• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Kuli Kontrak   (1982)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Kuli Kontrak merupakan kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis yang diterbitkan tahun 1982 oleh Sinar Harapan. Tebal buku itu adalah 164 halaman dengan teks yang dilengkapi gambar berjumlah 6 buah. Desain sampul dibuat oleh But Muchtar, sedangkan ilustrasinya dibuat oleh Kresnamurti dari Studio Wyia Risdi. Desain sampul buku berwarna hitam. Di tengah buku itu ada lingkaran berwarna merah bergambar sebuah kursi berkaki manusia yang dibalut kain putih. Dari kursi itu ada darah yang menetes.

Kumpulan cerpen Kuli Kontrak memuat 18 cerpen, yakni "Kuli Kontrak", "Cemburu", "Traktor", "Sewanya Bisa Dibeli", "La Badinda", "Sinyo Brandi", "Rumah Jati", "Hidup Singkat Si Comat yang Berbahagia", "Jibakuta", "Cincin Berlian", "Soal Warna Kulit Saja", "Peraturan, "Mengapa Karena Tidak Suka Berbicara", "Potret", "Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jaka", "Menggantung Diri", "Binatang Malam Jadi Hidup", "Kuburan Kramat", dan "Nasonalis Nomor Satu".

Kuli Kontak memaparkan kehidupan para penguasa yang menindas rakyat kecil dan kebobrokan moral para pejabat pemerintah.. Hal itu seperti yang dikisahkan ketika seorang ayah terpaksa menyiksa bangsanya sendiri yang diperlakukan tidak adil oleh opzicter karena sistem kolonial mengharuskan ia berbuat demikian.

Kuli Kontrak, antara lain, dibicarakan oleh Jakob Sumardjo dan Bambang Bujono. Jakob Sumardjo (1984) menyatakan bahwa Mochtar Lubis menunjukkan sebagai sastrawan pengamat sosial yang teliti dan peka. Hampir dipastikan semua cerpennya berdasarkan kondisi sosial yang nyata, bukan lamunan, dan bukan fiksi yang dapat dikembalikan pada sejarah kotemporernya. Meskipun demikian, Mochtar Lubis masih berhasil mengangkat kenyataan zaman itu sebagai masalah kemanusiaan yang akan terjadi kemudian atau sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah. Hal itu terjadi terutama karena Mochtar Lubis merupakan manusia gelisah yang selalu bertanya mengapa masyarakatnya terutama masyarakat rendahan selalu jadi korban ketidakadilan, kesengsaraan, dan kemiskinan.

Setiap cerpennya menegaskan bahwa nasib seorang rakyat amat ditentukan oleh baik buruknya pola dan sistem sosial atau politik yang berlaku. Semua cerpennya tadi ditulis dengan gaya yang jernih, sederhana langsung tanpa renda kata-kata, tanpa ekspresi yang meledak dan emosional. Bahkan, dalam beberapa cerpennya sering muncul humor yang telak mengandung ejekan.

Bambang Bujono (1983) mengatakan bahwa cerita pendek Mochtar adalah cerita pendek yang praktis. Ia tidak suka berbelit-belit. Ia pun lebih cendrung meringkas suasana, gambaran lokasi, profil tokoh utama cukup disebut yang penting saja. Maka, yang bisa mengikat pembaca adalah isi kisah yang cenderung karikatural.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Kulisusu
    Provinsi Sulawesi Tenggara Bahasa Kulisusu dituturkan oleh masyarakat di (1) Desa Korolabu, Kecamatan Kulisusu Utara, Kabupaten Buton Utara; (2) Desa Bubu, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara; ...
  • Tingkat Penguasaan Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia di Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Andalas
    Peneliti : Rita Novita Tanggal Penelitian : 09-01-2003 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :-
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Kuli Kontrak   (1982)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Kuli Kontrak merupakan kumpulan cerita pendek karya Mochtar Lubis yang diterbitkan tahun 1982 oleh Sinar Harapan. Tebal buku itu adalah 164 halaman dengan teks yang dilengkapi gambar berjumlah 6 buah. Desain sampul dibuat oleh But Muchtar, sedangkan ilustrasinya dibuat oleh Kresnamurti dari Studio Wyia Risdi. Desain sampul buku berwarna hitam. Di tengah buku itu ada lingkaran berwarna merah bergambar sebuah kursi berkaki manusia yang dibalut kain putih. Dari kursi itu ada darah yang menetes.

    Kumpulan cerpen Kuli Kontrak memuat 18 cerpen, yakni "Kuli Kontrak", "Cemburu", "Traktor", "Sewanya Bisa Dibeli", "La Badinda", "Sinyo Brandi", "Rumah Jati", "Hidup Singkat Si Comat yang Berbahagia", "Jibakuta", "Cincin Berlian", "Soal Warna Kulit Saja", "Peraturan, "Mengapa Karena Tidak Suka Berbicara", "Potret", "Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jaka", "Menggantung Diri", "Binatang Malam Jadi Hidup", "Kuburan Kramat", dan "Nasonalis Nomor Satu".

    Kuli Kontak memaparkan kehidupan para penguasa yang menindas rakyat kecil dan kebobrokan moral para pejabat pemerintah.. Hal itu seperti yang dikisahkan ketika seorang ayah terpaksa menyiksa bangsanya sendiri yang diperlakukan tidak adil oleh opzicter karena sistem kolonial mengharuskan ia berbuat demikian.

    Kuli Kontrak, antara lain, dibicarakan oleh Jakob Sumardjo dan Bambang Bujono. Jakob Sumardjo (1984) menyatakan bahwa Mochtar Lubis menunjukkan sebagai sastrawan pengamat sosial yang teliti dan peka. Hampir dipastikan semua cerpennya berdasarkan kondisi sosial yang nyata, bukan lamunan, dan bukan fiksi yang dapat dikembalikan pada sejarah kotemporernya. Meskipun demikian, Mochtar Lubis masih berhasil mengangkat kenyataan zaman itu sebagai masalah kemanusiaan yang akan terjadi kemudian atau sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah. Hal itu terjadi terutama karena Mochtar Lubis merupakan manusia gelisah yang selalu bertanya mengapa masyarakatnya terutama masyarakat rendahan selalu jadi korban ketidakadilan, kesengsaraan, dan kemiskinan.

    Setiap cerpennya menegaskan bahwa nasib seorang rakyat amat ditentukan oleh baik buruknya pola dan sistem sosial atau politik yang berlaku. Semua cerpennya tadi ditulis dengan gaya yang jernih, sederhana langsung tanpa renda kata-kata, tanpa ekspresi yang meledak dan emosional. Bahkan, dalam beberapa cerpennya sering muncul humor yang telak mengandung ejekan.

    Bambang Bujono (1983) mengatakan bahwa cerita pendek Mochtar adalah cerita pendek yang praktis. Ia tidak suka berbelit-belit. Ia pun lebih cendrung meringkas suasana, gambaran lokasi, profil tokoh utama cukup disebut yang penting saja. Maka, yang bisa mengikat pembaca adalah isi kisah yang cenderung karikatural.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Kulisusu
    Provinsi Sulawesi Tenggara Bahasa Kulisusu dituturkan oleh masyarakat di (1) Desa Korolabu, Kecamatan Kulisusu Utara, Kabupaten Buton Utara; (2) Desa Bubu, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara; ...
  • Tingkat Penguasaan Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia di Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Andalas
    Peneliti : Rita Novita Tanggal Penelitian : 09-01-2003 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :-
  • Kulisusu
    Provinsi Sulawesi Tenggara Bahasa Kulisusu dituturkan oleh masyarakat di (1) Desa Korolabu, Kecamatan Kulisusu Utara, Kabupaten Buton Utara; (2) Desa Bubu, Kecamatan Kambowa, Kabupaten Buton Utara; ...
  • Tingkat Penguasaan Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia di Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Andalas
    Peneliti : Rita Novita Tanggal Penelitian : 09-01-2003 Dipublikasikan : TERBIT Abstrak :-
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa