• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 

Karakteristik Feminisme dalam Tokoh Legenda Sayu Wiwit dan Sri Tanjung Banyuwangi

Kategori: Penelitian Sastra

 

Peneliti : M. Oktavia Vidiyanti dan Dian Roesmiati

Tanggal Penelitian : 01-01-2008

Abstrak :

Penelitian ini bertujuan mengungkap oposisi biner dalam legenda Sayu Wiwit dan naskah Sri Tanjung, mengungkap reaksi tokoh utama, dan mengidentifikasi jenis feminis dalam kedua cerita tersebut. Penelitian ini menggunakan teori feminis dan teori hegemoni. Sumber data penelitian ini adalah naskah Sri Tanjung Banyuwangi yang telah diterjemahkan oleh Anis Aminoedin et al dan Hasnan Singodimayan yang dianggap mengetahui cerita lisan Sayu Wiwit. Data penelitian ini berupa data tulis dan lisan.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa cerita Sri Tanjung dan Sayu Wiwit menunjukkan ketidakadilan terhadap perempuan. Ketidakadilan itu menimbulkan reaksi yang berbeda antara Sri Tanjung dan Sayu Wiwit. Oleh karena itu, kedua cerita itu menunjukkan karakteristik feminis yang berbeda pula. Sri Tanjung menunjukkan karakteristik feminis  golongan ketiga yang memandang laki-laki sebagai musuh, sedangkan Sayu Wiwit menunjukkan karakter feminis golongan kedua yang berupaya mengubah kanon sastra yang merupakan hasil ciptaan laki-laki dengan menunjukkan bahwa perempuan mampu melakukan tugas yang biasa dikerjakan oleh laki-laki.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • A. Mustofa Bisri
    A. Mustofa Bisri atau seringkali dipanggil Gus Mus lahir di Rembang, 10 Agustus 1944, dan sampai saat ini memimpin Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Istrinya ...
  • Sri Bekti Subakir
    Sri Bekti Subakir menulis karya sastra dalam bentuk novel dan cerpen. Beberapa novelnya telah mendapat penghargaan. Dia menulis dengan gaya yang lembut dan romantis. Sri Bekti Subakir ...
  • Raudal Tanjung Banua
    Raudal Tanjung Banua dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais. Dia lahir di desa Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Dia mengenyam ...
  • Rayani Sriwidodo
    Penulis ini lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, pada 6 November 1946, dari pasangan Hajah Siti Ebah Nasution dan Baginda Mulih Kadir Lubis. Rayani Lubis, yang punya hobi main catur ini, ...
  • Sri Sumarah dan Bawuk
    Sri Sumarah dan Bawuk adalah salah satu kumpulan cerita Umar Kayam yang berisi dua novelet berjudul "Sri Sumarah" dan "Bawuk". Kumpulan ini pertama kali terbit tahun 1975 oleh Pustaka Jaya ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     

    Karakteristik Feminisme dalam Tokoh Legenda Sayu Wiwit dan Sri Tanjung Banyuwangi

    Kategori: Penelitian Sastra

     

    Peneliti : M. Oktavia Vidiyanti dan Dian Roesmiati

    Tanggal Penelitian : 01-01-2008

    Abstrak :

    Penelitian ini bertujuan mengungkap oposisi biner dalam legenda Sayu Wiwit dan naskah Sri Tanjung, mengungkap reaksi tokoh utama, dan mengidentifikasi jenis feminis dalam kedua cerita tersebut. Penelitian ini menggunakan teori feminis dan teori hegemoni. Sumber data penelitian ini adalah naskah Sri Tanjung Banyuwangi yang telah diterjemahkan oleh Anis Aminoedin et al dan Hasnan Singodimayan yang dianggap mengetahui cerita lisan Sayu Wiwit. Data penelitian ini berupa data tulis dan lisan.

    Penelitian ini mengungkapkan bahwa cerita Sri Tanjung dan Sayu Wiwit menunjukkan ketidakadilan terhadap perempuan. Ketidakadilan itu menimbulkan reaksi yang berbeda antara Sri Tanjung dan Sayu Wiwit. Oleh karena itu, kedua cerita itu menunjukkan karakteristik feminis yang berbeda pula. Sri Tanjung menunjukkan karakteristik feminis  golongan ketiga yang memandang laki-laki sebagai musuh, sedangkan Sayu Wiwit menunjukkan karakter feminis golongan kedua yang berupaya mengubah kanon sastra yang merupakan hasil ciptaan laki-laki dengan menunjukkan bahwa perempuan mampu melakukan tugas yang biasa dikerjakan oleh laki-laki.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • A. Mustofa Bisri
    A. Mustofa Bisri atau seringkali dipanggil Gus Mus lahir di Rembang, 10 Agustus 1944, dan sampai saat ini memimpin Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Istrinya ...
  • Sri Bekti Subakir
    Sri Bekti Subakir menulis karya sastra dalam bentuk novel dan cerpen. Beberapa novelnya telah mendapat penghargaan. Dia menulis dengan gaya yang lembut dan romantis. Sri Bekti Subakir ...
  • Raudal Tanjung Banua
    Raudal Tanjung Banua dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais. Dia lahir di desa Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Dia mengenyam ...
  • Rayani Sriwidodo
    Penulis ini lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, pada 6 November 1946, dari pasangan Hajah Siti Ebah Nasution dan Baginda Mulih Kadir Lubis. Rayani Lubis, yang punya hobi main catur ini, ...
  • Sri Sumarah dan Bawuk
    Sri Sumarah dan Bawuk adalah salah satu kumpulan cerita Umar Kayam yang berisi dua novelet berjudul "Sri Sumarah" dan "Bawuk". Kumpulan ini pertama kali terbit tahun 1975 oleh Pustaka Jaya ...
  • A. Mustofa Bisri
    A. Mustofa Bisri atau seringkali dipanggil Gus Mus lahir di Rembang, 10 Agustus 1944, dan sampai saat ini memimpin Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Istrinya ...
  • Sri Bekti Subakir
    Sri Bekti Subakir menulis karya sastra dalam bentuk novel dan cerpen. Beberapa novelnya telah mendapat penghargaan. Dia menulis dengan gaya yang lembut dan romantis. Sri Bekti Subakir ...
  • Raudal Tanjung Banua
    Raudal Tanjung Banua dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais. Dia lahir di desa Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Dia mengenyam ...
  • Rayani Sriwidodo
    Penulis ini lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, pada 6 November 1946, dari pasangan Hajah Siti Ebah Nasution dan Baginda Mulih Kadir Lubis. Rayani Lubis, yang punya hobi main catur ini, ...
  • Sri Sumarah dan Bawuk
    Sri Sumarah dan Bawuk adalah salah satu kumpulan cerita Umar Kayam yang berisi dua novelet berjudul "Sri Sumarah" dan "Bawuk". Kumpulan ini pertama kali terbit tahun 1975 oleh Pustaka Jaya ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa