• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Canting   (1986)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Canting merupakan novel hasil karya Arswendo Atmo wiloto yang diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta padatahun 1986. Novel ini dimuat pertama kali dimuat sebagai cerita bersambung dalam harian Kompas dengan subjudul "Sebuah Roman Keluarga". Novel itu berlatar sosial keluarga ningrat budaya Jawa. Novel itu mengisahkan kehidupan Tuginem sekeluarga yang bekerja sebagai buruh batik merek Canting milik Raden Ngabehi Sestrokusumo yang sering dipanggil Pak Bei. Keluarganya merasa beruntung karena Tuginem dijadikan istri oleh Pak Bei. Untunglah, Tuginem yang disebut Bu Bei berhasil mengembangkan usaha batik suaminya. Di samping itu, ia sendiri yang memasarkannya di Pasar Klewer, Solo. Di rumah ia penyabar, halus, dan penuh kasih sayang terhadap keluarganya. Tetapi, ketika berada di pasar, Bu Bei harus menjadi orang yang terampil, teliti, tegas namun tetap ramah kepada pembeli, polisi, dan para petugas di pasar, serta pandai dan cepat memutuskan suatu perkara.

Menurut Tuginem, tugas suaminya cukup berat karena Pak Bei harus menghidupi para keluarga abdi dalem yang tinggal di halaman belakang rumahnya termasuk orang tuanya. Mereka harus diberi perhatian khusus dan mendapat kesejahteraan secukupnya. Oleh karena itu, Bu Bei harus berjuang keras mengurus usaha suaminya untuk menutupi kebutuhan keluarganya, termasuk pendidikan anak-anaknya. Dari hasil usaha batik Cantingnya itu, putra-putrinya berhasil menjadi orang besar. Putranya yang sulung Dewabrata menjadi dokter, Lintang Dewanti menjadi istri kolonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi insinyur, Wening Dewanti meraih gelar dokteranda, dan anak bungsunya Subandini Dewaputri yang dipanggil Ni telah lulus sebagai sarjana farmasi.

Ketika mengetahui bahwa Bu Bei tidak diperkenankan mengurus batik Cantingnya, Ni merasa terpanggil untuk mengambil alih usaha itu. Akan tetapi, Pak Bei, Bu Bei, dan kakak-kakak Ni merasa keberatan jika Ni tidak melanjutkan kariernya sebagai ahli farmasi. Hal itu disebabkan oleh Ni adalah sarjana farmasi. Selain itu, mereka menyadari bahwa batik tulis sudah kalah bersaing dengan pengusaha batik printing yang bergerak dengan modal besar. Mereka berniat akan meninggalkan usaha batik Canting yang masih tradisional. Ni berkeras hati untuk tetap melanjutkan usahanya. Bersamaan dengan kemelut keluarga itu, tiba-tiba Bu Bei meninggal secara mendadak. Konflik keluarga semakin meruncing, Ni dianggap tidak sopan menentang kesepakatan keluarga. Bahkan kakak-kakak Ni dan Pak Bei mencurigai bahwa gadis itu adalah anak hasil perselingkuhan ibu Bei dengan buruh batik. Dugaan ayahnya semakin menguat ketika Ni tetap bertahan ingin menjadi pengusaha batik.

Karena merasa terpojok, Ni jatuh sakit dan hampir saja nyawanya melayang. Untunglah, Ni masih memiliki semangat. Akhirnya, ia melepas usaha batik cap Canting dan melebur dalam dunia batik printing dengan dibantu saudara-saudaranya. Ternyata, dunia usaha batik tradisional memang sangat sulit bersaing dengan batik printing. Diam-diam Ni menyadari bahwa ayah dan saudara-saudaranya menyayangi dirinya. Bersamaan dengan itu, ayahnya pun menyadari akan kekeliruannya yang selama ini sudah mencurigai bahwa anak bungsunya itu bukan anak kandungnya. Pada akhir cerita Pak Bei bersama kakak-kakaknya membantu usaha Ni. Mereka menawarkan batik Ni kepada para turis asing. Ni akhirnya menikah dengan Himawan tepat pada peringatan seribu hari Ibu Bei. Kemudian, ia memperoleh seorang putra yang diberi nama Canting Sudarsono.

Maman S. Mahayana (1992) Canting memang menggambarkan kehidupan sebuah keluarga: keluarga Jawa yang teramat khas dengan simbol dan tradisi keningratannya, filsafat dan sikap hidupnya, dan naluri-naluri tradisional yang makin terdesak oleh kemajuan zaman. Sebuah gambaran, bagaimana tradisi—jika inging tetap hidup dan bertahan—pada akhirnya harus meleburkan diri dan menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Tanpa itu, ia akan dilindas, tenggelam, dan hanya hidup semata-mata hadir sebagai kenang-kenangan.

 
PENCARIAN TERKAIT