• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Ballada Orang-Orang Tercinta   (1957)
Kategori: Karya Sastra

 
 

Ballada Orang-Orang Tercinta merupakan kumpulan sajak pertama W.S. Rendra. Sejumlah sajak yang ditulisnya pada periode 1950-an itu dikumpulkan menjadi satu dalam buku ini dan diterbitkan pada tahun 1957 di Jakarta oleh PT Pembangunan. Sampai sekarang Ballada Orang-Orang Tercinta sudah berkali-kali mengalami cetak ulang. Cetakan ke-8 tercatat pada tahun 1996 di Jakarta oleh penerbit Pustaka Jaya.

Ballada Orang-Orang Tercinta memuat sejumlah sajak yang ditulis dengan gaya serupa. Sajak-sajak tersebut adalah (1)" Ballada Kasan dan Patima", (2) "Ballada Lelaki-Lelaki Tanah Kapur", (3) "Koyan yang Malang", (4) "Ballada Sumilah", (5) "Gerilya", (6) "Tahanan", (7) "Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo", (8) "Ballada Penyaliban", (9) "Ballada Ibu yang Terbunuh", (10) "Tangis", (11) "Ballada Gadisnya Jamil Si Jagoan", (12) "Ballada Penantian", (13) "Ballada Anita", (14) "Perempuan Sial", (15) "Balada Sumilah", (16) "Di Meja Makan", (17) "Ada Tilgram Tiba Senja" (18) "Anak yang Angkuh" (19) "Ballada Petualang"

Ballada Orang-Orang Tercinta mempunyai kedudukan penting dalam perkembangan sajak Indonesia. Dengan kumpulan sajak Rendra itu paling tidak dihadirkan dan diperkenalkan jenis sajak balada dalam khazanah persajakan Indonesia.

Menurut Sapardi Djoko Damono (1999), kehidupan Rendra memang colourful, penuh warna-warni, dan menegangkan sehingga memesona. Sapardi mengakui bahwa Rendra adalah seorang penyair pasca-Chairil Anwar yang sangat terampil dalam berbahasa. Ia belajar dari penyair pendahulunya, tetapi tidak ingin menjadi seperti pendahulunya. Rendra mengembangkan gaya sendiri. Ia menemukan cara sendiri dan pada tahun 1950-an ia menulis sajak naratif. Ia menciptakan balada untuk menyampaikan simpatinya pada orang-orang tercinta, yakni orang-orang yang menderita, tersisihkan, atau menjadi korban keadaan. Melalui Ballada Orang-Orang Tercinta, hal itu ia wujudkan.

Secara umum, kumpulan sajak pertama Rendra itu berbicara tentang sejumlah tokoh yang mempunyai karakter luar biasa. Dikatakan luar biasa karena tokoh-tokoh itu memiliki kekuatan dan keberanian menentang bahaya. Dengan perkataan lain, tokoh-tokoh yang dibekali dengan sejumlah keistimewaan mengalami ber-bagai petualangan dan konflik. Di samping itu, Ballada Orang-Orang Tercinta menampilkan alam yang berfungsi sebagai penjelas penggambaran tokoh. Alam ditampilkan tidak sekadar sebagai latar penceritaan, tetapi juga sebagai roh yang mengandung daya magis (kekuatan). Oleh karena itu, dalam sajak-sajak Rendra yang terkumpul dalam Ballada Orang-Orang Tercinta, alam dapat berbicara atau merasakan sesuatu seperti halnya manusia.

Sunu Wasono (2005) menyebut kumpulan sajak Ballada Orang-Orang Tercinta memperlihatkan ciri-ciri gaya romantik. Sajak "Ballada Orang-Orang Tercinta" menggambarkan dialog antara angin dan Patima. Apabila ditempatkan dalam konteks romantisisme, yang menarik adalah perlakuan Rendra terhadap angin (alam). Dalam sajak itu angin dapat berdialog dengan Patima. Itu berarti angin digambarkan seperti manusia. Penggambaran alam yang berperilaku seperti manusia itu tidak hanya terdapat dalam "Ballada Kasan dan Patima", tetapi juga pada sajak-sajak lain yang terkumpul dalam Ballada Orang-Orang Tercinta.

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Orang-Orang Trans
    Orang-Orang Trans merupakan novel karya Nh. Dini yang diterbitkan pada tahun 1985 dengan ketebalan 205 halaman dan terbagi atas 12 bab. Novel tersebut masih berbentuk naskah ketikan di atas kertas ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Ballada Orang-Orang Tercinta   (1957)
    Kategori: Karya Sastra

     
     

    Ballada Orang-Orang Tercinta merupakan kumpulan sajak pertama W.S. Rendra. Sejumlah sajak yang ditulisnya pada periode 1950-an itu dikumpulkan menjadi satu dalam buku ini dan diterbitkan pada tahun 1957 di Jakarta oleh PT Pembangunan. Sampai sekarang Ballada Orang-Orang Tercinta sudah berkali-kali mengalami cetak ulang. Cetakan ke-8 tercatat pada tahun 1996 di Jakarta oleh penerbit Pustaka Jaya.

    Ballada Orang-Orang Tercinta memuat sejumlah sajak yang ditulis dengan gaya serupa. Sajak-sajak tersebut adalah (1)" Ballada Kasan dan Patima", (2) "Ballada Lelaki-Lelaki Tanah Kapur", (3) "Koyan yang Malang", (4) "Ballada Sumilah", (5) "Gerilya", (6) "Tahanan", (7) "Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo", (8) "Ballada Penyaliban", (9) "Ballada Ibu yang Terbunuh", (10) "Tangis", (11) "Ballada Gadisnya Jamil Si Jagoan", (12) "Ballada Penantian", (13) "Ballada Anita", (14) "Perempuan Sial", (15) "Balada Sumilah", (16) "Di Meja Makan", (17) "Ada Tilgram Tiba Senja" (18) "Anak yang Angkuh" (19) "Ballada Petualang"

    Ballada Orang-Orang Tercinta mempunyai kedudukan penting dalam perkembangan sajak Indonesia. Dengan kumpulan sajak Rendra itu paling tidak dihadirkan dan diperkenalkan jenis sajak balada dalam khazanah persajakan Indonesia.

    Menurut Sapardi Djoko Damono (1999), kehidupan Rendra memang colourful, penuh warna-warni, dan menegangkan sehingga memesona. Sapardi mengakui bahwa Rendra adalah seorang penyair pasca-Chairil Anwar yang sangat terampil dalam berbahasa. Ia belajar dari penyair pendahulunya, tetapi tidak ingin menjadi seperti pendahulunya. Rendra mengembangkan gaya sendiri. Ia menemukan cara sendiri dan pada tahun 1950-an ia menulis sajak naratif. Ia menciptakan balada untuk menyampaikan simpatinya pada orang-orang tercinta, yakni orang-orang yang menderita, tersisihkan, atau menjadi korban keadaan. Melalui Ballada Orang-Orang Tercinta, hal itu ia wujudkan.

    Secara umum, kumpulan sajak pertama Rendra itu berbicara tentang sejumlah tokoh yang mempunyai karakter luar biasa. Dikatakan luar biasa karena tokoh-tokoh itu memiliki kekuatan dan keberanian menentang bahaya. Dengan perkataan lain, tokoh-tokoh yang dibekali dengan sejumlah keistimewaan mengalami ber-bagai petualangan dan konflik. Di samping itu, Ballada Orang-Orang Tercinta menampilkan alam yang berfungsi sebagai penjelas penggambaran tokoh. Alam ditampilkan tidak sekadar sebagai latar penceritaan, tetapi juga sebagai roh yang mengandung daya magis (kekuatan). Oleh karena itu, dalam sajak-sajak Rendra yang terkumpul dalam Ballada Orang-Orang Tercinta, alam dapat berbicara atau merasakan sesuatu seperti halnya manusia.

    Sunu Wasono (2005) menyebut kumpulan sajak Ballada Orang-Orang Tercinta memperlihatkan ciri-ciri gaya romantik. Sajak "Ballada Orang-Orang Tercinta" menggambarkan dialog antara angin dan Patima. Apabila ditempatkan dalam konteks romantisisme, yang menarik adalah perlakuan Rendra terhadap angin (alam). Dalam sajak itu angin dapat berdialog dengan Patima. Itu berarti angin digambarkan seperti manusia. Penggambaran alam yang berperilaku seperti manusia itu tidak hanya terdapat dalam "Ballada Kasan dan Patima", tetapi juga pada sajak-sajak lain yang terkumpul dalam Ballada Orang-Orang Tercinta.

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Orang-Orang Trans
    Orang-Orang Trans merupakan novel karya Nh. Dini yang diterbitkan pada tahun 1985 dengan ketebalan 205 halaman dan terbagi atas 12 bab. Novel tersebut masih berbentuk naskah ketikan di atas kertas ...
  • Orang-Orang Trans
    Orang-Orang Trans merupakan novel karya Nh. Dini yang diterbitkan pada tahun 1985 dengan ketebalan 205 halaman dan terbagi atas 12 bab. Novel tersebut masih berbentuk naskah ketikan di atas kertas ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa