• Beranda

    Halaman Beranda

  • Objek

    Bahasa Daerah di indonesia

    Aksara Daerah

    Sastra Tulisan Tangan

    Sastra Cetak

    Sastra Lisan

  • Lembaga

    Lembaga BIPA

    Lembaga Pegiat UKBI

    Komunitas Sastra

    Komunitas Literasi

  • SDM

    Widyabasa

    Pengajar BIPA

    Penyuluh

    Pekamus

    Penyunting

    Penerjemah

    Juru Bahasa

    Duta Bahasa

  • Substansi

    Data UKBI

    Data Pembinaan Pemantauan Bahasa

    Data Penghargaan

    Data Penugasan Ahli Bahasa

    Data Penyuluhan

    Data Pemelajar BIPA

    Data Pesuluh

    Data Pemerkayaan Kosakata

    Data Pengembangan Kamus

    Data Pedoman Kebahasaan

    Data Bahan Diplomasi Kebahasaan

    Data Buku Terjemahan

     

    Data Musikalisasi Puisi

    Data Bahan Pengayaan Literasi

    Data Transliterasi

    Data Peningkayan Kompetensi Bahasa Asing (PKBA)

    Data Capaian Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Konservasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Revitalisasi Kebahasaan dan Kesastraan

    Data Pengembangan Sastra

    Data Pengarang

    Data Tokoh Bahasa

  • Simkeda

    Sistem Informasi Monitoring Kedaulatan Bahasa

  • Pencarian

    Pencarian lanjut berdasarkan kategori

  • Statistik

    Statistik

  • Info

    Info

 
 
Banjir Roman
Kategori: Gejala Sastra

 

"Banjir Roman" merupakan judul artikel, atau sekurang-kurangnya bagian artikel yang mengungkapkan keprihatinan atas munculnya roman yang mengusung selera rendah dalam jumlah yang besar. Banjir roman menjadi suatu peristiwa yang merujuk pada sebuah kondisi penerbitan roman-roman di Medan sekitar tahun 1930-an─1940-an. Saat itu di kota Medan dan sekitarnya terbit roman-roman yang berisi kisah-kisah yang kemudian dikenal sebagai roman picisan. Sebenarnya, gejala penerbitan semacam itu telah ada sejak kita menggunakan aksara Latin, terutama dilakukan oleh kalangan peranakan Tionghoa. Namun, tampaknya baru menjadi persoalan penting ketika karangan jenis itu ditulis oleh pengarang-pengarang pribumi dan diterbitkan oleh penerbit partikelir dan dinyatakan oleh beberapa kritikus sastra bahwa jumlah roman-roman tersebut banyak sekali. Bukti bahwa telah terjadi "banjir roman" juga muncul dalam tulisan yang berjudul Volksbibliothek yang mengatakan bahwa "sebagai salah seorang langganan dari Openbare bibliotheek, kita coba berkali-kali membolak-balik katalogus bibliotheek tersebut, akan tetapi akhirnya kita mendapat indruk bahwa 90% dari buku-buku yang tersedia di situ hanya buku-buku roman belaka dan cuma 10%, bahkan barangkali tidak cukup, yang bersangkutan dengan 'ilmu pengetahuan, sejarah, literatur, dan lain-lain."

Pada artikel "Memperkatakan Roman" yang ditulis oleh Riphat S dan dimuat di majalah Pedoman Masjarakat, Nomor 3/VI, 17 Januari 1940 disebutkan bahwa "Benar sekali bahwa di kota Medan sedang hidup dengan suburnya majalah-majalah roman, sehingga ada yang sampai mempunyai oplaag 5.000 eksemplar sekali terbit sedang terbitan tiga kali sebulan jadi 1.500 eksemplar per bulan dan ada pula yang mempunyai oplaag 4.000 dan terbit dua kali sebulan, jadi 8.000 eksemplar sebulan dan ada pula yang lain-lain bahwa yang bakal menerbitkan masih ada tiga lagi". Hal serupa juga muncul pada tulisan berjudul "Di Sekeliling Soal Banjir Roman" yang dimuat dalam majalah Pandji Islam, Nomor 6, 12 Februari 1940. Perdebatan mengenai "banjir roman" sendiri ada dalam beberapa majalah serta surat kabar yang terbit pada masa itu, antara lain Adil di Solo, Mutiara di Yogya, Al Lisan di Bandung, Pandji Poestaka di Betawi, S.K.I.S di Padang Panjang (Minangkabau), dan Pesat di Semarang. Selain itu, persoalan "banjir roman" ini memunculkan sebuah konferensi roman yang dihadiri oleh sebagian besar pengarang roman pada masa itu.

Permasalahan yang menjadi perdebatan utama dalam majalah-majalah tersebut berkisar pada persoalan apakah banyaknya roman yang terbit pada masa itu menandai adanya kemajuan di bidang kesusastraan. Selain itu, yang diperdebatkan berkisar pada pantas dan tidaknya seorang ulama Islam atau pengarang yang berasal dari kalangan Islam menulis sebuah roman yang berisi adegan asyik masyuk. Perdebatan tersebut menghasilkan dua kubu yang berbeda. Kubu pertama merasa bangga akan kehadiran roman-roman tersebut karena menandai bahwa bangsa Indonesia sudah dapat mengungguli bangsa Tionghoa dalam bidang penerbitan roman. Kubu kedua memperingatkan bahwa roman-roman yang ditulis oleh pengarang-pengarang pribumi itu masih jelek mutunya dan cenderung hanya mementingkan nilai komersial.

Kubu kedua juga mengkritik bahwa pengarang-pengarang Islam, apalagi ulamanya tidak pantas mengarang roman karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal tersebut ditentang oleh kubu pertama yang menyatakan bahwa pengusung tema-tema keislaman adalah pengarang-pengarang roman dari kalangan "pujangga surau". Hanya saja kubu pertama mengingatkan juga bahwa pengarang-pengarang Islam itu harus memahami batasan penulisan sebuah roman sebagaimana terdapat dalam tulisan yang berjudul "Di Sekeliling Soal: Banjir Roman di Medan" berikut. "Bukan mereka tidak setuju kepada roman, tetapi tiap-tiap penulis roman haruslah mengingat akan batas-batas kesopanan Timur dan Islam dalam menciptakan bisikan sukmanya dan kesenian bahasanya. Bukan mereka tidak mengakui bahwa tiap-tiap bahasa yang maju mesti melahirkan bahasa yang indah yang satu dari jalannya ialah dengan roman yang banyak pula cabang dan caranya itu, tetapi mereka mengharap supaya kiranya tiap-tiap penulis mesti mengingat: baru di mana tingkatan bangsanya yang akan membaca buku-buku itu, dan harus berusaha supaya tiap-tiap karangannya itu dapat memberi pendirian yang baik kepada bangsanya."

 
PENCARIAN TERKAIT

  • Romance Perjalanan
    Romance Perjalanan merupakan kumpulan sajak karya Kirdjomuljo yang diterbitkan oleh Kantor Pemesanan Buku dan Majalah, Yogyakarta, pada tahun 1955. Kumpulan sajak itu merupakan satu-satunya ...
  • Romansa Kelam di Kampung Ujung
    Judul : Romansa Kelam di Kampung Ujung Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi antologi Tahun Ke-1 No. Tgl.Publikasi OKtober 2016 Provinsi: Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Kabupaten/Kota: ...
  • Romantik Dalam Warung (I)
    Judul : Romantik Dalam Warung (I) Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 47 Tgl.Publikasi 19 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Romantik Dalam Warung (II)
    Judul : Romantik Dalam Warung (II) Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 48 Tgl.Publikasi 26 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Dromana College
    Alamat: 110 Harrisons Rd, Dromana VIC 3936, Australia Australia Telp: +61 3 5987 2805 Pos-el: Laman: www.dsc.vic.edu.au Dromana College yang berada di negara Australia merupakan lembaga ...
  •  
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
     
    Banjir Roman
    Kategori: Gejala Sastra

     

    "Banjir Roman" merupakan judul artikel, atau sekurang-kurangnya bagian artikel yang mengungkapkan keprihatinan atas munculnya roman yang mengusung selera rendah dalam jumlah yang besar. Banjir roman menjadi suatu peristiwa yang merujuk pada sebuah kondisi penerbitan roman-roman di Medan sekitar tahun 1930-an─1940-an. Saat itu di kota Medan dan sekitarnya terbit roman-roman yang berisi kisah-kisah yang kemudian dikenal sebagai roman picisan. Sebenarnya, gejala penerbitan semacam itu telah ada sejak kita menggunakan aksara Latin, terutama dilakukan oleh kalangan peranakan Tionghoa. Namun, tampaknya baru menjadi persoalan penting ketika karangan jenis itu ditulis oleh pengarang-pengarang pribumi dan diterbitkan oleh penerbit partikelir dan dinyatakan oleh beberapa kritikus sastra bahwa jumlah roman-roman tersebut banyak sekali. Bukti bahwa telah terjadi "banjir roman" juga muncul dalam tulisan yang berjudul Volksbibliothek yang mengatakan bahwa "sebagai salah seorang langganan dari Openbare bibliotheek, kita coba berkali-kali membolak-balik katalogus bibliotheek tersebut, akan tetapi akhirnya kita mendapat indruk bahwa 90% dari buku-buku yang tersedia di situ hanya buku-buku roman belaka dan cuma 10%, bahkan barangkali tidak cukup, yang bersangkutan dengan 'ilmu pengetahuan, sejarah, literatur, dan lain-lain."

    Pada artikel "Memperkatakan Roman" yang ditulis oleh Riphat S dan dimuat di majalah Pedoman Masjarakat, Nomor 3/VI, 17 Januari 1940 disebutkan bahwa "Benar sekali bahwa di kota Medan sedang hidup dengan suburnya majalah-majalah roman, sehingga ada yang sampai mempunyai oplaag 5.000 eksemplar sekali terbit sedang terbitan tiga kali sebulan jadi 1.500 eksemplar per bulan dan ada pula yang mempunyai oplaag 4.000 dan terbit dua kali sebulan, jadi 8.000 eksemplar sebulan dan ada pula yang lain-lain bahwa yang bakal menerbitkan masih ada tiga lagi". Hal serupa juga muncul pada tulisan berjudul "Di Sekeliling Soal Banjir Roman" yang dimuat dalam majalah Pandji Islam, Nomor 6, 12 Februari 1940. Perdebatan mengenai "banjir roman" sendiri ada dalam beberapa majalah serta surat kabar yang terbit pada masa itu, antara lain Adil di Solo, Mutiara di Yogya, Al Lisan di Bandung, Pandji Poestaka di Betawi, S.K.I.S di Padang Panjang (Minangkabau), dan Pesat di Semarang. Selain itu, persoalan "banjir roman" ini memunculkan sebuah konferensi roman yang dihadiri oleh sebagian besar pengarang roman pada masa itu.

    Permasalahan yang menjadi perdebatan utama dalam majalah-majalah tersebut berkisar pada persoalan apakah banyaknya roman yang terbit pada masa itu menandai adanya kemajuan di bidang kesusastraan. Selain itu, yang diperdebatkan berkisar pada pantas dan tidaknya seorang ulama Islam atau pengarang yang berasal dari kalangan Islam menulis sebuah roman yang berisi adegan asyik masyuk. Perdebatan tersebut menghasilkan dua kubu yang berbeda. Kubu pertama merasa bangga akan kehadiran roman-roman tersebut karena menandai bahwa bangsa Indonesia sudah dapat mengungguli bangsa Tionghoa dalam bidang penerbitan roman. Kubu kedua memperingatkan bahwa roman-roman yang ditulis oleh pengarang-pengarang pribumi itu masih jelek mutunya dan cenderung hanya mementingkan nilai komersial.

    Kubu kedua juga mengkritik bahwa pengarang-pengarang Islam, apalagi ulamanya tidak pantas mengarang roman karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal tersebut ditentang oleh kubu pertama yang menyatakan bahwa pengusung tema-tema keislaman adalah pengarang-pengarang roman dari kalangan "pujangga surau". Hanya saja kubu pertama mengingatkan juga bahwa pengarang-pengarang Islam itu harus memahami batasan penulisan sebuah roman sebagaimana terdapat dalam tulisan yang berjudul "Di Sekeliling Soal: Banjir Roman di Medan" berikut. "Bukan mereka tidak setuju kepada roman, tetapi tiap-tiap penulis roman haruslah mengingat akan batas-batas kesopanan Timur dan Islam dalam menciptakan bisikan sukmanya dan kesenian bahasanya. Bukan mereka tidak mengakui bahwa tiap-tiap bahasa yang maju mesti melahirkan bahasa yang indah yang satu dari jalannya ialah dengan roman yang banyak pula cabang dan caranya itu, tetapi mereka mengharap supaya kiranya tiap-tiap penulis mesti mengingat: baru di mana tingkatan bangsanya yang akan membaca buku-buku itu, dan harus berusaha supaya tiap-tiap karangannya itu dapat memberi pendirian yang baik kepada bangsanya."

     
    PENCARIAN TERKAIT

  • Romance Perjalanan
    Romance Perjalanan merupakan kumpulan sajak karya Kirdjomuljo yang diterbitkan oleh Kantor Pemesanan Buku dan Majalah, Yogyakarta, pada tahun 1955. Kumpulan sajak itu merupakan satu-satunya ...
  • Romansa Kelam di Kampung Ujung
    Judul : Romansa Kelam di Kampung Ujung Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi antologi Tahun Ke-1 No. Tgl.Publikasi OKtober 2016 Provinsi: Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Kabupaten/Kota: ...
  • Romantik Dalam Warung (I)
    Judul : Romantik Dalam Warung (I) Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 47 Tgl.Publikasi 19 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Romantik Dalam Warung (II)
    Judul : Romantik Dalam Warung (II) Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 48 Tgl.Publikasi 26 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Dromana College
    Alamat: 110 Harrisons Rd, Dromana VIC 3936, Australia Australia Telp: +61 3 5987 2805 Pos-el: Laman: www.dsc.vic.edu.au Dromana College yang berada di negara Australia merupakan lembaga ...
  • Romance Perjalanan
    Romance Perjalanan merupakan kumpulan sajak karya Kirdjomuljo yang diterbitkan oleh Kantor Pemesanan Buku dan Majalah, Yogyakarta, pada tahun 1955. Kumpulan sajak itu merupakan satu-satunya ...
  • Romansa Kelam di Kampung Ujung
    Judul : Romansa Kelam di Kampung Ujung Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi antologi Tahun Ke-1 No. Tgl.Publikasi OKtober 2016 Provinsi: Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Kabupaten/Kota: ...
  • Romantik Dalam Warung (I)
    Judul : Romantik Dalam Warung (I) Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 47 Tgl.Publikasi 19 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Romantik Dalam Warung (II)
    Judul : Romantik Dalam Warung (II) Bahasa : Indonesia Data Publikasi: Publikasi majalah Tahun Ke-VII No. 48 Tgl.Publikasi 26 Desember 1953 Provinsi: Provinsi Sumatera Utara Kabupaten/Kota: Kota.Medan
  • Dromana College
    Alamat: 110 Harrisons Rd, Dromana VIC 3936, Australia Australia Telp: +61 3 5987 2805 Pos-el: Laman: www.dsc.vic.edu.au Dromana College yang berada di negara Australia merupakan lembaga ...
  •  
     
     
    © 2024    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa