• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 

Royong

Kategori: Sastra Lisan

 

Suku : Makassar

Genre : Puisi

Provinsi: Provinsi Sulawesi Selatan

Kabupaten/Kota: Kabupaten.Gowa

Penyebaran: Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan


Royong, jenis sastra tutur masyarakat Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Asal-usul Royong diyakini dilantunkan oleh para dayang ketika mengiringi turunnya Tumanurung (atau Tomanurung) dari khayangan ke bumi Gowa yang waktu itu diperintah oleh Raja Karaeng Bayo, Raja Gowa pertama. Dalam mitologi masyarakat (suku-suku) di jazirah Sulawesi Selatan, Tumanurung selalu muncul secara tiba-tiba tanpa pernah diketahui asal-usulnya, padahal kehadirannya selalu membawa perubahan pada masyarakat masa itu. Ketika Tumanurung yang kemudian dinamai Putri Tamalate menikah dengan Raja Gowa, Royong dilantunkan kembali dalam pesta perkawinan tersebut oleh dayang-dayang Putri Tamalate. Begitu juga setelah lahirnya anak Putri Tamalate dan Karaeng Bayo yang diberi nama Karaeng Tumasalangga Baraya. Setelah itu barulah dayang-dayang Putri Tamalate kembali ke langit. Royong sebagai tradisi lisan Gowa saat ini ditampilkan dalam upacara adat siklus hidup manusia (kelahiran, sunatan, perkawinan, meninggal), syukuran rumah baru, bahkan naik haji, dan sebagainya. Royong dipandang sakral dan hanya boleh disampaikan oleh perempuan; tidak boleh oleh laki-laki. Royong dilagukan oleh seorang perempuan yang disebut paroyong (pelantun royong) walaupun tidak mempunyai notasi, diiringi musik tradisional ganrang (gendang) dan puik-puik (terompet). Penampilan Royong diawali ritual dengan delapan macam sajian: leko sikabba (daun sirih dan kapur, rappo sikabba atau buah pinang), tai bani (lilin merah), uang, padupang (bara membakar kemenyan), beras si gantang (beras 4 liter), gula merah dan buah kelapa utuh, kain putih, dan tembakau (rokok). Saat ini Royong dalam kondisi terancam punah baik dari segi penampilannya maupun pewarisannya. Masyarakat lebih senang menanggap organ tunggal. Syair Royong mengandung doa untuk keselamatan hidup.

 

Contoh teks Royong:

 

Lolo Bayo

 

Iyo, Iye, baji padaeng, bukkarrang bawana

Sassang padaeng, bukkarrang bawana

Roya padaeng, parimba topena

Pale padaeng, pakampo bidakna

Panaik matanna,

Namatekne pakmaikna, nabuak sigarana

Lape padaeng, pallajang rengganna

Bokboki daeng,

Toknok padaeng, niak gading ri limanna

Cinna padaeng, paranna malolo

Tamaloloko siseppe

Nusipoke poke genrek

Nusitabbak rappo lolo

Nusitanroi kana

Nusikaik kido kannying

Anrong antemo anne kamma

Niak rua pannggainna

Natumaneng magarring

Makjeknek masalloe

namanaik maberue

Kuntu memang maloloa

Turukiangna cinna sikacinnaiya

* * *

Terjemahan:

Iyo, iye, berikan segalan yang baik Daeng, lalu bukalah mulutnya

Limpahkan kasih sayang Daeng, lalu bukalah mulutnya

Roya Padaeng, bukakan selendangnya

Kuatkan ikatan sarungnya

Bukalah penglihatannya

Agar gembira hatinya, agar terbuka jalan yang luas

Lubangilah daeng (merujuk pada lasugi)

Lihatlah daeng, ada gading di pergelangan tangannya

Keinginannya Daeng, pada orang yang sepadan

Tidak mudah berselisih

Tidak mudah saling bertikai

Saling berbagi makanan

Saling mendengar

Saling memberi isyarat

Lalu orang tuanya

Menyayangi keduanya

Tidak mudah terkena penyakit

Senantiasa membersihkan diri

mendatangkan

Demikianlah jiwa muda

Mengikuti pandangan dan keinginannya

 

Rekrasa (untuk keturunan raja)

 

Iyo, iyo tunimalo

Daeng massaile sakik

Apa daeng lakikana

Meneki sallang ri banngia

Tena tau ri ballakku

Lonna kekbuki numene

Punna bosi namenea (nataba lallunga)

Lonna mannginrangki laklang

Lonna tena inrannganna

Namakjekneki salloe

Namanaik maberue

Niakja daeng tope ri ballakku

Punna sekreja kijuluk

Kuntu memang maloloa

Turukianna cinna sikacinnaiya

* * *

Terjemahan:

Iyo, iyo, wahai orang yang lalu lalang

Wahai Daeng sudilah melirik

Apa yang hendak diucapkan

Hendak mampir di malam hari

Tidak ada orang di dalam rumah

Jika pintu tertutup

Jika hujan telah singgah

Hendaklah meminjam naungan

Meski tak mudah meminjamnya

Semua akan ada jalannya

Untuk mendapatkannya

Daeng, ada selendang dalam rumahku

Jika kita sepadan

Sudah demikian orang muda

Mengikuti padangan dan keinginnanya

* * *

Cui

 

Cui battumako mene (kalau bukan karaeng tidak pakai mene)

Nurikbakkang cui lolonna

Bonena uli battanna

Na sikuntumo numera

Nu tea makjeknek mata

Namatekne pakmaiknu

* * *

Terjemahan:

Wahai Cui datanglah engkau

Bawalah terbang hal yang buruk

Yang tak baik dari tubuhnya

Karenanya tak perlu bersedih hati

Tak usah menangis

Bergembiralah (bahagialah) selalu

* * *

Cui

 

Cui mene, cui mene

Battu laukmi anjo mae

Assaraung dompa-dompa

Assulampe sulendangna

Mene situtung-tutung

Akrikbakmi anraik

Riallakna Serok na pakbineang

Namaklete suluk

Ri poeng pangke lompona

Nakarukrusangi lekok

Nakatantangangi bunga

Namatukgurukmo naung

I balo mate nibuno

Mate niboka battanna

Mate nitattak bongganna

Na niallemo cerakna

Nipacerak nipakballe pakballena kina lolo

Nutea rera

Nutea makjeknek mata

 

Terjemahan:

Cui datang, cui datanglah

Datanglah dari barat

Memakai caping dompa-dompa(?) untuk laki-laki

Berselempang selendang (perempuan)

Datang dengan banyak orang

Lalu terbang ke timur

Antara Sero dan pakbineang

Lalu pindah ke luar

Pada tangkai batang besarnya

Lalu gugur daun

Kemudian muncul bunganya

Lalu jatuh ke bawah

I Balo mati terbunuh

Mati dengan perut tertombak

Mati dengan paha terbelah

Lalu darahnya diambil

Menjadi obat awet muda

Agar kau tak bersedih

Agar tidak berlinang air matamu

*****

Royongna Karaengta Bontolangkasa

(untuk pengantin dan sunantan)

Pakja padaeng tau numaloe

Sassa padaeng bukkarrang bawana

Bajik padaeng parimba topena

Tekne padaeng panaik sigarakna

Lape padaeng buakkang matana

Pale padaeng pakampo bidakna

Toknok padaeng gading ri limanna.

Roya padaeng pallajang rengganna

Cinna padaeng parannu malolo

Malolo kuseppe

Nusikaik kaeroki

Bukbuki daeng rinring ri juluna

Nasipoke poke genreng

Nusitabbak rappo lolo

Nu sikaik-kaik tope

Kuntu memang maloloa

Turukianna cinna sikacinnaiya

Sikuntumi numera

Namatekne pakmaiknu

* * *

 

Terjemahan:

Senang daeng, orang yang lewat

Sassa Padaeng, bukalah mulutnya

Baiklah daeng bukalah selendangnya

Bahagialah Daeng, luaskan jalannya

Mari Daeng bukalah matanya

Mari Daeng kuatkan ikatan sarungnya

Lihatlah Daeng ada gading di pergelangan tangannya

Bahagialah Daeng palajjang rengganna

Berbahagialah Daeng dengan sesama

Saling menaruh hati

Lihatlah yang pantas bagimu

Saling berbagi perasaan

Saling bertukar rappo lolo(?)

Saling mengikat selendang

Demikianlah jiwa muda

Mengikuti pandangan dan keinginannya

Karena itu jangan bersedih

Bahagiakanlah hatimu
 
PENCARIAN TERKAIT