• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Kabut Rendah   (1968)
Kategori: Karya Sastra

 

Kabut Rendah merupakan novel karya Toha Mohtar yang diterbitkan oleh Penerbit Budayata, Jakarta, tahun 1968 dalam dua edisi. Pada edisi pertama ilustrasi kulit dibuat oleh Toha Mohtar dan edisi kedua dibuat oleh Cayo Saty. Novel Kabut Rendah pernah dimuat secara bersambung dalam majalah El Bahar mulai Nomor 192—219, tahun ketiga, 20 September 24 Desember 1968. Novel itu terdiri atas 173 halaman.

Dalam perkembangan sastra Indonesia novel Kabut Rendah dapat memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia modern. Novel itu mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN tahun 1968. Berdasarkan kata pengantar penerbitnya, novel itu merupakan novel perjuangan yang paling baik. Walaupun berpredikat sebagai novel perjuangan yang paling baik, novel tersebut jarang dibicarakan oleh kritikus.

Kabut Rendah mengisahkan tentang perjuangan wartawan, bernama Massadjar, yang meninggal dunia karena ditembak oleh mata-mata Belanda, Paluha. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Ketiga orang anaknya itu tidak mengenal ayahnya karena ketika ayahnya meninggal, mereka masih kecil.

Setelah ketiga anaknya dewasa, Sunar, anak pertama, ingin meneruskan jejak ayahnya sebagai wartawan. Oleh karena itu, Sunar kuliah mengambil jurusan Jurnalistik. Atas bantuan temannya, Bisono, Sunar dapat bekerja sebagai wartawan di mingguan Warta Dunia sambil kuliah. Akan tetapi, baru tiga belas bulan ia bekerja, mingguan itu tidak terbit lagi karena ada perselisihan antara pemberi modal dan pemimpin redaksi.

Sejak berpisah dengan ibunya, Sunar tidak pernah mengirim berita sehingga ibu dan kedua adiknya selalu gelisah memikirkan nasib Sunar. Adik Sunar, Andi, menyarankan agar ibunya melepaskan Sunar dari pikirannya karena Sunar sudah dewasa dan akan dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya.

Novel Kabut Rendah bertema perjuangan dalam peperangan pada masa revolusi yang membuat manusia mampu mengatasi penderitaan. Aspek yang menonjol adalah hubungan manusia dengan manusia lain. Hubungan itu terlihat dari interaksi antartokoh dalam menghadapi masa perjuangan dalam peperangan.

Novel Kabut Rendah terdiri atas sebelas bagian dan antarbagian yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Bagian Pertama mengisahkan tokoh Paluha yang menembak seorang wartawan. Bagian Kedua mengisahkan Paluha bermimpi dan terbayang-bayang pada wartawan yang ditembak; Bagian Ketiga bercerita tentang upacara penguburan jenazah wartawan; Bagian Keempat bercerita tentang istri wartawan yang meminta pertolongan kepada Sersan Wolters; Bagian Kelima bercerita tentang tokoh Sum, istri wartawan, yang merasa dendam kepada Paluha; Bagian Keenam berisi kisah Sum yang menceritakan keadaan suaminya kepada anak-anaknya; Bagian Ketujuh berisi kisah Sunar, anak Sum, yang mewarisi pekerjaan ayahnya, sebagai wartawan; Bagian Kedelapan mengisahkan Sunar yang telah bekerja di mingguan Warta Dunia; Bagian Kesembilan menceritakan Sunar dan kawan-kawan yang mendiskusikan penderitaan rakyat Indonesia; Bagian Kesepuluh menceritakan keadaan Sunar yang dipuji oleh Pak Salam karena rajin bekerja; dan Bagian Kesebelas bercerita tentang Sum yang mengkhawatirkan Sunar, anaknya, karena lama tidak berkirim surat atau berita.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Kabut Sutra Ungu
    Kabut Sutra Ungu merupakan novel karya Ike Soepomo yang diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Variasi Jaya, Kartini Grup, Jakarta pada tahun 1978. Ketebalan novel itu 241 halaman. Ilustrasi kulit ...
  • Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia Tingkat SMA, MA, dan SMK di Jawa Timur : Studi Kasus di Kota Surabaya dan Malang
    Peneliti : Tri Winiasih dan Awaludin Rusiandi Tanggal Penelitian : 01-01-2011 Abstrak :Penelitian yang berjudul “ Faktor- Faktor yang Memengaruhi Rendahnya Nilai UN Bahasa Indonesia  ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Kabut Rendah   (1968)
    Kategori: Karya Sastra

     

    Kabut Rendah merupakan novel karya Toha Mohtar yang diterbitkan oleh Penerbit Budayata, Jakarta, tahun 1968 dalam dua edisi. Pada edisi pertama ilustrasi kulit dibuat oleh Toha Mohtar dan edisi kedua dibuat oleh Cayo Saty. Novel Kabut Rendah pernah dimuat secara bersambung dalam majalah El Bahar mulai Nomor 192—219, tahun ketiga, 20 September 24 Desember 1968. Novel itu terdiri atas 173 halaman.

    Dalam perkembangan sastra Indonesia novel Kabut Rendah dapat memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia modern. Novel itu mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN tahun 1968. Berdasarkan kata pengantar penerbitnya, novel itu merupakan novel perjuangan yang paling baik. Walaupun berpredikat sebagai novel perjuangan yang paling baik, novel tersebut jarang dibicarakan oleh kritikus.

    Kabut Rendah mengisahkan tentang perjuangan wartawan, bernama Massadjar, yang meninggal dunia karena ditembak oleh mata-mata Belanda, Paluha. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Ketiga orang anaknya itu tidak mengenal ayahnya karena ketika ayahnya meninggal, mereka masih kecil.

    Setelah ketiga anaknya dewasa, Sunar, anak pertama, ingin meneruskan jejak ayahnya sebagai wartawan. Oleh karena itu, Sunar kuliah mengambil jurusan Jurnalistik. Atas bantuan temannya, Bisono, Sunar dapat bekerja sebagai wartawan di mingguan Warta Dunia sambil kuliah. Akan tetapi, baru tiga belas bulan ia bekerja, mingguan itu tidak terbit lagi karena ada perselisihan antara pemberi modal dan pemimpin redaksi.

    Sejak berpisah dengan ibunya, Sunar tidak pernah mengirim berita sehingga ibu dan kedua adiknya selalu gelisah memikirkan nasib Sunar. Adik Sunar, Andi, menyarankan agar ibunya melepaskan Sunar dari pikirannya karena Sunar sudah dewasa dan akan dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya.

    Novel Kabut Rendah bertema perjuangan dalam peperangan pada masa revolusi yang membuat manusia mampu mengatasi penderitaan. Aspek yang menonjol adalah hubungan manusia dengan manusia lain. Hubungan itu terlihat dari interaksi antartokoh dalam menghadapi masa perjuangan dalam peperangan.

    Novel Kabut Rendah terdiri atas sebelas bagian dan antarbagian yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Bagian Pertama mengisahkan tokoh Paluha yang menembak seorang wartawan. Bagian Kedua mengisahkan Paluha bermimpi dan terbayang-bayang pada wartawan yang ditembak; Bagian Ketiga bercerita tentang upacara penguburan jenazah wartawan; Bagian Keempat bercerita tentang istri wartawan yang meminta pertolongan kepada Sersan Wolters; Bagian Kelima bercerita tentang tokoh Sum, istri wartawan, yang merasa dendam kepada Paluha; Bagian Keenam berisi kisah Sum yang menceritakan keadaan suaminya kepada anak-anaknya; Bagian Ketujuh berisi kisah Sunar, anak Sum, yang mewarisi pekerjaan ayahnya, sebagai wartawan; Bagian Kedelapan mengisahkan Sunar yang telah bekerja di mingguan Warta Dunia; Bagian Kesembilan menceritakan Sunar dan kawan-kawan yang mendiskusikan penderitaan rakyat Indonesia; Bagian Kesepuluh menceritakan keadaan Sunar yang dipuji oleh Pak Salam karena rajin bekerja; dan Bagian Kesebelas bercerita tentang Sum yang mengkhawatirkan Sunar, anaknya, karena lama tidak berkirim surat atau berita.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Kabut Sutra Ungu
    Kabut Sutra Ungu merupakan novel karya Ike Soepomo yang diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Variasi Jaya, Kartini Grup, Jakarta pada tahun 1978. Ketebalan novel itu 241 halaman. Ilustrasi kulit ...
  • Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia Tingkat SMA, MA, dan SMK di Jawa Timur : Studi Kasus di Kota Surabaya dan Malang
    Peneliti : Tri Winiasih dan Awaludin Rusiandi Tanggal Penelitian : 01-01-2011 Abstrak :Penelitian yang berjudul “ Faktor- Faktor yang Memengaruhi Rendahnya Nilai UN Bahasa Indonesia  ...
  • Kabut Sutra Ungu
    Kabut Sutra Ungu merupakan novel karya Ike Soepomo yang diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Variasi Jaya, Kartini Grup, Jakarta pada tahun 1978. Ketebalan novel itu 241 halaman. Ilustrasi kulit ...
  • Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia Tingkat SMA, MA, dan SMK di Jawa Timur : Studi Kasus di Kota Surabaya dan Malang
    Peneliti : Tri Winiasih dan Awaludin Rusiandi Tanggal Penelitian : 01-01-2011 Abstrak :Penelitian yang berjudul “ Faktor- Faktor yang Memengaruhi Rendahnya Nilai UN Bahasa Indonesia  ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa