• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Ken Arok dan Ken Dedes   (1951)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Ken Arok dan Ken Dedes merupakan nama raja dan permaisuri di Kerajaan Singosari yang diterbitkan menjadi sebuah buku oleh Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1951, dengan tiras sebanyak tiga ribu eksemplar dan jumlah halaman sebanyak 68 lembar lengkap dengan halaman kata pengantar. Diangkat menjadi judul drama Muhammad Yamin dan pertama kali dipentaskan pada puncak acara Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda), 28 Oktober 1928. Enam tahun kemudian, drama tersebut dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe (1934) pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana.

Drama ini mengangkat masalah perjuangan dan kehidupan Kerajaan Singosari yang pernah jaya pada masa lalu. Temanya adalah rasa keadilan harus ditegakkan. Dalam drama itu, antara lain, diperlihatkan keadaan suatu sidang kerajaan menanggapi situasi negeri. Pada suatu hari di Bangsal Witana, Kerajaan Singasari, sedang digelar rapat pengangkatan seorang putra mahkota. Rajasa-nama lain Ken Arok setelah menjadi Raja Singasari-bersikukuh hendak memilih Mahisa Wong Ateleng untuk menjadi putra mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukannya di singgasana Kerajaan Singasari. Namun, para pembesar istana yang lain seperti Mahamenteri Rakian Hino, Mahamenteri Sirikan, dan Mahamenteri Hulu lebih cenderung memilih Anusapati Panji Anengah. Alasan para pembesar kerajaan itu hanya Anusapatilah yang pantas menjadi putra mahkota karena anak sulung. Ken Arok tetap memilih Mahisa Wong Ateleng, adik Anusapati, sebagai putra mahkota tanpa memerinci lebih lanjut alasan yang menjadi dasar pemilihannya itu.

Anusapati kecewa atas keputusan ayahandanya itu. Suatu hari ketika Anusapati sedang merenungkan hal itu, datanglah ibunya, Ken Dedes. Ken Dedes memberi tahu kepada Anusapati tentang siapa sebenarnya dirinya itu dan siapa pula ayahnya itu. Atas pemberitahuan ibunya itu, Anusapati baru mengetahui bahwa Ken Arok bukanlah ayah kandungnya. Ayah kandungnya adalah Tunggul Ametung yang telah dibunuh oleh Ken Arok dengan sebilah keris Empu Gandring. Akhirnya, Anusapati menuntut balas atas kematian ayahnya.

Di Bangsal Witana kembali digelar rapat penobatan putra mahkota yang akan segera menggantikan Ken Arok. Dalam rapat itu terjadi perdebatan yang sengit dan tajam. Brahmana Lohgawe, penasihat kerajaan, ikut serta dalam rapat penobatan putra mahkota tersebut. Atas desakan Brahmana, akhirnya Ken Arok menyadari bahwa apa yang pernah dilakukannya pada masa lampau merupakan kesalahan. Sebagai seorang ksatria, ia harus berani mengakui semua kesalahan yang pernah diperbuatnya. Oleh karena itu, Ken Arok pun berani mati di ujung keris Empu Gandring setelah Singasari berhasil dipersatukan.

Ken Arok menerima hukuman mati sesuai dengan kesalahan yang pernah diperbuatnya. Namun, sebelum menjalani hukuman mati itu, Ken Arok lebih dahulu telah memikirkan kelangsungan hidup negerinya. Hal itu terbukti dengan adanya pengangkatan putra mahkota, Anusapati, menjadi Raja Singasari yang menggantikan dirinya. Sepeninggal Ken Arok, Ken Dedes pun ikut bunuh diri sebagai tanda kesetiaan istri kepada suaminya.

Peneliti dan kritikus sastra menggolongkan drama ini sebagai karya Angkatan Pra-Pujangga Baru. Buku Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1920-1960 (Santosa, 1993) dalam pokok bahasan "Hubungan Manusia dan Masyarakat" menyatakan bahwa drama ini merupakan perwujudan citra manusia yang berusaha menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Kenyah
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Kenyah dituturkan oleh masyarakat di Desa Inaran, Kecamatan Sambaliung dan Desa Gunung Sari, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau; di Desa Datah Bilang Ulu, ...
  • Kenyah
    Provinsi Kalimantan Utara Bahasa Kenyah dituturkan oleh masyarakat di Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau. Tepatnya di Desa Jelarai Selor, Kecamatan Tanjung Selor, Desa Long Tungu, Kecamatan ...
  • Wambon Kenondik
    Provinsi Papua Bahasa Wambon Kenondik (Wombon, Womsi) dituturkan oleh masyarakat Kampung Manggelum, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di Kampung ...
  • Asal Usul Danau Lut Tawar Takengon
    Suku : Aceh Genre : Cerita Rakyat Provinsi: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten/Kota: Kabupaten.Aceh Tengah Kecamatan: Lut Tawar, Kebayakan, Bebesan, Bintang Penyebaran: Lut Tawar, Kebayakan, ...
  • Kenyam Niknene
    Provinsi Papua Bahasa Kenyam Niknene dituturkan oleh masyarakat Kampung Talma, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Bahasa Kenyam Niknene dituturkan juga di Kampung Kenyam dan Mamugu 2. ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Ken Arok dan Ken Dedes   (1951)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Ken Arok dan Ken Dedes merupakan nama raja dan permaisuri di Kerajaan Singosari yang diterbitkan menjadi sebuah buku oleh Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1951, dengan tiras sebanyak tiga ribu eksemplar dan jumlah halaman sebanyak 68 lembar lengkap dengan halaman kata pengantar. Diangkat menjadi judul drama Muhammad Yamin dan pertama kali dipentaskan pada puncak acara Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda), 28 Oktober 1928. Enam tahun kemudian, drama tersebut dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe (1934) pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana.

    Drama ini mengangkat masalah perjuangan dan kehidupan Kerajaan Singosari yang pernah jaya pada masa lalu. Temanya adalah rasa keadilan harus ditegakkan. Dalam drama itu, antara lain, diperlihatkan keadaan suatu sidang kerajaan menanggapi situasi negeri. Pada suatu hari di Bangsal Witana, Kerajaan Singasari, sedang digelar rapat pengangkatan seorang putra mahkota. Rajasa-nama lain Ken Arok setelah menjadi Raja Singasari-bersikukuh hendak memilih Mahisa Wong Ateleng untuk menjadi putra mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukannya di singgasana Kerajaan Singasari. Namun, para pembesar istana yang lain seperti Mahamenteri Rakian Hino, Mahamenteri Sirikan, dan Mahamenteri Hulu lebih cenderung memilih Anusapati Panji Anengah. Alasan para pembesar kerajaan itu hanya Anusapatilah yang pantas menjadi putra mahkota karena anak sulung. Ken Arok tetap memilih Mahisa Wong Ateleng, adik Anusapati, sebagai putra mahkota tanpa memerinci lebih lanjut alasan yang menjadi dasar pemilihannya itu.

    Anusapati kecewa atas keputusan ayahandanya itu. Suatu hari ketika Anusapati sedang merenungkan hal itu, datanglah ibunya, Ken Dedes. Ken Dedes memberi tahu kepada Anusapati tentang siapa sebenarnya dirinya itu dan siapa pula ayahnya itu. Atas pemberitahuan ibunya itu, Anusapati baru mengetahui bahwa Ken Arok bukanlah ayah kandungnya. Ayah kandungnya adalah Tunggul Ametung yang telah dibunuh oleh Ken Arok dengan sebilah keris Empu Gandring. Akhirnya, Anusapati menuntut balas atas kematian ayahnya.

    Di Bangsal Witana kembali digelar rapat penobatan putra mahkota yang akan segera menggantikan Ken Arok. Dalam rapat itu terjadi perdebatan yang sengit dan tajam. Brahmana Lohgawe, penasihat kerajaan, ikut serta dalam rapat penobatan putra mahkota tersebut. Atas desakan Brahmana, akhirnya Ken Arok menyadari bahwa apa yang pernah dilakukannya pada masa lampau merupakan kesalahan. Sebagai seorang ksatria, ia harus berani mengakui semua kesalahan yang pernah diperbuatnya. Oleh karena itu, Ken Arok pun berani mati di ujung keris Empu Gandring setelah Singasari berhasil dipersatukan.

    Ken Arok menerima hukuman mati sesuai dengan kesalahan yang pernah diperbuatnya. Namun, sebelum menjalani hukuman mati itu, Ken Arok lebih dahulu telah memikirkan kelangsungan hidup negerinya. Hal itu terbukti dengan adanya pengangkatan putra mahkota, Anusapati, menjadi Raja Singasari yang menggantikan dirinya. Sepeninggal Ken Arok, Ken Dedes pun ikut bunuh diri sebagai tanda kesetiaan istri kepada suaminya.

    Peneliti dan kritikus sastra menggolongkan drama ini sebagai karya Angkatan Pra-Pujangga Baru. Buku Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1920-1960 (Santosa, 1993) dalam pokok bahasan "Hubungan Manusia dan Masyarakat" menyatakan bahwa drama ini merupakan perwujudan citra manusia yang berusaha menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Kenyah
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Kenyah dituturkan oleh masyarakat di Desa Inaran, Kecamatan Sambaliung dan Desa Gunung Sari, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau; di Desa Datah Bilang Ulu, ...
  • Kenyah
    Provinsi Kalimantan Utara Bahasa Kenyah dituturkan oleh masyarakat di Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau. Tepatnya di Desa Jelarai Selor, Kecamatan Tanjung Selor, Desa Long Tungu, Kecamatan ...
  • Wambon Kenondik
    Provinsi Papua Bahasa Wambon Kenondik (Wombon, Womsi) dituturkan oleh masyarakat Kampung Manggelum, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di Kampung ...
  • Asal Usul Danau Lut Tawar Takengon
    Suku : Aceh Genre : Cerita Rakyat Provinsi: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten/Kota: Kabupaten.Aceh Tengah Kecamatan: Lut Tawar, Kebayakan, Bebesan, Bintang Penyebaran: Lut Tawar, Kebayakan, ...
  • Kenyam Niknene
    Provinsi Papua Bahasa Kenyam Niknene dituturkan oleh masyarakat Kampung Talma, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Bahasa Kenyam Niknene dituturkan juga di Kampung Kenyam dan Mamugu 2. ...
  • Kenyah
    Provinsi Kalimantan Timur Bahasa Kenyah dituturkan oleh masyarakat di Desa Inaran, Kecamatan Sambaliung dan Desa Gunung Sari, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau; di Desa Datah Bilang Ulu, ...
  • Kenyah
    Provinsi Kalimantan Utara Bahasa Kenyah dituturkan oleh masyarakat di Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau. Tepatnya di Desa Jelarai Selor, Kecamatan Tanjung Selor, Desa Long Tungu, Kecamatan ...
  • Wambon Kenondik
    Provinsi Papua Bahasa Wambon Kenondik (Wombon, Womsi) dituturkan oleh masyarakat Kampung Manggelum, Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoul, Provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di Kampung ...
  • Asal Usul Danau Lut Tawar Takengon
    Suku : Aceh Genre : Cerita Rakyat Provinsi: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Kabupaten/Kota: Kabupaten.Aceh Tengah Kecamatan: Lut Tawar, Kebayakan, Bebesan, Bintang Penyebaran: Lut Tawar, Kebayakan, ...
  • Kenyam Niknene
    Provinsi Papua Bahasa Kenyam Niknene dituturkan oleh masyarakat Kampung Talma, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Bahasa Kenyam Niknene dituturkan juga di Kampung Kenyam dan Mamugu 2. ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa