• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Azab dan Sengsara   (1921)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Azab Dan Sengsara merupakan novel karangan Merari Siregar yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka tahun 1921 dan berikutnya mengalami beberapa kali cetak ulang. Cetak ulang ke-29 tahun 2009. Novel itu muncul pertama kali dengan judul Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis. Pada edisi selanjutnya anak judul "Seorang Anak Gadis" tidak disertakan lagi. Novel itu tercatat sebagai buku kesusastraan Indonesia modern yang mula-mula terbit.

Novel ini menceritakan kesengsaraan tokoh Mariamin setelah ayahnya meninggal. Kesengsaraan itu menjadi berlarut-larut setelah Aminuddin menikah dengan wanita lain. Padahal, Aminuddin telah berkasih-kasihan dengan Mariamin sejak mereka berdua itu masih duduk di sekolah dasar. Mereka telah berjanji untuk kawin. Kesengsaraan Mariamin bertambah parah setelah ia menikah dengan Kasibun yang ternyata mengidap penyakit kotor yang dapat menular kepada Mariamin. Karena Mariamin tidak mau melakukan hubungan intim dengan Kasibun, terjadilah percekcokan dalam rumah tangga mereka. Akhirnya, Kasibun memukul dan menyiksa Mariamin. Hal itu menyebabkan mereka bercerai. Akhirnya, Mariamin meninggal karena tidak sanggup lagi menahan segala kesengsaraan itu.

Beberapa kritikus sastra berbicara mengenai novel itu, baik dalam seminar maupun dalam buku atau meia massa. Zuber Usman dalam bukunya Kesusastraan Baru Indonesia (1957) menganggap novel itu adalah novel yang mula-mula terbit. Buku-buku pada masa-masa sebelumnya adalah cerita yang diterbitkan dengan memakai bahasa Melayu rendah dan bahasa daerah, seperti bahasa Aceh, bahasa Minangkabau, bahasa Bugis, dan bahasa Batak. Pendapat itu juga dikemukakan oleh A. Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia (1978) yang menyatakan bahwa Azab dan Sengsara adalah novel orisinal yang pertama. Teeuw juga menyatakan bahwa novel itu melukiskan watak-watak dalam bentuk hitam dan putih dan gaya karangan yang merayu-rayu—pengarangnya menghadapi para pembaca secara langsung untuk memberikan komentarnya atas perilaku tokoh.

Dalam bukunya yang berjudul Himpunan Seni Sastra Indonesia (1962), Asis Safioedin menyatakan bahwa novel itu berisi hal-hal dan peristiwa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat, seperti menentang kawin paksa. Karangannya sudah merupakan karangan asli walaupun masih ada bekas jejak kesusastraan lama (bahasa klise).

Pendapat Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969) hampir senada dengan pendapat kritikus yang lain. Azab dan Sengsara adalah novel pertama tentang kawin paksa yang kemudian untuk kurang lebih dua puluh tahun lamanya menjadi tema yang paling digemari dan paling banyak dikemukakan dalam novel-novel Indonesia.

Umar Junus, seorang kritikus sastra Indonesia di Malaysia, dalam bukunya Perkembangan Novel-Novel Indonesia (1974), melihat adanya persamaan motif antara novel Azab dan Sengsara dan Hikayat si Miskin dalam sastra Melayu klasik. Motif tersebut diarahkannya kepada tokoh Sutan Baringin dan Nuria, orang tua Mariamin. Motif itu adalah peristiwa dari kaya, sekaya-kayanya, menjadi miskin, semiskin-miskinnya. Umar Junus juga melihat motif tersebut dalam cerita Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, yaitu jatuh melaratnya Bagindo Sulaiman.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Sengsara Membawa Nikmat
    Sengsara Membawa Nikmat adalah sebuah novel karya Tulis Sutan Sati yang terbit pertama kali pada tahun 1929. Novel itu diterbitkan oleh Balai Pustaka sebagai novel yang dianggap memenuhi kriteria ...
  • Kaum Sengsara
    Judul : Kaum Sengsara Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 46 Tgl.Publikasi 12 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Azab dan Sengsara   (1921)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Azab Dan Sengsara merupakan novel karangan Merari Siregar yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka tahun 1921 dan berikutnya mengalami beberapa kali cetak ulang. Cetak ulang ke-29 tahun 2009. Novel itu muncul pertama kali dengan judul Azab dan Sengsara Seorang Anak Gadis. Pada edisi selanjutnya anak judul "Seorang Anak Gadis" tidak disertakan lagi. Novel itu tercatat sebagai buku kesusastraan Indonesia modern yang mula-mula terbit.

    Novel ini menceritakan kesengsaraan tokoh Mariamin setelah ayahnya meninggal. Kesengsaraan itu menjadi berlarut-larut setelah Aminuddin menikah dengan wanita lain. Padahal, Aminuddin telah berkasih-kasihan dengan Mariamin sejak mereka berdua itu masih duduk di sekolah dasar. Mereka telah berjanji untuk kawin. Kesengsaraan Mariamin bertambah parah setelah ia menikah dengan Kasibun yang ternyata mengidap penyakit kotor yang dapat menular kepada Mariamin. Karena Mariamin tidak mau melakukan hubungan intim dengan Kasibun, terjadilah percekcokan dalam rumah tangga mereka. Akhirnya, Kasibun memukul dan menyiksa Mariamin. Hal itu menyebabkan mereka bercerai. Akhirnya, Mariamin meninggal karena tidak sanggup lagi menahan segala kesengsaraan itu.

    Beberapa kritikus sastra berbicara mengenai novel itu, baik dalam seminar maupun dalam buku atau meia massa. Zuber Usman dalam bukunya Kesusastraan Baru Indonesia (1957) menganggap novel itu adalah novel yang mula-mula terbit. Buku-buku pada masa-masa sebelumnya adalah cerita yang diterbitkan dengan memakai bahasa Melayu rendah dan bahasa daerah, seperti bahasa Aceh, bahasa Minangkabau, bahasa Bugis, dan bahasa Batak. Pendapat itu juga dikemukakan oleh A. Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia (1978) yang menyatakan bahwa Azab dan Sengsara adalah novel orisinal yang pertama. Teeuw juga menyatakan bahwa novel itu melukiskan watak-watak dalam bentuk hitam dan putih dan gaya karangan yang merayu-rayu—pengarangnya menghadapi para pembaca secara langsung untuk memberikan komentarnya atas perilaku tokoh.

    Dalam bukunya yang berjudul Himpunan Seni Sastra Indonesia (1962), Asis Safioedin menyatakan bahwa novel itu berisi hal-hal dan peristiwa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat, seperti menentang kawin paksa. Karangannya sudah merupakan karangan asli walaupun masih ada bekas jejak kesusastraan lama (bahasa klise).

    Pendapat Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969) hampir senada dengan pendapat kritikus yang lain. Azab dan Sengsara adalah novel pertama tentang kawin paksa yang kemudian untuk kurang lebih dua puluh tahun lamanya menjadi tema yang paling digemari dan paling banyak dikemukakan dalam novel-novel Indonesia.

    Umar Junus, seorang kritikus sastra Indonesia di Malaysia, dalam bukunya Perkembangan Novel-Novel Indonesia (1974), melihat adanya persamaan motif antara novel Azab dan Sengsara dan Hikayat si Miskin dalam sastra Melayu klasik. Motif tersebut diarahkannya kepada tokoh Sutan Baringin dan Nuria, orang tua Mariamin. Motif itu adalah peristiwa dari kaya, sekaya-kayanya, menjadi miskin, semiskin-miskinnya. Umar Junus juga melihat motif tersebut dalam cerita Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, yaitu jatuh melaratnya Bagindo Sulaiman.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Sengsara Membawa Nikmat
    Sengsara Membawa Nikmat adalah sebuah novel karya Tulis Sutan Sati yang terbit pertama kali pada tahun 1929. Novel itu diterbitkan oleh Balai Pustaka sebagai novel yang dianggap memenuhi kriteria ...
  • Kaum Sengsara
    Judul : Kaum Sengsara Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 46 Tgl.Publikasi 12 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Sengsara Membawa Nikmat
    Sengsara Membawa Nikmat adalah sebuah novel karya Tulis Sutan Sati yang terbit pertama kali pada tahun 1929. Novel itu diterbitkan oleh Balai Pustaka sebagai novel yang dianggap memenuhi kriteria ...
  • Kaum Sengsara
    Judul : Kaum Sengsara Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 46 Tgl.Publikasi 12 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa