• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Meditasi   (1972)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Meditasi merupakan sajak karya Abdul Hadi W.M. yang ditulis pada tahun 1972 kemudian dimuat dalam majalah Horison No. 3, Tahun IX, 1974, di halaman 85. Sajak itu dimuat juga dalam Laut Biru Langit Biru (Rosidi, 1977). Meditasi lantas menjadi judul buku kumpulan sajak Abdul Hadi W.M. yang diterbitkan oleh PN Balai Pustaka, Jakarta. Cetakan pertama kumpulan sajak tersebut diterbitkan tahun 1983 dengan tebal 71 halaman. Sebelumnya, kumpulan sajak tersebut diterbitkan dalam edisi khusus oleh majalah Budaya Jaya tahun 1976. Meditasi meraih penghargaan sebagai buku sajak terbaik yang terbit pada tahun 1976/1977 dari Dewan Kesenian Jakarta.

Meditasi memuat 31 judul sajak, yaitu (1) "La Condition Humaine" (hlm.13), (2) "Jurang" (hlm.14), (3) "Amsal Seekor Kucing" (hlm.15), (4) "Percakapan Bayang-Bayang" (hlm.16), (5) "Dalam Gelap" (hlm.17), (6) "Bayang-Bayang" (hlm.18), (7) "Kupunya" (hlm.19), (8) "Optismisme" (hlm.20), (9) "Maut dan Waktu" (hlm.21), (10) "Ninabobo Sebuah Ayunan" (hlm.22—23), (11) "Laut" (hlm.24—25), (12) "Cengkrik" (hlm.26), (13) "Nyanyian" (hlm.27), (14) "Melati" (hlm.28), (15) "Sehabis Hujan Kecil" (hlm.29), (16) "Ke Mana" (hlm.30), (17) "Ninabobo Sebilah Pisau" (hlm.31), (18) "Gerimis" (hlm.32—36), (19) "Nyanyian Kabut" (hlm.37), (20) "Surat- Surat" (hlm.38), (21) "Lanskap Malam Akhir Musim Hujan" (hlm.39), (22) "Kusebut" (hlm.40), (23) "Siang" (hlm.41), (24) "Larut Malam, Hamburg Musim Panas" (hlm.42), (25) "Atas Kabut" (hlm.43), (26) "Kadang" (hlm.44), (27) "Aku Berikan" (hlm.45), (28) "Meditasi" (hlm.46—50), (29) "Untuk Sebuah Catatan Harian" (hlm.51), (30) "Di Bawah Bulan yang Baru Muncul" (hlm.52—56), dan (31) "Labirin" (hlm.57—71).

Sajak "Meditasi" termasuk jenis sajak lirik. Tokoh dalam sajak tersebut adalah aku, tetapi golongan sosial serta jenis kelamin tokoh tidak jelas. Demikian pula identitas tokoh lainnya tidak jelas. Di samping tokoh manusia, ada juga tokoh nonmanusia, yaitu seekor lilin, kuil, yin-yang, makam kaisar, gapura yin-yang, beribu sungai, tebing gunung, bintang kemukus, sofa, arca, daun salam, lumut, dan kota di langit. Dalam sajak tersebut terdapat Bidadari Cina, seorang tokoh mitologi. Peristiwa yang dinarasikan merupakan peristiwa rekaan dengan bentuk sajak bebas (modern). "Meditasi" terdiri atas 2 bait, 23 larik, atau 156 kata. Isi sajak tersebut mengacu pada mitologi Cina Kuno. Dalam sajak tersebut, penyair menggunakan bahasa Indonesia baku, sedangkan tipografinya konvensional. Sajak "Meditasi" yang diterbitkan dalam majalah dan buku kumpulan sajak ternyata isinya berbeda walaupun judulnya sama.

Menurut Sutardji Calzoum Bachri dalam harian Angkatan Bersenjata, 30 Oktober 1978, Abdul Hadi adalah penyair yang selalu berkembang. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mengembangkan bakat bersajaknya dengan baik. Ia dikenal sebagai penyair yang prolirik dan tema-tema sajaknya beraneka ragam. A. Teeuw (1979) mengatakan bahwa sajak-sajak Abdul Hadi adalah sajak murni. Bahasa menggerakkannya bersajak. Tema-tema sajaknya terutama mengenai kesepian, kematian, dan waktu. Banyak sajaknya yang bersifat religius. Pada awalnya ciri religiusnya bersifat Islam, tetapi kemudian mendekati mistikisme Jawa. Abdul Hadi mengembangkan bentuk-bentuk komunikasi personal antara tokoh "aku" dan "engkau". "Engkau" terkadang jelas identifikasinya sebagai Tuhan, tetapi terkadang menjadi kekasih "aku" atau alter ego. Tuhan terkadang sama dengan hidup, alam, dan jiwa universalitas kosmik. Pernyataan A. Teeuw tampak jelas dalam sebagian besar sajak Abdul Hadi dalam Meditasi, terutama dalam sajak "Meditasi", "Labirin", "Laut", "Gerimis", dan "Di Bawah Bulan yang Baru Muncul".

Dari membaca sajak-sajak tersebut, tepatlah apa yang dikatakan H.B. Jassin dalam Harian Berita Buana, 28 Februari 1977 bahwa Abdul Hadi adalah penyair yang memiliki pemikiran atau latar belakang estetik yang terlihat jelas dalam sajaknya. Ia menulis sajak-sajaknya dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang ia sadari. Menurut Nurdin Setiadi dalam harian Berita Buana, Selasa, 27 Desember 1983, Meditasi memuat beberapa sajak yang terdiri dari episode-episode hingga satu judul sajak terpecah menjadi beberapa bagian. Kumpulan ini dibuka dengan sajaknya yang berjudul "La Condition Humaine".

Damiri Mahmud dalam Waspada, Minggu, 18 Januari 1981 menyatakan bahwa Meditasi adalah satu dari kumpulan sajak penyair lirik Indonesia yang paling terkemuka saat itu. Meditasi mengantarkan pembaca kepada suasana dan renungan tentang keberadaan manusia dalam berbagai dimensi kosmos dan renungan transendental tentang ketuhanan dan keagamaan. Meditasi juga menyiratkan kuatnya keinginan-keinginan manusia pada pencapaian harmonisasi kehidupan untuk menuju kemurnian jiwa. Kekuatan tersebut dicari manusia dalam sifat-sifat mereka yang tersembunyi, alam yang luas, struktur kehidupan modern, kesunyian, dan maut. Harmonisasi kehidupan yang dicari tanpa letih tersebut tampaknya dialami penyair juga, yaitu ketika manusia melebur dan larut dalam keberadaannya.

 
PENCARIAN TERKAIT