• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Karto Iya Bilang Mboten   (1981)
Kategori: Karya Sastra

 

Karto Iya Bilang Mboten merupakan kumpulan sajak Darmanto Jatman yang diterbitkan oleh Karya Aksara, Semarang, tahun 1981. Desain kulit muka dibuat oleh Centhong, H.A.S., dan desain kulit dalam dibuat oleh M.M., sedangkan gambar belakang buku itu dibuat oleh Danarto. Kumpulan itu berisi 12 sajak. Akan tetapi, dalam tulisannya di Kompas (Minggu, 26 April 1981), Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa sajak pertama dalam buku itu yang berjudul "Jeng" sebenarnya merupakan semacam pengantar untuk buku itu dari penulisnya. Sebelas judul lainnya adalah "Marto Klungsu dari Leiden", "Pidato Ki Lurah Karangkedempel Sewaktu Menerima Mahasiswa Kakaen di Desanya", "Surat dari Soma Transmigrasi untuk Saudaranya Mangunkarsa", "Hal-hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada", "Teori Probabiliti Tukitu", "Kisah Karto Tukul dan Saudaranya Atmo Boten", "Anak", "Nyanyian Matahari Tambran", "Rumah", "Dunia Teduh Sesudah Topan", dan "Sambel Bawang dan Terasi".

Arswendo Atmowiloto memberikan ilustrasi singkat tentang judul kumpulan sajak itu dengan inti antara "ya" dan "tidak". Seorang bernama Karto dari desa Karangkedempel suatu ketika berkunjung kepada kenalan lamanya di kota. Ketika melihat Karto yang letih, bahkan seperti lapar, tuan rumah mengajak makan. Jawaban yang khas dari Karto ialah mboten yang artinya tidak, baik dengan atau tanpa gelengan kepala. Jadi, mboten itu bisa juga artinya iya. Kalau dipaksa lirih dan dibujuk-bujuk, biasanya Karto akan mau juga ikut makan. Akan tetapi, bisa juga tidak mau makan sama sekali. Jadi, mboten yang sama diucapkan dalam hal itu hanya mungkin ditangkap oleh yang mengenal dan memahami budaya yang sama, yang memahami suasana, dan yang sadar latar belakang sosial yang bisa menangkap pengertian mboten-nya Karto. Nama Karto, Karangdempel adalah nama Jawa lengkap dengan segala perilaku dan kerangka pemikiran serta penalarannya. Arswendo mengingatkan agar pembaca sajak itu hendaknya berhati-hati menangkap maksud jika Karto Iya Bilang mBoten dengan huruf /m/ yang diucapkan kental. Menurut Arswendo, Karto Iya Bilang Mboten, lebih khas mewadahi sikap penyairnya (Darmanto Jatman) yang ndugal, sedikit ugal-ugalan meskipun ia tidak berhenti pada sekadar kelakar, mengejek, dan mencari-cari efek yang aneh-aneh seperti dalam kumpulan sajak Ki Blakasuta Bla Bla.

Kumpulan sajak ini berbicara tentang masyarakat desa bukan dalam bentuk protes, melainkan dalam suasana batin masyarakat desa itu, terutama masyarakat Jawa. Suara batin tidak pernah diketahui pasti, jelas, dan defitutif, seperti kalau terungkap dengan kata mboten atau iya.

Jakob Sumardjo menanggapi Karto Iya Bilang Mboten sebagai sajak-sajak yang menunjukkan pengucapan yang sederhana, bagai bahasa percakapan sehingga tidak sulit dipahami dan hampir merupakan prosa liris. Sajak itu lebih banyak rnengandung pernyataan daripada penggambaran-penggambaran meskipun tetap dapat menggambarkan kebobrokan sosial. Akan tetapi, bahasa percakapan itu adalah bahasa Jawa sehingga hanya orang yang pernah hidup di lingkungan pemakai bahasa itu yang dapat menangkap suasana sajak Darmanto. Walaupun dalam sajaknya ia mengambil kata dari bahasa Jawa, Inggris, Belanda, atau Hawai, rnisalnya, kata-kata itu merupakan kata-kata yang bisa diucapkan dalam bahasa Jawa. Jadi, referensi budaya Jawa sangat vital untuk memahami sajak-sajak Darmanto. Sajak-sajak itu penuh berisi pendapat yang dituturkan dalam bahasa prosa yang berirama.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Bahau Ujoh Bilang
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Bahau Ujoh Bilang dituturkan oleh masyarakat di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Menurut pengakuan ...
  • Kaiya
    Provinsi Papua Bahasa Kaiya (Kaiy) dituturkan oleh Oitai dan Seritai di Kampung Kai, Distrik Rufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Selain bahasa Kaiya (Kaiy), di Kampung Kai dituturkan ...
  • Wiyagar
    Provinsi Papua Bahasa Wiyagar dituturkan oleh masyarakat Kampung Sigare, Distrik Assue, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Bahasa Wiyagar juga dituturkan oleh masyarakat Kaitok dan Yame di sebelah ...
  • Wiyagar
    Nama Lain: Kayagar, Kaygir, Kajagar Provinsi: Provinsi Papua Kabupaten/Kota: Kabupaten.Mappi Kategori: Aman Status: belum terkonservasi
  • Triyanto Triwikromo
    Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan putra dari pasangan Mardino dan Mardiyah yang lahir di Pungkur Sari, Salatiga, tepatnya tanggal 15 September 1964. Masa pendidikannya dilewatkan di ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Karto Iya Bilang Mboten   (1981)
    Kategori: Karya Sastra

     

    Karto Iya Bilang Mboten merupakan kumpulan sajak Darmanto Jatman yang diterbitkan oleh Karya Aksara, Semarang, tahun 1981. Desain kulit muka dibuat oleh Centhong, H.A.S., dan desain kulit dalam dibuat oleh M.M., sedangkan gambar belakang buku itu dibuat oleh Danarto. Kumpulan itu berisi 12 sajak. Akan tetapi, dalam tulisannya di Kompas (Minggu, 26 April 1981), Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa sajak pertama dalam buku itu yang berjudul "Jeng" sebenarnya merupakan semacam pengantar untuk buku itu dari penulisnya. Sebelas judul lainnya adalah "Marto Klungsu dari Leiden", "Pidato Ki Lurah Karangkedempel Sewaktu Menerima Mahasiswa Kakaen di Desanya", "Surat dari Soma Transmigrasi untuk Saudaranya Mangunkarsa", "Hal-hal yang Mokal-Mokal dalam Lakon Mokal Badranaya Lawan Narada", "Teori Probabiliti Tukitu", "Kisah Karto Tukul dan Saudaranya Atmo Boten", "Anak", "Nyanyian Matahari Tambran", "Rumah", "Dunia Teduh Sesudah Topan", dan "Sambel Bawang dan Terasi".

    Arswendo Atmowiloto memberikan ilustrasi singkat tentang judul kumpulan sajak itu dengan inti antara "ya" dan "tidak". Seorang bernama Karto dari desa Karangkedempel suatu ketika berkunjung kepada kenalan lamanya di kota. Ketika melihat Karto yang letih, bahkan seperti lapar, tuan rumah mengajak makan. Jawaban yang khas dari Karto ialah mboten yang artinya tidak, baik dengan atau tanpa gelengan kepala. Jadi, mboten itu bisa juga artinya iya. Kalau dipaksa lirih dan dibujuk-bujuk, biasanya Karto akan mau juga ikut makan. Akan tetapi, bisa juga tidak mau makan sama sekali. Jadi, mboten yang sama diucapkan dalam hal itu hanya mungkin ditangkap oleh yang mengenal dan memahami budaya yang sama, yang memahami suasana, dan yang sadar latar belakang sosial yang bisa menangkap pengertian mboten-nya Karto. Nama Karto, Karangdempel adalah nama Jawa lengkap dengan segala perilaku dan kerangka pemikiran serta penalarannya. Arswendo mengingatkan agar pembaca sajak itu hendaknya berhati-hati menangkap maksud jika Karto Iya Bilang mBoten dengan huruf /m/ yang diucapkan kental. Menurut Arswendo, Karto Iya Bilang Mboten, lebih khas mewadahi sikap penyairnya (Darmanto Jatman) yang ndugal, sedikit ugal-ugalan meskipun ia tidak berhenti pada sekadar kelakar, mengejek, dan mencari-cari efek yang aneh-aneh seperti dalam kumpulan sajak Ki Blakasuta Bla Bla.

    Kumpulan sajak ini berbicara tentang masyarakat desa bukan dalam bentuk protes, melainkan dalam suasana batin masyarakat desa itu, terutama masyarakat Jawa. Suara batin tidak pernah diketahui pasti, jelas, dan defitutif, seperti kalau terungkap dengan kata mboten atau iya.

    Jakob Sumardjo menanggapi Karto Iya Bilang Mboten sebagai sajak-sajak yang menunjukkan pengucapan yang sederhana, bagai bahasa percakapan sehingga tidak sulit dipahami dan hampir merupakan prosa liris. Sajak itu lebih banyak rnengandung pernyataan daripada penggambaran-penggambaran meskipun tetap dapat menggambarkan kebobrokan sosial. Akan tetapi, bahasa percakapan itu adalah bahasa Jawa sehingga hanya orang yang pernah hidup di lingkungan pemakai bahasa itu yang dapat menangkap suasana sajak Darmanto. Walaupun dalam sajaknya ia mengambil kata dari bahasa Jawa, Inggris, Belanda, atau Hawai, rnisalnya, kata-kata itu merupakan kata-kata yang bisa diucapkan dalam bahasa Jawa. Jadi, referensi budaya Jawa sangat vital untuk memahami sajak-sajak Darmanto. Sajak-sajak itu penuh berisi pendapat yang dituturkan dalam bahasa prosa yang berirama.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Bahau Ujoh Bilang
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Bahau Ujoh Bilang dituturkan oleh masyarakat di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Menurut pengakuan ...
  • Kaiya
    Provinsi Papua Bahasa Kaiya (Kaiy) dituturkan oleh Oitai dan Seritai di Kampung Kai, Distrik Rufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Selain bahasa Kaiya (Kaiy), di Kampung Kai dituturkan ...
  • Wiyagar
    Provinsi Papua Bahasa Wiyagar dituturkan oleh masyarakat Kampung Sigare, Distrik Assue, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Bahasa Wiyagar juga dituturkan oleh masyarakat Kaitok dan Yame di sebelah ...
  • Wiyagar
    Nama Lain: Kayagar, Kaygir, Kajagar Provinsi: Provinsi Papua Kabupaten/Kota: Kabupaten.Mappi Kategori: Aman Status: belum terkonservasi
  • Triyanto Triwikromo
    Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan putra dari pasangan Mardino dan Mardiyah yang lahir di Pungkur Sari, Salatiga, tepatnya tanggal 15 September 1964. Masa pendidikannya dilewatkan di ...
  • Bahau Ujoh Bilang
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Bahau Ujoh Bilang dituturkan oleh masyarakat di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Menurut pengakuan ...
  • Kaiya
    Provinsi Papua Bahasa Kaiya (Kaiy) dituturkan oleh Oitai dan Seritai di Kampung Kai, Distrik Rufaer, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Selain bahasa Kaiya (Kaiy), di Kampung Kai dituturkan ...
  • Wiyagar
    Provinsi Papua Bahasa Wiyagar dituturkan oleh masyarakat Kampung Sigare, Distrik Assue, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua. Bahasa Wiyagar juga dituturkan oleh masyarakat Kaitok dan Yame di sebelah ...
  • Wiyagar
    Nama Lain: Kayagar, Kaygir, Kajagar Provinsi: Provinsi Papua Kabupaten/Kota: Kabupaten.Mappi Kategori: Aman Status: belum terkonservasi
  • Triyanto Triwikromo
    Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan putra dari pasangan Mardino dan Mardiyah yang lahir di Pungkur Sari, Salatiga, tepatnya tanggal 15 September 1964. Masa pendidikannya dilewatkan di ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa