• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Di Dalam Lembah Kehidupan   (1940)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Hamka) yang memuat sepuluh cerpen. Kumpulan cerita pendek itu pertama kali diterbitkan oleh Pedoman Masyarakat pada tahun 1939 dan diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1940. Cetakan kelima yang terbit pada tahun 1958 memuat 12 cerpen yang berjumlah 185 halaman, sedangkan cetakan ketujuh berjumlah 213 halaman. Cetakan kedelapan pada tahun 1967 dilakukan oleh penerbit yang sama dan memuat satu cerpen tambahan sehingga tebalnya menjadi 272 halaman. Pada tahun 1983, kumpulan cerpen ini diterbitkan kembali oleh Penerbit Bulan Bintang, setebal 204 halaman.

Di Dalam Lembah Kehidupan memuat cerpen berikut ini: (1) "Pasar Malam", (2) "Inyik Utih" (3) "Pendjual Es Lilin", (4) "Anak Tinggal", (5) "Bunda Kandung", (6) "Gadis Basanai", (7) "Istri Jang Tua", (8) "Anak Jang Hilang ", (9)"Malam Sekaten", (10)"Anak Dapat", (11) "Tjinta dan Darah", dan (12) "Disuruh Meminta Ampun", (13) "Didjemput Mamaknya".

Di dalam kata pengantar, Hamka menamakan kumpulan cerpennya sebagai "kumpulan air mata, kesedihan, dan rintihan yang diderita oleh segolongan manusia di atas dunia ini". Ia mengatakan, bahwa sebagian dari kita kurang memperhatikan kemelaratan orang lain, apalagi kalau kita hidup dalam kemewahan.

Pengarang tampaknya menulis penderitaan orang-orang kecil yang penuh derita itu--di dalam lembah kehidupan di dunia ini-- supaya kita peduli akan nasib mereka. Dalam cerpen "Pasar Malam" pengarang mengungkapkan hubungan aku sebagai jaksa dengan pesakitan serta rumah penjara. Dari kamar kerjanya, tokoh jaksa membayangkan penderitaan para pesakitan. Selanjutnya, cerpen "Pendjual Es Lilin" mengisahkan kemalangan yang diderita Syarif sebagai suami yang penuh angan-angan, tetapi tidak mampu mewujudkan dalam kenyataan sehingga istrinya pergi meninggalkan Syarif. Cerpen "Anak Tinggal" mengisahkan kehidupan Maryam yang setelah tiga bulan menjanda mengalami kesulitan ekonomi. Ia tidak mampu membayar uang sekolah anaknya, kemudian ia menikah lagi. Selanjutnya, dalam cerpen 'Bunda Kandung" menceritakan kesedihan seorang pemuka dalam kehidupan perjuangan dan cerpen "Inyik Utih", mengisahkan Inyik Utih yang harapan dan impiannya tidak pernah terlaksana sehingga bertingkah laku seperti orang gila. Ia mengenakan pakaian pengantin tatkala rambut sudah putih karena tua.

Beberapa cerpen yang terdapat di dalam kumpulan cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan telah dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dan keperluan bacaan yang lain, misalnya cerpen "Pendjual Es Lilin" dimuat dalam Sari Pustaka Indonesia karya R.B. Slametmulyana (1952) sebagai buku pelajaran bahasa.

Teeuw (1953) mengatakan bahwa di dalam novel Di Dalam Lembah Kehidupan buat sebahagian besarnya jelas mempunyai kesadaran tentang kemasyarakatan. Salah satu sifatnya yang baik terletak pada keringkasannya (antara lima dan tiga puluh tiga halaman), sedang bahan bagi hampir tiap-tiap cerita itu boleh dikatakan cukup untuk mengisi penuh sebuah buku, bilamana pengarangnya, suka berpanjang-panjang kalam. Semua itu merupakan skets yang mengharukan karena kesederhanaannya.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Dari Lembah ke Coolibah
    Dari Lembah ke Coolibah merupakan novel karya Titis Basino P.I. Novel ini diterbitkan pertama kali oleh PT Grasindo, tahun 1997. Ilustrasi sampul dibuat oleh Ipe Ma'ruf dan desain sampul oleh ...
  • Kehidupan Modern Dalam Sastra Jawa
    Peneliti : Retno Asih Wulandari,dkk Tanggal Penelitian : 01-01-1996 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap salah satu aspek kehidupan modern dalam sastra Jawa, yaitu ajaran moral yang masih ...
  • Majalah Sastra Jawa dalam Kehidupan Pers Berbahasa Jawa
    Peneliti : Slamet Riyadi Tanggal Penelitian : 01-01-2001 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap berbagai hal yang berkaitan dengan majalah sastra Jawa dan genre sastra yang ditampilkannya, ...
  • Kehidupan Sosial Masyarakat Mandar dalam Sastra Lisan
    Peneliti : Drs. Jemmain Tanggal Penelitian : 14-01-2007 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Dalam Bunga Rampai No. 18 2009
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Di Dalam Lembah Kehidupan   (1940)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) karya Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Hamka) yang memuat sepuluh cerpen. Kumpulan cerita pendek itu pertama kali diterbitkan oleh Pedoman Masyarakat pada tahun 1939 dan diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1940. Cetakan kelima yang terbit pada tahun 1958 memuat 12 cerpen yang berjumlah 185 halaman, sedangkan cetakan ketujuh berjumlah 213 halaman. Cetakan kedelapan pada tahun 1967 dilakukan oleh penerbit yang sama dan memuat satu cerpen tambahan sehingga tebalnya menjadi 272 halaman. Pada tahun 1983, kumpulan cerpen ini diterbitkan kembali oleh Penerbit Bulan Bintang, setebal 204 halaman.

    Di Dalam Lembah Kehidupan memuat cerpen berikut ini: (1) "Pasar Malam", (2) "Inyik Utih" (3) "Pendjual Es Lilin", (4) "Anak Tinggal", (5) "Bunda Kandung", (6) "Gadis Basanai", (7) "Istri Jang Tua", (8) "Anak Jang Hilang ", (9)"Malam Sekaten", (10)"Anak Dapat", (11) "Tjinta dan Darah", dan (12) "Disuruh Meminta Ampun", (13) "Didjemput Mamaknya".

    Di dalam kata pengantar, Hamka menamakan kumpulan cerpennya sebagai "kumpulan air mata, kesedihan, dan rintihan yang diderita oleh segolongan manusia di atas dunia ini". Ia mengatakan, bahwa sebagian dari kita kurang memperhatikan kemelaratan orang lain, apalagi kalau kita hidup dalam kemewahan.

    Pengarang tampaknya menulis penderitaan orang-orang kecil yang penuh derita itu--di dalam lembah kehidupan di dunia ini-- supaya kita peduli akan nasib mereka. Dalam cerpen "Pasar Malam" pengarang mengungkapkan hubungan aku sebagai jaksa dengan pesakitan serta rumah penjara. Dari kamar kerjanya, tokoh jaksa membayangkan penderitaan para pesakitan. Selanjutnya, cerpen "Pendjual Es Lilin" mengisahkan kemalangan yang diderita Syarif sebagai suami yang penuh angan-angan, tetapi tidak mampu mewujudkan dalam kenyataan sehingga istrinya pergi meninggalkan Syarif. Cerpen "Anak Tinggal" mengisahkan kehidupan Maryam yang setelah tiga bulan menjanda mengalami kesulitan ekonomi. Ia tidak mampu membayar uang sekolah anaknya, kemudian ia menikah lagi. Selanjutnya, dalam cerpen 'Bunda Kandung" menceritakan kesedihan seorang pemuka dalam kehidupan perjuangan dan cerpen "Inyik Utih", mengisahkan Inyik Utih yang harapan dan impiannya tidak pernah terlaksana sehingga bertingkah laku seperti orang gila. Ia mengenakan pakaian pengantin tatkala rambut sudah putih karena tua.

    Beberapa cerpen yang terdapat di dalam kumpulan cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan telah dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dan keperluan bacaan yang lain, misalnya cerpen "Pendjual Es Lilin" dimuat dalam Sari Pustaka Indonesia karya R.B. Slametmulyana (1952) sebagai buku pelajaran bahasa.

    Teeuw (1953) mengatakan bahwa di dalam novel Di Dalam Lembah Kehidupan buat sebahagian besarnya jelas mempunyai kesadaran tentang kemasyarakatan. Salah satu sifatnya yang baik terletak pada keringkasannya (antara lima dan tiga puluh tiga halaman), sedang bahan bagi hampir tiap-tiap cerita itu boleh dikatakan cukup untuk mengisi penuh sebuah buku, bilamana pengarangnya, suka berpanjang-panjang kalam. Semua itu merupakan skets yang mengharukan karena kesederhanaannya.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Dari Lembah ke Coolibah
    Dari Lembah ke Coolibah merupakan novel karya Titis Basino P.I. Novel ini diterbitkan pertama kali oleh PT Grasindo, tahun 1997. Ilustrasi sampul dibuat oleh Ipe Ma'ruf dan desain sampul oleh ...
  • Kehidupan Modern Dalam Sastra Jawa
    Peneliti : Retno Asih Wulandari,dkk Tanggal Penelitian : 01-01-1996 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap salah satu aspek kehidupan modern dalam sastra Jawa, yaitu ajaran moral yang masih ...
  • Majalah Sastra Jawa dalam Kehidupan Pers Berbahasa Jawa
    Peneliti : Slamet Riyadi Tanggal Penelitian : 01-01-2001 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap berbagai hal yang berkaitan dengan majalah sastra Jawa dan genre sastra yang ditampilkannya, ...
  • Kehidupan Sosial Masyarakat Mandar dalam Sastra Lisan
    Peneliti : Drs. Jemmain Tanggal Penelitian : 14-01-2007 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Dalam Bunga Rampai No. 18 2009
  • Dari Lembah ke Coolibah
    Dari Lembah ke Coolibah merupakan novel karya Titis Basino P.I. Novel ini diterbitkan pertama kali oleh PT Grasindo, tahun 1997. Ilustrasi sampul dibuat oleh Ipe Ma'ruf dan desain sampul oleh ...
  • Kehidupan Modern Dalam Sastra Jawa
    Peneliti : Retno Asih Wulandari,dkk Tanggal Penelitian : 01-01-1996 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap salah satu aspek kehidupan modern dalam sastra Jawa, yaitu ajaran moral yang masih ...
  • Majalah Sastra Jawa dalam Kehidupan Pers Berbahasa Jawa
    Peneliti : Slamet Riyadi Tanggal Penelitian : 01-01-2001 Abstrak :Penelitian ini bertujuan mengungkap berbagai hal yang berkaitan dengan majalah sastra Jawa dan genre sastra yang ditampilkannya, ...
  • Kehidupan Sosial Masyarakat Mandar dalam Sastra Lisan
    Peneliti : Drs. Jemmain Tanggal Penelitian : 14-01-2007 Dipublikasikan : TERBIT Tahun Terbit : 2009 Abstrak :Dalam Bunga Rampai No. 18 2009
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa