• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Kemarau   (1957)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Kemarau merupakan salah satu novel karya A.A. Navis yang yang pertama kali diterbitkan oleh N.V. Nusantara, Bukittinggi pada tahun 1957, cetakan kedua diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Jakarta pada tahun 1977, dan cetakan ketiga diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta pada tahun 1992. Seperti halnya dengan karya-karya A.A. Navis yang lain, novel Kemarau ini juga diilhami oleh film Naked Island.

Novel ini mengisahkan ketika musim kemarau panjang datang, menimpa negeri ini, para petani semakin merasa berputus asa. Sawah dan ladang mereka sangat kering dan cuaca panas sangat menyengat tubuh. Keadaan itu membuat mereka tidak lagi mau menggarap sawah atau mengairi sawah mereka. Mereka hanya bermalas-malasan dan bermain kartu saja.

Namun, ada seorang petani yang tidak ikut bermalas-malasan, Sutan Duano. Dalam keadaan kemarau panjang ini, ia tetap mengairi sawahnya dengan rnengangkat air dari danau yang ada di sekitar desa mereka sehingga padinya tetap tumbuh. Ia tidak menghiraukan panas matahari yang membakar tubuhnya. la berharap agar para petani di desanya mengikuti perbuatan yang ia lakukan. Ia juga berusaha memberikan ceramah kepada ibu-ibu yang ikut dalam pengajian di surau desa mereka. Namun, tak satu pun petani yang menghiraukan ceramahnya apalagi mengikuti langkah-langkah yang dilakukannya. Tampaknya, keputusasaan penduduk desa telah sampai pada puncaknya. Suatu hari ada seorang bocah kecil bernama Acin yang membantunya mengairi sawah sehingga keduanya saling bergantian mengambil air di danau dan mengairi sawah mereka. Penduduk desa yang melihat kerja sama antara keduanya bukannya mencontoh apa yang mereka lakukan, melainkan mempergunjingkan dan menyebar fitnah, bahwa sutan Duano mencoba mencari perhatian Gundam, ibu si bocah itu, yang memang seorang janda. Bahkan, seorang janda yang menaruh hati pada Sutan Duano pun kemudian mempercayai gunjingan itu.

Gunjingan itu semakin memanaskan telinga Sutan Duano, tetapi ia tidak menanggapinya dan tetap bersikap tenang. Suatu hari ia menerima telegram dari Masri, anaknya yang sudah dua puluh tahun disia-siakannya. Anak itu memintanya pergi ke Surabaya. Dalam hatinya, ia ingin bertemu dengan anak semata wayangnya itu, namun ia tidak mau rneninggalkan si bocah kecil yang masih memerlukan bimbingannya. Setelah mempertimbangkan masak-masak, ia pun memutuskan pergi ke Surabaya. Sementara itu, para penduduk desa merasa kehilangan atas kepergiannya. Apalagi setelah mereka membuktikan bahwa semua saran yang diberikan oleh Sutan Duano membuahkan hasil. Mereka menyesal telah salah sangka terhadapnya.

Sementara itu, sesampainya Sutan Duano di Surabaya, hatinya menjadi hancur ketika ia bertemu dengan rnertua anaknya. Ternyata mertua anaknya adalah Iyah, mantan istrinya. Ia marah kepada Iyah karena telah menikahkan dua orang yang bersaudara. Karena marahnya itu, Sutan Duano mengancam akan memberitahukan kepada Masri dan Arni. Namun, Iyah berusaha menghalanginya dengan memukul kepala mantan suaminya itu dengan sepotong kayu. Kalau saja Arni tidak menghalanginya, kemungkinan besar Sutan Duano tidak akan selamat. Melihat mantan suaminya bersimbah darah, Iyah rnerasa menyesal kemudian ia memberitahukan kepada Arni bahwa Sutan Duano adalah mantan suaminya. Betapa terkejutnya Arni mendengarnya. Ia kemudian menceritakan hal itu kepada Masri, sehingga mereka sepakat berpisah. Tak lama kemudian, Iyah meninggal dunia, sedangkan Sutan Duano pulang ke kampung halamannya dan menikah dengan Gundam.

Melalui novel Kemarau itu, A.A. Navis ingin menyindir dua sisi masyarakat dalam memahami syariat Islam. Di satu sisi masyarakat yang disindir Navis itu adalah masyarakat yang hanya mementingkan ibadah dalam arti sempit dan malas bekerja. Di sisi lain, ia menekankan pentingnya kerja keras karena kerja keras itu juga merupakan bagian penting dari ibadah kita (Damono, 1992). Hal yang lebih khusus lagi, yakni dalam karya A.A. Navis ini terlihat adanya kritik tajam terhadap orang Islam yang mempunyai pemahaman sangat dangkal tentang hakikat ajaran Islam.

A.A. Navis melalui karya-karyanya mempunyai perhatian yang besar terhadap tema-tema keagamaan, khususnya agama Islam. Oleh karena itu, Ajip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982) menyebut A.A. Navis sebagai seorang pengarang Islam. Perhatiannya yang besar tentang tema keislamaman itu yang membedakannya dengan para pengarang sezamannya yang lebih memperhatikan perenungan hidup semata (Sumardjo, 1992). Karya-karya Navis di satu sisi menyindir orang yang hanya mementingkan ibadah dalam arti sempit, tetapi malas bekerja; di sisi lain menekankan pentingnya kerja keras karena kerja keras itu juga merupakan bagian penting dari ibadah kita (A.A. Navis, 1992).

Putu Wijaya dalam artikelnya yang berjudul "Wajah Kita di Mata Navis" dalam majalah Tempo (Tahun XX, No. 45, 5 Januari 1991) mengatakan bahwa kritik-kritik Navis diungkapkan dengan gaya humor yang halus dan dialog-dialog yang segar sehingga tidak ada kesan menggurui pembaca. Kritik yang dilontarkan Navis melalui karya-karya adalah tajam sarkastik, tetapi penuh dengan humor. Navis menyodok tanpa mengepalkan tangan.

Ready Susanto dalam artikelnya yang berjudul "Pelangi Ironi", ketajaman sindirin Navis adalah ketajaman orang dewasa. Ia sering bertanya dan pertanyaan yang diajukannya itu sebenarnya adalah sindiran tentang keadaan yang ia tahu benar keadaan itu.

 
PENCARIAN TERKAIT