• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Di Atas Puing-Puing   (1976)
Kategori: Karya Sastra

 

Di Atas Puing-Puing merupakan novel karya Th. Sri Rahayu Prihatmi yang mendapat rekomendasi dari Dewan Juri Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976 sebagai karangan yang layak diterbitkan. Novel itu pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1978.

Novel itu mengisahkan kehidupan rumah tangga Hardi dan Arini. Mereka menikah secara agama Katolik dan telah berumah tangga selama sembilan tahun, serta dikaruniai tiga orang anak.

Pada suatu waktu Hardi jatuh cinta kepada muridnya dan menikahinya. Meskipun Arini menyadari bahwa hukum gereja mengharuskan ia setia dan melarang perceraian, sakit hati dan keinginan untuk membalas dendam kepada Hardi membuatnya memutuskan untuk hidup bersama dengan Hendra, mantan kekasihnya, di Jakarta.

Pada suatu saat Arini mendengar kabar bahwa anak hasil pernikahannya dengan Hardi, sakit keras. Ia pun pulang ke Yogya dan merawat anaknya. Setelah anaknya sembuh, Arini kembali ke Jakarta dan menikah secara resmi dengan Hendra. Mereka hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak. Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena Hendra tewas dalam suatu kecelakaan pesawat terbang. Sepeninggal Hendra, Arini tidak mau kembali kepada Hardi yang secara hukum masih suaminya karena mereka belum bercerai, Arini memilih untuk tetap tinggal di Jakarta.

Tema novel itu mengangkat dinamika pernikahan, bagaimana hukum pernikahan berhadapan dengan kenyataan dalam kehidupan manusia. Di dalam dunia sastra Indonesia novel itu cukup banyak mendapat perhatian. Hal ini terbukti dengan adanya tanggapan dari kritikus dan penggiat sastra berikut ini.

Pamusuk Eneste (1982) berpendapat, bahwa kedudukan perempuan di Indonesia masih pada posisi yang lemah sehingga hanya para suami saja yang boleh "main serong", sedangkan para istri tidak boleh membagi cinta pada laki-laki lain yang bukan suaminya.

Jakob Sumardjo (1983) menilai bahwa novel itu menunjukkan kecerdasan pengarangnya dalam melihat masalah-masalah yang rumit. Namun, pembaca awam dipaksa untuk berkonsentrasi keras dalam mengikuti jalan ceritanya. Dari segi teknis, tampak jelas sekali bahwa Prihatmi sangat cermat dalam menyusun cerita. Segalanya tampak sangat diperhitungkan dari segi teori fiksi.

Maman S. Mahayana (1992) mengatakan, bahwa novel Di Atas Puing-Puing ini cukup rumit bentuknya mengingat adanya catatan harian yang justru merupakan salah satu bagian penting dalam keseluruhan cerita berbingkai itu.

 
PENCARIAN TERKAIT