Djahanam mengingatkan pada lakon Eugene O'Neill berjudul Desire Under the Elms.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Bukan Pasar Malam
    Bukan Pasar Malam dikenal sebagai novelet karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit tahun 1950 oleh Balai Pustaka. Pada tahun 1999, Bara Budaya Yogyakarta menerbitkan ulang novelet itu. Novelet ...
  • Malam Kuala Lumpur
    Malam Kuala Lumpur merupakan novel karya Nasjah Djamin yang diterbitkan pertama kali oleh Pembangunan (1968) dan diterbitkan ulang oleh Pustaka Jaya (1983). Malam Kuala Lumpur memiliki ketebalan ...
  • Datang Malam
    Datang Malam merupakan kumpulan cerita pendek karya Bokor Hutasuhut yang diterbitkan pada tahun 1963 oleh NV Nusantara, Bukittinggi dan Jakarta. Format buku itu berukuran 13 x 18 cm. Dalam ...
  • Kisah di Malam Sunji
    Judul : Kisah di Malam Sunji Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 29 Tgl.Publikasi 8 Agustus 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Suatu Malam di Rumah Bibi
    Judul : Suatu Malam di Rumah Bibi Bahasa : Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-II No. 27 Tgl.Publikasi 6 Juli 1954 Provinsi: Provinsi Jawa Timur Kabupaten/Kota: Kota.Surabaya
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Malam Djahanam   (1950)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Malam Djahanam merupakan salah satu lakon (drama) terbaik Indonesia pada dekade tahun 50-an. Lakon yang ditulis oleh Motinggo Boesje tersebut memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Naskah Drama yang diselenggarakan oleh Bagian Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1958. Oleh majalah Budaja, Malam Djahanam pernah dimuat dalam edisi khusus tahun VIII, Nomor 3/4/5, Maret/April/Mei 1959. Lakon ini pertama kali diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1961 dan diterbitkan kembali oleh Pustaka Jaya pada tahun 1995 dengan ketebalan 77 halaman.

    Lakon sebabak (panjangnya hanya 17 halaman) tersebut didukung oleh enam pelaku, Mat Kontan, Paidjah, Soleman, Utai, Tukang Pijit, dan si Kontan Kecil. Naskah Malam Djahanam masih tersimpan dengan baik di Perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Sebagai salah satu lakon terbaik, Malam Djahanam tidak hanya sering dipentaskan, tetapi juga pernah difilmkan. Hamsad Rangkuti, ketika masih duduk di bangku SMP, pernah mementaskan lakon tersebut bersama teman-temannya di kota kecil Kisaran, Medan. Tahun 1970 perusahaan film Pitrajaya Purnama telah memfilmkannya.

    Menurut pengakuan Motinggo Boesje, Malam Djahanam (dan beberapa karyanya yang lain) ditulis berdasarkan "model" yang telah ada. "Aku mengarang harus pakai 'model'. Dalam hal film dan drama, harus kelihatan tokohnya dahulu," demikian akunya. "Sebagaimana dramaku, Malam Djahanam, model Mat Kontannya adalah temanku M. Nizar. Nanti ia pulalah yang berperan sebagai Mat Kontan," lanjutnya. Dan memang benar, dalam beberapa kali pementasan Malam Djahanam, M. Nazir yang seorang pengarang, pelukis, dan sahabat dekat Motinggo Boesje selalu menjadi tokoh Mat Kontan.

    Lakon yang ditulis ketika Motinggo Boesje berada di Yogyakarta (kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada) tersebut menampilkan konflik emosi secara dramatik serta menggarap unsur ketegangan dan kejutan dengan pas dalam alur. Hubungan cinta segitiga antara Mat Kontan, Paidjah (istri Mat Kontan yang cantik dan menggairahkan) dan Soleman (tetangga Mat Kontan yang penuh simpatik) menjadi inti Malam Djahanam. Mat Kontan, seorang nelayan kaya, selalu membangga-banggakan barang miliknya berupa kekayaan, perkutut-perkutut, beo, dan kecantikan istrinya. Hanya satu hal yang tidak dapat dibanggakan Mat Kontan, kejantanannya. Ia mandul sehingga tidak dapat menghamili istrinya yang cantik dan menggairahkan. Untuk menutupi "ketidakmampuan" tersebut, Mat Kontan menjadi penjudi, pemabuk, dan sok jagoan. Ia jarang sekali berada di rumah sehingga Paidjah merasa kesepian dan menerima "kehadiran" Soleman, tetangganya. Sebagai akibatnya, Paidjah hamil dan melahirkan si Kontan Kecil.

    Dialog antarpelaku dalam Malam Djahanam digarap dengan cermat sehingga mencerminkan gejolak emosi dan perubahan posisi mereka dalam menyikapi ketegangan-ketegangan yang muncul, seperti saat menghadapi si Kontan Kecil yang sakit dan saat menghadapi misteri kematian burung beo kesayangan Mat Kontan. Posisi yang berubah-ubah secara tak terduga serta akhir cerita yang tragis mencekam, seperti pengejaran Mat Kontan terhadap Soleman, laporan kematian anak buah Mat Kontan (Utai, si dungu), dan jeritan Paidjah yang menangisi kematian si Kontan Kecil, menjadikan drama sebabak tersebut sebagai lakon yang padat dan intens. Intensitas dialog menunjukkan "perang emosi". Perubahan posisi dan perasaan para pelaku tersebut mengingatkan pada lakon-lakon Anton Chekov. Secara eksplisit, Budianta (1999) menyebutkan bahwa permainan latar, simbolisme, dan tema Malam Djahanam mengingatkan pada lakon Eugene O'Neill berjudul Desire Under the Elms.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Bukan Pasar Malam
    Bukan Pasar Malam dikenal sebagai novelet karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit tahun 1950 oleh Balai Pustaka. Pada tahun 1999, Bara Budaya Yogyakarta menerbitkan ulang novelet itu. Novelet ...
  • Malam Kuala Lumpur
    Malam Kuala Lumpur merupakan novel karya Nasjah Djamin yang diterbitkan pertama kali oleh Pembangunan (1968) dan diterbitkan ulang oleh Pustaka Jaya (1983). Malam Kuala Lumpur memiliki ketebalan ...
  • Datang Malam
    Datang Malam merupakan kumpulan cerita pendek karya Bokor Hutasuhut yang diterbitkan pada tahun 1963 oleh NV Nusantara, Bukittinggi dan Jakarta. Format buku itu berukuran 13 x 18 cm. Dalam ...
  • Kisah di Malam Sunji
    Judul : Kisah di Malam Sunji Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 29 Tgl.Publikasi 8 Agustus 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Suatu Malam di Rumah Bibi
    Judul : Suatu Malam di Rumah Bibi Bahasa : Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-II No. 27 Tgl.Publikasi 6 Juli 1954 Provinsi: Provinsi Jawa Timur Kabupaten/Kota: Kota.Surabaya
  • Bukan Pasar Malam
    Bukan Pasar Malam dikenal sebagai novelet karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit tahun 1950 oleh Balai Pustaka. Pada tahun 1999, Bara Budaya Yogyakarta menerbitkan ulang novelet itu. Novelet ...
  • Malam Kuala Lumpur
    Malam Kuala Lumpur merupakan novel karya Nasjah Djamin yang diterbitkan pertama kali oleh Pembangunan (1968) dan diterbitkan ulang oleh Pustaka Jaya (1983). Malam Kuala Lumpur memiliki ketebalan ...
  • Datang Malam
    Datang Malam merupakan kumpulan cerita pendek karya Bokor Hutasuhut yang diterbitkan pada tahun 1963 oleh NV Nusantara, Bukittinggi dan Jakarta. Format buku itu berukuran 13 x 18 cm. Dalam ...
  • Kisah di Malam Sunji
    Judul : Kisah di Malam Sunji Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 29 Tgl.Publikasi 8 Agustus 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Suatu Malam di Rumah Bibi
    Judul : Suatu Malam di Rumah Bibi Bahasa : Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-II No. 27 Tgl.Publikasi 6 Juli 1954 Provinsi: Provinsi Jawa Timur Kabupaten/Kota: Kota.Surabaya
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa